Soeharto, Orde Baru dan Gaya Kepemimpinan
Tokoh

Soeharto, Orde Baru dan Gaya Kepemimpinan 

Siapa yang tidak mengenal Soeharto, sosoknya begitu kontroversial di kalangan masyarakat Indonesia, ditakuti pada masanya. Soeharto adalah Presiden Republik Indonesia kedua, namanya tidak asing lagi di telinga kita dengan gambarnya yang melambaikan tangan dan menyapa “Piye Kabare Enakan Jamanku Toh”.

Soeharto laksana seorang raja di Indonesia memimpin selama 32 tahun, waktu yang sangat lama. Setelah meletusnya peristiwa pemberontakan gerakan 30 September 1965, karir dan namanya terus mentereng, puncaknya setelah Supersemar atau surat perintah sebelas maret berhasil menekan Presiden Soekarno turun dari kursi presiden.

Dari Soeharto Kita belajar bahwa dibalik kesuksesan suami ada peran istri, Istri Soeharto yang bernama Ibu Tien berperan besar dalam pengambilan keputusan Soeharto. Terbukti ketika Ibu Tien wafat pada tahun 1996, gerak langkah politik Soeharto mudah terbaca dan tidak punya kewibawaan lagi.

Baca juga: Gus Dur Sang Perekat Toleransi di Indonesia

Dari Soeharto kita juga belajar bahwa ketika perut lapar mulut akan berbicara, tapi ketika kenyang akan diam. Ya, pada masa Soeharto yang kita kenal dengan nama Orde Baru, harga sembilan bahan makanan pokok murah, sehingga rakyat tidak menjerit, tetapi ketika terjadi krisis moneter, harga kebutuhan pokok naik drastis, dan di seluruh penjuru Indonesia terjadi demonstrasi besar-besaran menuntut  Soeharto mundur,

Kepemimpinan Soeharto memberikan ketakutan, bagaimana tidak, kebebasan bersuara dibungkam, lawan-lawan politik Soeharto banyak yang dipenjarakan, para Soekarnois banyak yang dikucilkan, pelanggaran HAM terjadi di mana-mana.

Semboyan lepas landas yang selalu digaungkan oleh Soeharto pada akhirnya hanyalah tinggal kenangan. Satu kesalahan fatal dari Soeharto terletak pada KKN nya (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang dampaknya hingga saat ini masih terasa. Orang-orang dekat Soeharto banyak menjabat posisi penting di pemerintahan, anak-anaknya hidup bergelimang harta.

Baca juga: Keistimewaan Khadijah Al-Kubra yang Membuat ‘A’ishah Ra. Cemburu Berat

Kepemimpinan Soeharto juga penuh dengan pencitraan, seperti film Janur Kuning yang menceritakan kepahlawanan Soeharto dalam persitiwa serangan umum 1 Maret, padahal fakta sebenarnya yang berperan besar dalam peristiwa serangan umum 1 Maret adalah Jenderal Soedriman, Sri Sultan Hamangkubowoni IX, Kolonel Bambang Soegeng. Begitu pun dengan film G 30/S PKI, menceritakan kepahlawanan Soeharto.

Bicara kepemimpinan Soeharto tidak akan ada habisnya, tapi hendaknya jadikanlah kita untuk selalu mengingat dari masa lalu, karena dari masa lalulah kita akan belajar untuk hari ini dan untuk masa depan. Dari Soeharto kita belajar bahwa jangan selalu menganggap benar seorang pemimpin, hal inilah yang terjadi pada Soeharto, orang-orang di sekililing Soeharto tidak mengingatkan ketika Soeharto berbuat kesalahan atau istilahnya tidak mengingatkan Soeharto untuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar yaitu mencegah perbuatan keji dan munkar.

Pada akhirnya kritik jadi sesuatu yang tabu di zaman Soeharto, para pejabat yang diangkat olehnya selalu menceritakan keadaan atau kondisi negeri ini yang baik-baik saja tanpa menceritakan kondisi yang sebenarnya. Hal inilah yang harus dijauhi oleh pemimpin-pemimpin di negeri ini baik Presiden, Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa, bahkan Ketua RT dan Ketua RW. Karena dengan jalan demikianlah bangsa ini akan benar benar menjadi bangsa yang maju dan besar jika para pemimmpinya mengurus rakyatnya bahu membahu membangun bangsa dan negara.

Related posts