Tradisi Nyadran di Brebes Tetap Ada Meski Ditengah Pandemi
Seni dan Budaya

Tradisi Nyadran di Brebes Tetap Ada Meski Ditengah Pandemi 

Kabupaten Brebes yang merupakan kabupaten terujung Provinsi Jawa Tengah dan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Barat ini tak luput dari serangan Covid-19. Hingga tulisan ini ditulis, Kabupaten yang memiliki kasus pertama positif Covid-19 pada 5 Mei 2020 hingga kini menyentuh angka 28 orang positif, 101 PDP, dan 1870 ODP berdasarkan informasi dari situs resmi Covid-19 milik pemerintah Kabupaten Brebes, corona.brebeskab.go.id.

Hal itu menyebabkan Kabupaten Brebes masuk ke dalam wilayah zona merah Covid-19. Apalagi baru-baru ini santer berita mengenai warga Brebes positif Covid-19 yang kabur dari rumah sakit di Jakarta mudik ke Brebes. Dilansir dari media detik.com Pria berinisial S (44) dilaporkan kabur saat menjalani perawatan di rumah sakit di Kemayoran, Jakarta pada 20 Mei lalu. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang ini tiba di Brebes pada 22 Mei pukul 07.00 WIB.

Hal itu tentu menjadi penyumbang kasus tambahan Covid-19 di Brebes, pasalnya selama di kediamannya pria tersebut sudah berinteraksi dengan anggota keluarga dan juga para tetangga yang sudah jelas nantinya akan menjadi penyuplai data kasus Covid-19 di Brebes, apalagi ditengah lebaran ini perputaran manusia sangat cepat dan sulit terkendali.

Perihal kasus Covid-19 di Brebes yang kian hari kian meningkat, sekaligus pesebarannya dibarengi dengan hari raya Idul Fitri ternyata tidak membuat jera warganya untuk tetap menghadirkan berbagai ritual lebaran meski ditengah pandemi seperti sekarang ini. Adalah tradisi Nyadran yang setiap lebaran tiba tidak pernah absen dilakukan oleh masyarakat Brebes. Usut punya usut memang tradisi ini sulit dihilangkan, dan akan terus ada sebagai warisan leluhur zaman terdahulu.

Baca juga: Lebaran Tiba, Budaya Bersalaman Hilang Karena Corona? 

Nyadran Sebagai Tradisi Masyarakat Brebes.

Seperti yang dilansir dari berbagai sumber, tradisi Nyadran berasal dari bahasa Sansekerta, Sraddha yang artinya keyakinan. Secara umum Nyadran diartikan sebagai kegiatan bersih-bersih makam yang dilakukan secara bersama-sama, dilakukan oleh masyarakat Jawa yang tinggal di Pedesaan. Tradisi ini sudah ada sejak zaman Hindu-Budha sebelum ajaran Islam masuk ke tanah Jawa. Yang kemudian sejak abad ke-15 para sunan Walisongo menggabungkan tradisi dalam bentuk dakwah agar ajaran Islam mudah diterima. Sehingga kegiatan ini dipahami sebagai simbolisasi hubungan antara seseorang dengan leluhur.

Namun, tradisi Nyadran oleh masyarakat Brebes dimaknai secara turun-temurun sebagai tradisi berkunjung ke saudara yang lebih tua. Melalui kunjungan tersebut, si pengunjung harus membawa buah tangan yang bersifat wajib yaitu gula dan teh sebagai simbol dari tradisi Nyadran itu. Selain gula dan teh dilengkapi juga dengan kue-kue yang jenisnya disesuaikan dengan kemampuan pengunjung. Nyadran sendiri sudah menjadi ritus dan budaya yang dijalankan oleh hampir semua orang yang telah berkeluarga terhadap saudara yang lebih tua dengan makna ungkapan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Allah selama setahun.

Tradisi Nyadran Ditengah Pandemi

Seperti yang terjadi di desa Dukuhuturi, Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes dan hampir seluruh tempat di Brebes, tradisi Nyadran tetap ada meski ditengah pandemi seperti sekarang ini. Tak bisa dipungkiri dalam menjalankan tradisi Nyadran tersebut pasti akan terjadi interaksi diantara kedua keluarga baik yang berkunjung maupun yang dikunjungi, terjadi ritual jabat tangan yang menurut Anthony Fauci pakar penyakit menular mengklaim jabat tangan sebagai senjata penluaran penyakit, apalagi virus Corona merupakan penyakit yang salah satu penlurannya melalui sentuhan tangan yang terindikasi virus.

Baca juga: Siapkah Brebes Dijadikan Kawasan Industri? 

Tradisi Nyadran di Brebes ini memang sulit untuk dihilangkan, pasalnya di kesempatan Nyadran menjadi momen yang tepat untuk bertemu sanak famili yang jarang bertemu lantaran merantau ke daerah lain sehingga hanya bisa bertemu di momen lebaran dan pada kesempatan Nyadran. Alih-alih demikian, justru tradisi Nyadran malah membawa bencana, pasalnya kepulangan kerabat sebagai pelaku tradisi Nyadran tersebut banyak diantaranya pemudik dari daerah zona merah.

Jangan-jangan tradisi Nyadran ini bisa menjadi penyumbang bertambahnya kasus covid-19 di kabupaten Brebes, sebab tradisi ini dilakukan bukan hanya pada satu keluarga melainkan dari keluarga satu ke keluarga lain, mengingat tradisi ini hampir seluruh masyarakat di Brebes melakukannya, sehingga perputaran manusia sangat cepat di momen ini. Bayangkan saja jika satu orang terindikasi Covid-19 dikunjungi oleh kerabatnya kemudian berjabat tangan dan melakukan interaksi, setelahnya berkunjung ke tempat lain dan menjadi carrier lalu bertemu orang lain dari pihak yang berbeda dan seterusnya hal itu terjadi berkali-kali, sulit dibayangkan.

Pada akhirnya, tradisi Nyadran memiliki filosofis yang baik, yaitu untuk menjaga silaturahmi antar saudara, berbagi rezeki yang telah diperoleh selama setahun, sekaligus menjaga ritus dan budaya yang telah tumbuh bertahun-tahun. Yang menjadi poin penting adalah tradisi Nyadran hilang maknanya ketika “memaksakan” kehendak ditengah pandemi yang kian hari kian sulit diikuti alurnya, sehingga tradisi Nyadran ditengah pandemi mengalami degradasi nilai antara mempertahankan tradisi atau memaksakan tetap nampak sebagai masyarakat terlimpah rezeki biarpun ditengah pandemi.

Related posts