Toleransi Beragama Adalah Kunci Keutuhan Bernegara
Opini

Toleransi Beragama Adalah Kunci Keutuhan Bernegara 

Keanekaragaman itu bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Dari perbedaan-perbedaan itu seharusnya kita memiliki tujuan dan cita-cita perjuangan yang sama, yaitu mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata baik secara material dan spiritual tentram dan damai seperti apa yang tertuang dalam Pancasila.

Senada dengan apa yang ditulis oleh Ananda Devi dalam buku berjudul “Toleransi Beragama”, pancasila sebagai dasar filosofi negara yang diimplementasikan dalam UUD 1945. Apalagi situasi negara kita sedang menata kehidupan yang lebih baik, melakukan reformasi disemua bidang menuju Indonesia Baru yang demokratis adil dan makmur serta berkedaulatan rakyat. (Ananda: 2009)

Toleransi berarti menghargai dan menghormati perbedaan yang ada. Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai suku, agama, bahasa, dan budaya sehingga faktor inilah yang menjadi dasar dari semboyan yang Indonesia miliki yakni Bhineka Tunggal Ika. Namun perbedaan itu bisa saja menimbulkan gesekan-gesekan mengingat masyarakat Indonesia yang majemuk.

Indonesia memiliki 6 agama yang diakui negara, tapi tidak ada dalam sejarah Indonesia perang antar agama. Masyarakat yang saling menghargai dan mengasihi menjadi benteng kekuatan Indonesia. Indonesia juga memiliki ratusan suku dan budaya yg beraneka ragam. Watak dan adat setiap suku tidak sama dengan yang lain. Tidak hanya itu, dalam satu lingkup beragama contohnya islam, banyak aliran dan ormas yang beragam, dari cara beribadah sampai bersosial kita tidak sama, tapi hubungan antara satu sama lain tidaklah luntur. Dari semua itu, tersimpan dalam 5 sila yang menjadi dasar negara Indonesia.

Baca juga: Pasal 36, Bena, dan Indonesia 

Wujud toleransi sudah menjamur di lingkungan masyarakat Indonesia. Sudah lazim di suatu lingkungan atau bahkan keluarga, mereka menjalankan ibadah yang diyakini asal tidak mengganggu umat beragama lain. Tak jarang mereka saling merayakan hari-hari besar agamanya bersama orang yang mereka kasihi meski mereka berbeda keyakinan. Kata pepatah, walaupun kita bukan saudara se iman ataupun se kebudayaan tapi kita tetap saudara se kemanusiaan.

Sebagai sebuah gagasan dan nilai, kebebasan beragama (religious freedom/ liberty, hurriyya diniyya, liberté de conscience) telah lama menjadi perhatian utama Djohan Effendi baik sebagai intelektual publik maupun aktifis pluralis di Indonesia. Dalam laporan kebebasan beragama dan berkeyakinan di dunia (Freedom of Religion and Belief: a World Report, 1997) dimana Djohan Effendi salah satu peneliti dan penulisnya untuk Indonesia, diakui bahwa belum ada kesepakatan mengenai norma-norma yang mengatur kebebasan berkeyakinan di seluruh dunia setelah Deklarasi Universal HAM tahun 1948. (Kebebasan Beragama A chapter published in a volume entitled Merayakan Kebebasan Beragama (Celebrating Religious Freedom), ed. Elza Peldi Taher, Publishers: Indonesian Conference on Religion and Peace and KOMPAS, Jakarta, 2009)

Pancasila sila pertama adalah “Ketuhanan yang Maha Esa.” Oleh sebab itu masyarakat Indonesia dibebaskan memilih salah satu agama yang diakui oleh Indonesia, yakni Islam, Budha, Hindu, Kristen Protestan, Kristen Katolik, dan Tionghoa. Di dalam UUD 1945 ada beberapa pasal tentang kebebasan beragama, yaitu Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (“UUD 1945”): “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”

Pasal 28E ayat (2) UUD 1945 juga mengatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Selain itu dalam Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 juga diakui bahwa hak untuk beragama merupakan hak asasi manusia. Selanjutnya Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 juga menyatakan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama.

