Sejarah Perkembangan Filologi: Tonggak Sejarah Hingga Tersebar di Seluruh Penjuru Dunia
Sinau

Sejarah Perkembangan Filologi: Tonggak Sejarah Hingga Tersebar di Seluruh Penjuru Dunia 

Filologi adalah ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis (KBBI). Dalam tulisan ini, penulis akan berusaha menguraikan bagaimana sejarah perkembangan filologi dari masa ke masa dan dari kawasan satu ke kawasan lainya. Yuk, simak…

Sejarah perkembangan filologi memang tidak terlepas dari kebudayaan Yunani lama. Mengapa?, karena kebudayaan Yunani lama merupakan yang paling besar pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat Barat pada umumnya. Pengaruh itu khususnya berakar pada kebudayaan Yunani lama yang aspek-aspeknya tersimpan dalam naskah-naskah milik bangsa itu sendiri.

Perlu diketahui, kebudayaan Yunani lama tidak hanya berpengaruh di dunia Barat, akan tetapi juga berpengaruh di bagian dunia yang lain, seperti kawasan Timur Tengah, kawasan Asia, serta kawasan Nusantara. Di antara cabang ilmu yang mampu membuka aspek-aspek kebudayaan Yunani tersebut adalah Filologi. Ilmu filologi merupakan ilmu yang penting untuk menyajikan kebudayaan Yunani lama yang hingga saat ini tetap berperan dalam memperluas dan memperdalam pengetahuan dari segala ilmu pengetahuan. Berikut ini akan dipaparkan sejarah perkembangan filologi di beberapa wilayah di dunia.

Pada mulanya filologi lahir dan berkembang di kawasan Yunani, yaitu di kota Iskandariyah. Menurut Barried, pada awalnya ilmu ini untuk mengkaji peninggalan berupa tulisan yang telah berumur ratusan tahun dan cakupanya hanya teks yang berbahasa Yunani yang bertujuan untuk menemukan bentuk yang mendekati aslinya. Ilmu ini berkembang sejak abad ke-3 SM.

Pada abad ini, orang-orang yang menekuni bidang pengkajian tulisan tangan telah berhasil membaca tulisan tangan orang-orang Yunani yang ditulis sejak abad ke-8 SM. Dari abad ke-8 sampai 3 SM banyak penyalinan-penyalinan ulang sehingga banyak yang tidak sesuai dengan naskah aslinya. Namun harus diakui bahwa perkembangan ilmu filologi itu berhutang budi pada para pustakawan Iskandariyah karena mula-mula dikembangkan di sini dan meluas di Eropa daratan dan seterusnya ke bagian dunia lain.

Barried (melalui Fathurrahman, 2015:32-33) menyatakan bahwa naskah-naskah yang tersimpan di perpustakaan Iskandariyah yang dibangun pada masa Pemerintahan Ptolemaios I Soter dan anaknya-Plotemaios II-hampir semuanya berbentuk gulungan (roll) yang terbuat dari papirus, yakni alat tulis yang terbuat dari papirus, yakni alat tulis yang terbuat dari pohon air (cyperus papyrus) yang tumbuh di tepi sungai Nil, Mesir.

Filologi Zaman Romawi

Pada abad ke-1 M adalah masa dimana keruntuhan Iskandariyah karena jatuh ke tangan Romawi. Hal ini menyebabkan kegiatan filologi berpusat di kota Roma. Pada zaman ini ilmu filologi terus berkembang sampai abad ke-4. Perlu dicatat bahwa abad ke-2 sampai 4 adalah tonggak perubahan dari roll ke kodek.

Naskah Yunani kuno merupakan bahan telaah tetap pada masa ini. Kegiatan ini terus berkembang hingga pada abad ke-4 M karena kerajaan Romawi terpecah menjadi Romawi Barat dan Romawi Timur. Hal ini memberikan pengaruh perkembangan filologi selanjutnya.

