Senandung Puisi Zahra II
Seni dan Budaya

Senandung Puisi Zahra II 

Setiap pagi air mata Zahra tak berhenti mengalir meratapi nasibnya. Dalam hatinya ia selalu berkeluh.

Pagi datang malam menghilang, bersamaan dengan burung pipit yang terbagun dari tidurnya, daun-daun anggrek kembali bermekaran menghalau kesedihan bagi siapa saja yang diberi anugerah untuk bisa menatapnya. Namun, tak berlaku untuk air mata Zahra. Baginya setiap pagi adalah kegelapan.

Di suatu tempat di Blora,

“Bagaimana perkembangan perusahaan di Surabaya, Dimas?”

“Alhamdulillah dalam sembilan bulan, pesanan maupun kebutuhan masyarakat meningkat drastis.”

“Ya, syukur jika begitu adanya.”

“Tapi ada satu hal yang berkesan bagi saya pribadi saat berada di Surabaya, Kangmas.”

“Wah wah wah, apa itu?”

“Tugu Pahlawan, Kangmas. Maksudku rumah bercat putih yang selalu sepi itu, Kangmas.”

“Apa rumah itu banyak memesan properti kita?”

“Bukan.”

“Lantas?”

“Aku ragu, Kangmas.”

“Mengapa mesti ragu?”

“Baiklah Kangmas, jika kau ingin tahu.”

“Ceritakan saja apa yang membuatmu begitu berkesan.”

“Rumah yang berada didekat tugu pahlawan menghadap jalan raya bercat putih yang selalu sepi, Kangmas.”

“Maksudmu?”

“Zahra Syifa, itu rumahnya.”

“Sialan kau, apa peduliku padanya.”

Sontak Hendra meninggalkan ruang kerjanya besama Andri di dalamya. Satu kenangan pahit kembali teringat, luka tajam kembali menyayat seakan-akan sayatan itu setiap detik menghujami tanpa ampun pikiran Hendra.

Ia keluar menyusuri jalan tanpa kendaraan yang biasa dipakai. Mendengar kembali nama wanita itu membuatnya menggigil tak karuan. Ia duduk di tepi sungai di samping taman kota di Blora sambil mengambil secarik kertas bertulis “Senandung Puisi Zahra” beserta sajak-sajaknya.

Setelah lama menghayati irama musik yang berasal dari suara angin, air, daun-daun, dan suara nafasnya sendiri yang membuat pikirannya kembali tenang, ia balik badan merenggut pakaian Andri yang berada tak jauh darinya. Hampir saja ia mencekiknya.

“Biarkan aku sendiri.” Bentaknya dengan mata merah nanar menandakan puncak kemarahanya.

“Tenanglah, Mas.” Sambil menahan dua tangan kakaknya yang hampir saja mencekik.

“Kau yang membuat aku tak tenang.”

“Begitupun dengan Mbak Zahra, tiada ketenangan padanya.”

“Omong kosong kau. Dia sudah bahagia.”

“Rupanya Mas Hendra belum mengetahui keadaanya hingga saat ini.”

“Pergi kau sekarang juga, aku tak mau mendengar omong kosongmu lagi.”

Andri bergegas meninggalkan Hendra untuk beberapa saat agar suasana batinya kembali stabil.

Hari Minggu pagi, Hendra tancap gas mobilnya ke rumah adiknya. Dilihatnya Andri sedang bermain dengan dua anak putrinya. Ia menghampiri dan dua putri kecilnya memeluk manja pamannya yang baru saja tiba. Andri mempersilahkanya masuk, tapi Hendra menolak dan mengajaknya ke taman belakang. Andri hanya bisa mengangguk mengikutinya.

“Tak biasanya kau datang tanpa mengabari terlebih dahulu, Mas.”

“Pikiranku kacau akhir-akhir ini.”

“Apa yang salah denganmu? Maafkan kejadian kemarin, Mas.”

“Ceritakan apa yang kau tahu tentang keadaan Zahra sekarang.”

“Kupikir kau tidak lagi peduli.”

“Terakhir menyuratiku dia bilang akan segera menikah dengan pria pilihanya sendiri dan akan hidup bahagia.”

“Bodoh kamu Mas, jelas-jelas pria pilihanya adalah kamu sendiri.”

Andri meneruskan penjelasanya,

“Sampai saat ini, dua belas tahun pernikahanya setiap pagi Mbak Zahra belum bisa membendung isak tangisnya setiap pagi di kursi reot yang berada di halaman rumahnya. Kau ingin tahu keadaan rumahnya? Rumahnya sepi tanpa seorang anak pun. Menurut cerita yang kudengar dari kakek yang pernah kutemui alasan dia belum mempunyai anak adalah karena suaminya Malik Ba’ats belum pernah menyentuh Mbak Zahra karena tahu hatinya masih bukan untunya tapi masih bersarang padamu, Mas.”

“Kakek Suryo maksudmu?”

“Ya, tak salah.”

“Aduhai wanitaku, mengapa kau berbohong dengan dirimu sendiri.” Gerutunya.

“Karena perjodohan, Mas. Mbak Zahra dijodohkan oleh orang tuanya.”

“Betapa bodohnya aku, aku mengira cintaku ia hianati dengan memilih pasangannya sendiri.”

