Senandung Puisi Zahra I
Seni dan Budaya

Senandung Puisi Zahra I 

Zahraku tercinta,

            Semoga kita tetap bersama, Menuliskan kisah sejarah hidup kita.

Kau bagaikan purnama di mataku. Kau bagian dari hidupku. Dan hidupmu bagian dari kehidupanku.

            Kekasih, satu hari saja tanpamu bagaikan berbulan-bulan aku merasa sedang memendam rindu.

            Dewiku, di manapun aku berada, aku selalu mengingatmu. Kau mengetahui betapa aku sangat mencintaimu.

            1000 ciuman untukmu.

            Sambil tersenyum Zahra mengingat-ingat dua belas tahun lalu. Masa di mana mereka masih bersama. Isi surat di atas tak sengaja ia temukan saat merapihkan buku-buku kuliahnya dulu di Al-Azhar, Kairo, Mesir.

            “Sayang, aku berangkat lebih awal hari ini.”

             Lamunanya buyar,

            “Iya bi, Abi hati-hati ya di jalan.”

            “Aku makan di restoran dekat kantor saja.”

            “Padahal sudah ku siapkan sarapan pagi ini.”

            “Maafkan aku sayang, untuk hari ini saja.”

            Lelaki itu bernama Malik Ba’ats. Lelaki yang tak pernah ia cintai. Lelaki yang tak pernah ia inginkan. Tetapi takdir berkata lain, dia jua yang menjadi suami sahnya.

            Kembali ia merapihkan buku-buku yang sudah tak terawat, berdebu, dan berantakan karena tak lagi di jamah sesaat setelah suaminya pergi meninggalkan rumah. Dari ratusan tumpukan dokumen-dokumen yang ada, surat itulah dokumen paling berharga, kenangan indah yang dituliskan, keindahan yang pernah terukirkan.

            Surabaya, Rabu 10 Juli 2019

“Kakek, kau tahu rumah siapa itu?” sambil menunjuk rumah yang di maksud.

            “Hmmm, ya aku tahu.”

            “Tolong ceritakan padaku mengenai perempuan yang saban pagi duduk di teras rumah sambil menangis itu.”

            “Untuk apa anak muda?”

            “Setiap aku melewati rumah itu, jantungku tak tahu mengapa berdetak sangat kencang dan kau tahu kek? Hampir saja meledak ketika melihatnya lagi-lagi dia menangis. Setiap pagi.”

            “Siapa yang kau maksud?”

            “Wanita itu kek. Tak tahulah aku namanya.”

            “Darimana asalmu nak?”

            “Blora.”

            Tatapan mata kakek tak seperti biasa, tajam mengintimidasi.

            “Benarkah kau dari Blora, Nak?”

            “Ya, aku berasal dari Blora.”

            Sambil menghisap rokoknya, kakek itu minta di buatkan teh hangat.

            “Ndo, teh hangatnya satu. Kau mau nak?”

            “Dengan sedikit gula.”

            “Dua teh hangatnya, Ndo. Yang satu dengan sedikit gula.”

            “Sabar yo pak, airnya baru akan dimasak.” Kata ibu penjaga warung makan.

            Sambil menunggu teh hangat yang sedang dibuatkan, ia memulai bercerita,

            “Rumah yang berada di dekat tugu pahlawan menghadap jalan raya bercat putih yang selalu sepi itulah rumahnya, Zahra Syifa putri Habib Idrus yang menanggung luka bertahun-tahun karena korban perjodohan.”

            Terkaget-kagetlah anak muda itu mendengarnya, namun tak mau memotong pembicaraan sehingga ia hanya terus mendengarkan sedikit demi sedikit apa yang di sampaikan oleh kakek yang bernama Suryo. Belakangan diketahui kakek itu adalah tukang kebun rumah wanita yang sedang ia ceritakan.