Pada waktu telaah teks Yunani di Romawi Barat tampak mundur, tampak mulai bermunculan pusat-pusat teks Yunani di Romawi Timur. Masing-masing kota menjadi pusat studi dalam bidang tertentu yang selanjutnya menjadi perguruan dan menghasilkan tenaga ahli bidang masing-masing. Pada masa ini, mulai muncul kebiasaan menulis tafsir (catatan) di bagian tepi sebuah naskah, yang di sebut scholia. Hal ini melatarbelakangi adanya kuliah filologi di berbagai perguruan tinggi karena Romawi Timur dianggap kurang ahli dalam menelaah Yunani lama.

Filologi Zaman Renaisans

Menyebarnya era Renaisans di Eropa pada abad ke-13 M hingga abad ke-16 M, menyebabkan munculnya kecenderungan pada aliran humanisme, yang sebelumnya berkembang pada zaman Yunani. Setelah kebudayaan Yunani meredup pada abad ke-4 M yang menekankan pada aspek humanisme, mulai dilirik kembali dan diyakini sebagai sebuah pedoman hidup oleh masyarakat Eropa yang telah lama diabaikan dan kemudian dipelajari kembali pada masa Renaisans.

Dalam arti sempit, Renaisans adalah periode yang mengambil lagi kebudayaan klasik sebagai pedoman hidup; periode rakyat cenderung kepada Yunani atau kepada aliran humanisme. Kata humanisme berasal dari kata humaniora (bahasa Yunani) atau umanista (bahasa Latin) yang berarti guru yang mengelola tata bahasa, retorika, puisi, dan filsafat.

Seiring dengan jatuhnya kerajaan Romawi Timur (Byzantium) ke tangan bangsa Turki pada abad ke-15 M, para ahli studi naskah melakukan eksodus ke Eropa Selatan, khususnya kota Roma, untuk melanjutkan aktivitas sebagai ilmuan, peneliti naskah klasik, dan penerjemahan naskah Yunani ke dalam bahasa Latin (Fathurrahman, 2015:40).

Pada zaman ini pula muncul kembali gairah para pengkaji untuk melakukan studi klasik di Eropa juga ditambah dengan ditemukanya teknologi mesin cetak oleh Johannes Guttenberg pada tahun 1450. Penemuan mesin cetak ini juga diyakini sebagai salah satu peristiwa paling penting dan revolusioner pada era modern. Adanya euforia mesin cetak, mengakibatkan semakin banyak tuntunan terhadap pengadaan naskah yang siap cetak, bersih dari kesalahan, dan telah melalui telaah akademis-secara filologis (Alfian Rokhmansyah, 2017:19).

Perkembangan filologi zaman ini juga terdapat pada aspek kajian yang tidak hanya mengkaji bahasa Yunani tetapi juga bahasa lain. Hal ini menyebabkan kajian pun akhirnya tidak terpaku pada kritik belaka melainkan semakin melebar pada aspek-aspek bahasa dan linguistik naskah yang dikaji, sehingga pada sekitar abad ke-19 M, ilmu bahasa tata linguistik berkembang menjadi ilmu yang berdiri sendiri, terpisah dari filologi. Begitupun ilmu bahasa yang menyusul sebagai ilmu mandiri.

Dalam perkembangan selanjutnya di Eropa, ilmu filologi tidak hanya diterapkan untuk mengkaji naskah lama klasik. Naskah nonklasik pun dikaji seperti naskah Germania dan Romania.

Filologi di Kawasan Timur Tengah

Persebaran ilmu filologi juga sampai pada kawasan Timur Tengah khususnya pada zaman dinasti Abbasiyah, dalam pemerintahan khalifah Mansur (754-775 M), Harun Alrasyid (786-809 M), dan Makmun (809-833) studi naskah dan ilmu pengatahuan Yunani semakin berkembang dan puncak perkembanganya pada masa pemerintahan Makmun. Pada masa ini juga dibangunkan pusat studi yang diberi nama Bait al-Hikmah (lembaga kebijaksanaan), yang dilengkapi dengan perpustakaan dan observatorium (Alfian Rokhmansyah melalui Barried dkk, 1994:35).