“Itulah kau mas, terlalu gampang untuk percaya sesuatu yang belum pasti benarnya.”

“Yasudah aku pulang dulu.”

Hendra pulang membawa informasi yang tak ia sangkakan sebelumnya. Di dalam mobil, ingatanya terbayang sosok wanita pujaanya. Bagaimanapun ia pernah melukiskan kisah di Negri Timur nan jauh di sana. Di Wekalet El Ghouri Arts dan Lembah Sungai Nil mereka goreskan kisah cinta, bahkan jauh sebelumnya ketika masih berada di Blora.

Seminggu setelahnya ia duduk di serambi Masjid Raya Blora bersama adiknya sebelum melanjutkan perjalanan ke Surabaya untuk bertemu Kakek Suryo.

“Kau tahu alasanku tak mau ke Surabaya karena di tanah itulah ada wanita yang amat aku cintai. Dua belas tahun lalu aku berjanji untuk melamarnya selepas aku menyelesaikan studiku, namun genap sebulan setelah kepulanganya ke tanah air ia menyuratiku bahwa ia ingin menikah secepatnya dengan pria lain pilihanya. Isi surat itu singkat padat. Hatiku remuk seketika karena secarik kertas. Aku tak peduli dengan yang namanya cinta-cinta lagi sampai kau datang dan menyebut namanya.”

“Itu juga yang membuatku resah Kang Mas. Kau tak bisa belama-lama sendiri begitu. Kau juga berhak untuk berkeluarga secara normal.”

“Mari kita sholat Isya dulu.”

“Ya.”

Selepas sholat Isya ia melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Sesampainya di sana, Andri mengajak membeli rokok sebelum bertemu Kakek Suryo. Tak jauh dari gang kecil sebelum Tugu Pahlawan ada warung tempat biasa Kakek Suryo beristirahat.

Waktu menunjukan pukul delapan pagi. Mereka temui Kakek Suryo di warung makan bernama SIMPANG TUGU. Seperti biasa Kakek Suryo sedang berada di sana. Andri menyapanya dan memberikan rokok kretek kesukaanya.

“Wah sudah lama tak jumpa nak.”

“Aku kesini bermaksud mengantar kakakku, kek.”

Kakek dengan gemetar merangkul badan Hendra yang ada di sebelahnya,

“Jadi ini kau, nak Hendra?.”

“Betul, kek.” Jawab Hendra.

“Tak kusangka kau mau datang kesini.”

“Semata-mata untuk Zahra.”

“Temuilah nak.”

“Kau tak mau memberi tahu keadaanya terlebih dahulu?”

“Temui saja langsung.”

Mendapat isyarat dari Kakek, ia langsung meminta Andri untuk menemaninya kesana. Rumahnya memang terlihat sepi. Di sana terlihat Zahra sedang menangis. Lama-lama suaranya semakin keras. Membuat iba siapa saja yang mendengarnya.

“Zahraku, tercinta.” Panggil Hendra.

Sedikit menoleh dan tanpa berkedip menebak-nebak suara yang memanggilnya. Tak salah itulah suara orang yang selama ini ia tunggu-tunggu. Hendra.

Saking harunya, tangisanya lebih keras dan lebih keras lagi.

“Mas Hendra maafkan aku.”

“Tidak akulah yang harusnya meminta maaf.”

“Aku tak jujur padamu tentang perjodohanku.”

“Di dunia ini yang namanya perjodohan pasti akan memporak-porandakan jalinan kasih yang telah lama terajut oleh siapapun juga.”

Mata Zahra terlihat makin membengkak. Hendra tak bisa lagi menahan air mata keharuanya.

“Zahra dengarkan aku. Kau sekarang bukan kau yang dulu. Sekarang kau sudah bersuami, layanilah suamimu dengan sepenuh hati. Jangan kau sia-siakan air matamu untuk menangisi hal yang tak bisa kau rubah. Zahra, aku sudah tak kuat menginjakkan kakiku ditempat dimana kamu berada. Ingat baik-baik Zahra, layanilah suamimu sebaik-baiknya.”

Zahra hanya mampu mendengarkan.

“Zahra, aku pamit. Mulai sekarang jadilah istri yang baik.”

Hendra bergegas masuk mobil dengan tangisnya. Zahra terdiam membisu tak kuasa menahan beban yang ia rasakan dan jatuh pingsan.

Tatkala ia tersadar, ia sudah tergeletak di salah satu ruangan rumah sakit dan disampingnya sudah ada Malik Ba’ats menghawatirkan kesehatanya. Ia terbangun melawan sakitnya dan memeluk suaminya seraya berkata,

“Aku milikmu suamiku. Aku berikan selembar kertas ini untuk kau lenyapkan bersama kesedihanku selama ini.”

Dilihatnya kertas itu bertuliskan “Senandung Puisi Zahra”, puisi yang ia buat untuk menyakiti dirinya sendiri selama ini.

Mulai saat itu tak ada lagi kesedihan yang ada hanyalah kebahagiaan. Baik Zahra maupun Hendra sudah mengikhlaskan kesedihanya sambil mengutuk keras-keras apa yang dinamakan perjodohan.

Related posts