            Ia melanjutkan ceritanya,

            Dahulu aku yang mengantar nak Zahra berangkat dan menjemput ketika pulang sekolah. Dia orang Blora. Anak saudagar kaya raya di Blora, Habib Idrus namanya. Sewaktu sekolah madrasah aliyah, seingatku, sebelum ia benar-benar menaiki mobil yang aku supiri untuk mengantarkan pulang ia sempatkan waktu untuk bercakap-cakap barang sepuluh menit dengan pemuda yang bernama Hedra, kekasihnya. Singkat cerita, nak Zahra melanjutkan pendidikanya ke Negeri Timur Tengah, tepatnya di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Ia mengambil pendidikan kedokteran. Setahun kemudian dengan berbekal kemampuan berbahasa Arab, Hendra mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikanya di Kairo juga. Dia mengambil jurusan perdagangan. Tujuan nak Hendra kesana memang disamping ingin belajar juga sangat ingin menemui Nak Zahra. Di sanalah mereka berdua saling membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas, kadang untuk sekedar melepas jenuh mereka pergi ke Wekalet El Ghouri Arts Center, pusat kesenian timur tengah di Mesir.

            Nak Zahra menyelesaikan sampai Strata tingkat dua pendidikan dibidang kedokteran. Begitupun Hendra dengan pendidikan perdaganganya. Namun, karena terlebih dahulu berangkat, akhirnya nak Zahra lebih cepat menyelesaikan pendidikanya daripada Hendra. Sebelum nak Zahra pulang ke Tanah Air, Hendra berjanji akan menyelesaikan pendidikanya dan kembali pulang serta melamar nak Zahra. Namun takdir berkata lain, seminggu tepat sekembalinya nak Zahra ke Blora ada rombongan sekitar tiga mobil kecil dan empat bus. Itulah rombongan Habib Husein bin Malik, saudagar kaya raya asal Surabaya. Beliau tidak lain adalah sahabat Habib Idrus ayah daripada nak Zahra. Kedatangan Habib Husein disambut hangat oleh keluarga Habib Idrus. Tujuan inti kedatangan itu adalah untuk melamarkan anaknya Malik ba’ats dengan nak Zahra. Tentu itu sebuah perjodohan. Tak ada satu pun orang yang ingin menikah dengan orang yang tidak dicintainya.

            “Tunggu, kek.” Sambil menyeruput teh hangat yang hampir habis anak muda itu beranikan diri untuk memotong pembicaraan si kakek.

            “Ada apa, nak?”

            “Apa yang kakek maksud adalah Hendra Pratama yang dikenal raja properti dari Blora?”

            “Ya, tepat. Siapa sebenarnya dirimu, nak?”

            “Akulah adik kandung dari mas Hendra. Pantas saja mas Hendra tidak mau menyentuh tanah Surabaya. Hingga ia menyuruhku untuk mengelolanya disini. Wanita itu, ya, tidak salah lagi. Dialah alasan mas Hendra belum berkeluarga hingga saat ini.”

            “Benarkah, nak?”

            “Ya, itu benar.”

            “Sampai saat ini, dua belas tahun pernikahanya. Malik ba’ats belum pernah menyentuh nak Zahra karena tahu hatinya masih bukan untuknya. Setiap pagi nak Zahra menangis sambil memegang selembar kertas, mungkin sesuatu yang sangat berharga. Itulah alasan mengapa rumahnya sepi tanpa ada anak-anak.”

               Obrolan itu ditutup dengan sama-sama mengelus dada masing-masing.

            Masih di rumah sepi itu,

Setiap pagi air mata Zahra tak berhenti mengalir meratapi nasibnya. Dalam hatinya ia selalu berkeluh,

“Mengapa nasibku ada dibarisan dari kisah yang pernah ku tahu, kisah yang sangat menyentuh hati, kisah Siti Nurbaya.” 

Tetesan air matanya terus mengalir, mendendangkan puisi yang dibuatnya sendiri mengenang kebersamaan bersama Hendra di Lembah Sungai Nil. Puisi terkenal itu kemudian kebanyakan orang menamakanya “Senandung Puisi Zahra”,

Jalan-jalan panjang penuh kenangan,

Bergandengan tangan menyusuri taman,

Bersama-sama menikmati rahasia kehidupan.

Jalan, Taman, dan Rahasia kehidupan,

Menjadi saksi dua insan,

Terlihat sepasang merpati terbang berdampingan,

Namun, mereka dipisahkan.

Oleh Fajrul Rizqi Ramadhan

Related posts