Ternyata Cinta Itu Investasi
Ndopok

Ternyata Cinta Itu Investasi 

Setelah beberapa pekan, tulisan-tulisan rembes dipenuhi dengan kabar dan berita mengenai pandemi COVID-19, rasa-rasanya dunia dan seisinya hanya sebatas itu-itu saja belakangan ini. Bukan bebas khawatir lagi tapi stres juga dengan bahasan yang itu-itu melulu. Semua media hampir tiap hari memberitakan perihal Covid-19, berita bahagia nyaris tenggelam dan tidak ada. Huft.

Berangkat dari latar belakang tersebut, rasanya Rembesmin perlu juga memberikan stimulus dalam layar permediaan untuk sedikit menyegarkan otak agar lagi-lagi tidak membaca dan membayangkan Covid-19 dan segala stigma yang membuntutinya.

Bicara perihal cinta kalau dipikir-pikir seperti berinvestasi uang atau emas bukan si? Bukan-bukan, tapi lebih tepatnya proses untuk ditawarin berinvestasi. Kok bisa gitu ya?

Baca juga: Perantau yang Pulang Kampung Itu Pengungsi, Bukan Pemudik!

Mari, dianalisis. Ketika proses PDKT dan pacaran, kamu akan ditawari dengan keuntungan-keuntungan yang besar ketika kamu mau berinvestasi, kalau kamu kurang berpengalaman dalam investasi dan ceroboh, ya kamu bakal rugi. Tapi sebaliknya, ketika kamu penuh analisis dengan cerdas dan baik kamu akan untung.

Investasi dengan ceroboh itu apa maksudnya? Termakan dengan iming-iming yang tidak masuk akal, sudah tau bakal rugi tapi terus menerus menanam saham. Tidak pikir lagi, apa lisensinya aman, terjamin dan sebagainya.

Persis sekali kalau dianalogikan dengan cinta, awalnya tergiur karena cinta, tampan, pintar dan nyaman. Tapi lupa analisis akhirnya lagi-lagi kamu bakal rugi.

Sekarang investasimu sudah sampai tahap mana dalam cinta? Investasi emosi ke pasangan kamu dan berharap pasanganmu akan melakukan hal yang manis tapi kamu tidak kunjung mendapatkannya? Atau investasi jatuh cinta banget tapi kamu tidak mendapat apa yang semestinya?

Nah itu yang namanya investasi ceroboh, sudah tau kalau investasi goal nya harus untung, kalau nyatanya rugi, harus cepat-cepat cari cara investasi lain atau bahkan cari tempat untuk berinvestasi yang lebih menguntungkan.

Terus analisis yang seperti apa dong biar kiranya dalam cinta tidak rugi lagi dan lagi? Mulai dengan analisis perusahannya aman tidak? Dilindungi oleh negara atau tidak? Pergerakan uangnya kira-kira seperti apa? Kemudian apa saja yang faktor yang membuat naik-turunnya harga.

Baca juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Suara Dentuman Aneh, Cara Alam Mengingatkan Manusia?

Sama banget dengan investasi cinta, liat bagaimana cara pandangnya, bagaimana kebiasaan di rumah, bagaimana cara mempertahankan obrolan, tertariknya dengan apa, bagaimana dia memperlakukan orang. Nah masa proses begitu bisa ditempuh sehari dua hari. Ibarat kata, PDKT kilat padahal belum tau semuanya aman. Tapi gimana dong kalau ternyata aman dan terkendali? Atau kalau pada akhirnya, dia bisa membuat kamu tidak insecure dan bisa menghadirkan rasa aman, Nah berarti siap untuk investasi cinta besar-besaran.

Tapi kalau ternyata dalam masa analisis investasi, tidak memenuhi standard lisensi? Ya berarti hanya sebatas teman kerja atau ngobrol saja.

Kamu berhak memilih, dan jatuh cinta kok sebatas enak diajak ngobrol atau bagus fisik? Banyak faktor yang mempengaruhi untuk jatuh cinta ke seseorang. Investasi sewajarnya, kepada orang yang tepat. Untung atau rugi itu masalah nasib. Tapi setidaknya kita punya pilihan untuk memilih yang paling tidak merugikan.

Namun pada akhirnya, bicara soal cinta dengan orang yang sedang jatuh cinta harus siap menelan rasa pahit. Kerrr

Related posts