Syair Kupu-kupu Sebagai Contoh Digitalisasi Manuskrip
Opini

Syair Kupu-kupu Sebagai Contoh Digitalisasi Manuskrip 

Budaya merupakan kepanjangan dari budi dan daya. Dengan adanya kemampuan budi dan daya tersebut, manusia bisa mengekspresikan dirinya melalui berbagai cara salah satunya adalah keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa ada empat poin: yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan adanya keterampilan berbahasa, manusia mampu produktif untuk menghasilkan produk budaya yang diekspresikannya.


Kita kembali kepada masa lampau, dengan adanya teknologi serba sederhana dan terbatas manusia mampu berimajinasi dengan alam sekitar, dengan perasaannya, dengan fenomena di sekitarnya. Karena ada imajinasi, manusia bisa mengekspresikan sebuah karya tulisan tangan di lembaran kertas. Kontekstualitas tulisan tersebut merupakan penghayatan dan pengamatan berdasarkan indrawi yang dialaminya pada masa lampau. Dengan demikian penjelasan tersebut dinamakan manuskrip dalam kamus besar Bahasa Indonesia.

Baca juga: Jepang dan Kemajuan yang Patut diacungi Jempol


Muhammad Nida’ Fadlan, M. Hum seorang dosen filologi UIN Jakarta menyatakan bahwa manuskrip merupakan bentuk keseluruhan naskah kuno, kertas apa yang digunakannya, aksara apa yang ditulisnya, siapa penulisnya, berapa ukuran kertasnya. Beda halnya dengan teks yang lebih mengarah ke konten dari isi tulisan tersebut. Konten dari tulisan tersebut bisa berupa apa saja, seperti politik, sosial, sastra, agama, dan lain sebagainya.
Manuskrip tersebut sudah seharusnya dirawat, supaya tidak punah. Bagaimana pun juga hal tersebut adalah warisan budaya yang perlu dijaga. Budaya adalah identitas. Khususnya budaya nusantara yang sangat banyak sekali manuskrip yang sudah ditemukan atau pun belum ditemukan untuk segera dirawat.

Langkah yang efektif adalah digitalisasi manuskrip. Maksudnya adalah manuskrip yang tadinya berbentuk fisik dialihkan ke dalam bentuk dokumen digital. Tujuan digitalisasi adalah supaya memperpanjang usia manuskrip tersebut. Adapun berfungsi untuk mengenalkan budaya kepada generasi berikutnya, biasanya dengan motif penelitian, pendidikan, dan juga kebanggan tersendiri bagi warisan budaya nenek moyang. Banyak lembaga yang sudah melakukan digitalisasi manuskrip, penulis memberikan lembaga yang sudah melaksanakan digitalisasi manuskrip seperti Perpustakaan Nasional, British Library, Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara), dan Dream Sea.

Baca juga: Terlatih Patah Hati

Penulis mendapatkan manuskrip dari website Staatsbibliothek zu Berlin berupa Syair Kupu-kupu sebagai contoh digitalisasi manuskrip. Deskripsi mengenai syair kupu-kupu tersebut menggunakan aksara Arab dengan bahasa Melayu Jawi dan juga ditemukan di Nusantara. Dicetak dengan satu jilid menggunakan tinta merah dan hitam, serta ada 45 halaman, ukuran kertas seluas 21 x 17 cm. Syair tersebut terdiri dari 494 syair ganda, yang mana empat syair tunggal masing-masing sajak lengkap atau 1 dan 3 serta 2 dan 4. Teksnya adalah dongeng. Isi teks tersebut adalah cerita tentang kupu-kupu yang sangat cantik yang meminum nektar dari banyak bunga hingga bunganya layu. Kupu-kupu pertama tentu saja jatuh cinta dengan belalang, tetapi ia tidak berani mendekat karena kakaknya yang waspada. Oleh karena itu dia harus menahan kerinduannya sampai benar-benar kurus.


Dapat disimpulkan bahwa peradaban manusia masa lampau menghasilkan produk budaya tulisan yang disebut manuskrip, khususnya manuskrip di wilayah nusantara. Dengan adanya produk budaya tersebut, menunjukkan bahwa manusia bisa mengekspresikan perasaannya. Untuk memperpanjang umur manuskrip, dilakukan langkah digitalisasi manuskrip. Sebagai contoh syair kupu-kupu adalah digitalisasi manuskrip yang sangat bermanfaat bagi generasi berikutnya untuk kebutuhan pendidikan dan penelitian ataupun kebutuhan yang lain.

Biografi Penulis

Robby Rinaldi lahir pada 1998 di Tangerang. Ia adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Robby merupakan seorang yang menyukai dunia literasi terutama kajian ilmu budaya. Hal itu terbukti puisi-puisi ia pernah terbit di Tangsel Pos, Antologi Malam Puisi Tangerang, Festival Literasi Tangsel, Antologi Puisi Purwakarta, Antologi Puisi Ramadan Bersama Penyair Nusantara, Jurnal Rusa Besi.

Opini

Syair Kupu-kupu Sebagai Contoh Digitalisasi Manuskrip

Related posts