Akan tetapi, hak asasi tersebut bukannya tanpa pembatasan. Dalam Pasal 28J ayat (1) UUD 1945 diatur bahwa setiap orang wajib menghormati hak asasi orang lain. Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 selanjutnya mengatur bahwa pelaksanaan hak tersebut wajib tunduk pada pembatasan-pembatasan dalam undang-undang. Jadi, hak asasi manusia tersebut dalam pelaksanaannya tetap patuh pada pembatasan-pembatasan yang diatur dalam undang-undang.

Baca juga: Tantangan Pendidik Hadapi Digitalisasi Pendidikan di Masa Pandemi 

Contoh saja Dusun Segaran Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto memiliki dua agama dengan persentase penduduk yang memeluk agama Islam dan Kristen adalah 70%: 30%. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui nilai-nilai dasar yang menjadi landasan terbentuknya toleransi antar umat beragama, (2) mengetahui bentuk toleransi antar umat beragama Islam dan Kristen di Dusun Segaran Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto. (Nisvilyah: 2013)

Wujud nyata toleransi beragama terdapat di berbagai daerah di Indonesia seperti contohnya di daerah Jawa Tengah. Di Pertapaan Bunda Pamersatu, Gendono Kabupaten Semarang para warga berkumpul menyambut kedatangan Gubernur Jawa Tengah yang datang jelang perayaan natal 2019 yakni Bapak Ganjar Pranowo. Tampak para ibu membantu para suster dalam menyambut datangnya natal. Tidak hanya itu di Gereja tersebut juga membangun beberapa lapangan pekerjaan untuk masyarakat disana seperti pabrik susu keefir, peternakan sapi, pabrik kue-kue kering dan lain sebagainya. Mereka tampak hidup rukun tidak mengenal perbedaan yang mereka miliki yang ada hanyalah hubungan antar manusia.

Terjadi di Jawa Tengah juga yakni di Gedung Perkoempoelan Sosial Rasa Dharma atau Boen Hian Tong di Jalan Gang Pinggir di daerah Pecinan Semarang. Di lokasi tampak dua altar abu-abu di tengah aula yang di dalamnya terdapat beberapa patung dewa-dewa di altar lantai satu terdapat 25 shinci atau papan arwah. Hal yang menarik diantara 25 papan arwah tersebut bertuliskan KH. Abdurrahman Wahid atau masyarakat biasa menyapa Gus Dur. Hal tersebut adalah bentuk penghormatan untuk Presiden ke tiga Indonesia bagi etnis Tionghoa. Gus Dur memang berperan besar menghidupkan kembali budaya-budaya Tionghoa yang sempat dilarang di Orde Baru. Tidak sampai disitu beberapa pengurus klenteng yang beragama Islam, mereka hidup rukun menghidupkan budaya Tionghoa di Pecinan Semarang.

Dan masih banyak lagi contoh toleransi agama di Indonesia. Akulturasi budaya adalah hal yang indah tidak mengenal perbedaan yang dimiliki akan tetapi kita adalah satu yakni Indonesia. Hal-hal positif tentang menghargai perbedaan sudah ada sejak nenek moyang dulu, dan terciptalah toleransi beragama yang sangatlah indah di masa sekarang.

Daftar Pustaka

-Devi, Ananda. 2009. Toleransi Beragama. Aprin finishing.

-Kebebasan Beragama A chapter published in a volume entitled Merayakan Kebebasan Beragama (Celebrating Religious Freedom), ed. Elza Peldi Taher, Publishers: Indonesian Conference on Religion and Peace and KOMPAS, Jakarta, 2009.

-https://m.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/cl6556/ham-dan-kebebasan-beragama-di-indonesia/.

-Nisvilyah, L. (2013). Toleransi antarumat beragama dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa (studi kasus umat Islam dan Kristen Dusun Segaran Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto). Kajian Moral dan Kewarganegaraan, 2(1), 382-396.

Related posts