Sungguh Malang Nasib Perantau Sekarang Ini
Ndopok

Sungguh Malang Nasib Perantau Sekarang Ini 

Menjadi anak rantau seperti Rembesmin ini kadangkala merasa rindu tak berkesudahan jika kangen akan kampung halaman tak jadi kenyataan. Di saat kondisi seperti sekarang ini, menjadi dilematis ketika harus bertahan di rantau dengan melewatkan libur lebaran atau nekat pulang kampung di tengah badai virus yang tak kunjung reda ini.

Meski tak sampai menangis di kostan Rembesmin sangat sedih dan shock ketika mendengar kabar berbagai daerah memberlakukan karantina lokal atau biasa akrab kita sebut lockdown. Itu artinya perjalanan dengan kendaraan umum meski akan terganggu walaupun kabarnya tidak menutup jalan nasional dan provinsi.

Selain kabar karantina lokal yang sudah diterapkan oleh Kota Tegal dan Kota Tasikmalaya misalnya, persoalan lainnya adalah dihentikannya semua moda transportasi umum seperti bus dan kereta. Lalu apakah kita harus menunggu sampai kondisi benar-benar aman? Baru kita bisa pulang kampung? Atau seperti apa?

Bak sudah jatuh tertimpa tangga pula mungkin ungkapan itu sudah cocok dengan kondisi anak rantau sekarang. Setelah harus mengisolasi diri dengan peringatan social distance selama 14 hari, kini pil pahit itu memang harus kita telan, stress di kost dan dihimbau untuk tidak pulang kampung, meski dengan hati yang berat. Ke semuanya itu tentu tidak ada hal yang paling diutamakan selain keselamatan diri sendiri dan orang lain, termasuk orang yang kita cintai yaitu keluarga.

Setelah Pakde Jokowi memberlakukan kebijakan pembatasan sosial skala besar dan pendisiplinan penerapan penjarakan fisik pada hari senin kemaren tentu hal ini menjadi kemungkinan besar para perantau akan lebih sulit untuk pulang kampung saat ini atau mungkin akan tidak bisa sama sekali.

Berbicara pulang kampung pada waktu-waktu sekarang ini tidak hanya mempertimbangkan tingkat stress yang kian hari makin tinggi setelah berlama-lama di kost me lockdown diri, tapi momen kali ini bertepatan dengan mudik lebaran.

Baca juga: Brebes Darurat Covid-19; Tenaga Medis Perlu Bantuan

Momen mudik lebaran tentu bukan hanya sekedar ritual rutin perayaan Idul Fitri saja tetapi mudik lebaran jadi ajang silaturahmi, kumpul-kumpul keluarga sampai reunian sekolah SD sampai SMA, memang gak bisa terbayang syedih nya jika hal itu tidak bisa kita lakukan di tahun ini.

Berbeda cerita jika Rembesmin dulu berada di pesantren dan tak mudik lebaran, mungkin sedihnya tidak akan se sedih tahun ini jika mimpi buruk itu terjadi. Bayangkan saja, sudah tidak pulang tetep di kost pula. Tidak ada yang special sama sekali, yang ada malah sedih melihat kondisi Indonesia seperti sekarang ini.

Jika kami para rantau nekat dan berfikir bodo amat dengan lingkungan sekitar tentu pulang menjadi pilihan terbaik. Simpel nya gini kita di rantau stress, uang menipis, cari makan harus keluar kost dan pada akhirnya ketemu orang-orang yang kita tidak tahu dia berpotensi menularkan atau tidak. Kan sama saja bohong. Di fikir-fikir yaa lebih baik di rumah kan, kebersihan terjaga tanpa harus memikirkan hari ini cari tempat makan yang aman dimana. Lalu bagaiamana dengan perantau yang mencari nafkah di kota? Tentunya akan lebih stress  dengan kondisi seperti sekarang ini.

Tapi yang jadi masalah kalaupun Rembesmin dan teman-teman rantau disini nekat pulang sangat bisa kami menjadi carrier virus corona dan menularkan ke semua orang-orang yang tidak ‘bersalah’. Tentu kita semua tidak mau jika di momen bulan ramadhan dan lebaran ini harus melihat orang-orang disekeliling kita malah menjadi sakit dan lebih parahnya positif corona. Naudzubillah.

Intinya Kami para perantau disini tentu berusaha semaksimal mungkin untuk tidak pulang kampung. Tapi kalaupun terpaksa dengan berbagai usaha ternyata tetap tidak memungkinkan, tolonglah kita juga butuh pengertian dari para masyarakat semua. Kami bukannya ngeyel atau tak saying orang di rumah. Tapi keadaan lah yang membuat kita terpaksa untuk pulang kampung.

Baca juga: Gerakan Wong Brebes Lawan Corona, Berikan Donasi Terbaikmu

Related posts