Bangsa-bangsa di Timur Tengah memang dikenal sebagai bangsa yang memiliki dokumen lama yang berisi nilai luhur yang agung. Zaman ini pula bangsa Barat di Timur Tengah membuka kegiatan filologi terhadap karya-karya bangsa Timur Tengah sehingga isi-isi naskah itu dikenal di dunia Barat dan banyak menarik perhatian orientalis Barat.

Kajian filologi terhadap naskah-naskah tersebut banyak dilakukan di pusat kebudayaan ketimuran di kawasan Eropa dan hasil kajian itu berupa teori-teori mengenai kebudayaan dan sastra Arab, Persia, Turki, dan negara-negara Timur Tengah lainya.

Filologi di Kawasan Asia

Asia merupakan bangsa yang sebenarnya sudah memiliki peradaban yang maju. Sebagian besar kebudayaan Asia ditulis dalam bentuk naskah yang memberi banyak informasi tentang kehidupan mereka. Salah satu negara di kawasan Asia yang memiliki banyak peninggalan naskah adalah India.

Naskah-naskah India yang berisi berbagai aspek kebudayaan, mulai ditelaah oleh bangsa Barat sejak mereka mendarat di India (setelah ditemukan jalan laut ke India oleh Vasco da Gama pada tahun 1498 M (Alfian Rokhmansyah 2015:26). Hasil kajian filologi akan naskah-naskah yang menggunakan bahasa daerah seperti Gujarati mulai dipublikasikan oleh Abraham Roger (berkebangsaan Belanda) dalam karanganya tahun 1651.

Baru pada abad ke-19 diketahui ada bahasa Sanskerta kemudian diketahui pula kitab-kitab Weda.Telaah filologi terhadap sastra Weda dilakukan pertama kali oleh F. Rosen pada tahun 1838 dan pada tahun 1850 banyak dilakukan kajian terhadap sastra klasik India secara ilmiah dan diterbitkan sejumlah naskah dan kritik sastra.

Filologi di Nusantara (Indonesia)

Filologi di Nusantara, awalnya dikembangkan oleh pemerintah kolonial Belanda, bertujuan untuk mengungkap informasi masa lampau yang terkandung dalam bahan tertulis peninggalan masa lalu dengan harapan adanya nilai-nilai atau hasil budaya masa lampau yang diperlukan dalam kehidupan masa kini (Alfian Rokhmansyah melalui Sudibyo, 2007:108).

Di indonesia, tradisi penulisan naskah sangat dipengaruhi oleh kebudayaan India, terutama sebelum abad ke-14 M. Teks-teks yang diprediksi muncul sejak abad ke-7 banyak dipengaruhi oleh agama Budha, serta menggunakan bahasa Sanskerta sebagai bahasa pengantarnya. Hal ini dimaklumi, karena pada saat itu, Sriwijaya menjadi pusat pemerintahan yang menguasai Nusantara.

Dalam kurun waktu beberapa abad, bahasa Sanskerta menjadi bahasa terpenting di kalangan cendekiawan dan agamawan di Sumatera, Jawa, dan Bali. Perlu dicatat bahwa manuskrip-manuskrip Nusantara telah ada sejak abad ke-7 M, namun kajian filologi di Indonesia sendiri baru tumbuh dan berkembang pada saat pemerintahan Kolonial Belanda melalui misi pemberadaban (beschaving missie).

Salah satu perubahan penting dalam sejarah dan tradisi tulis naskah di Indonesia adalah ketika pengaruh Islam semakin kuat pada abad ke-13 M, serta bergantinya bahasa Sanskerta menjadi bahasa Melayu sebagai bahasa politik, dagang, agama, dan budaya. Pada abad ke-14 M, tradisi penulisan naskah Melayu dengan menggunakan aksara Jawi mulai mendominasi, khususnya di wilayah Selat Malaka. Namun, sampai saat ini, jejak-jejak aksara pra-Islam masih dapat ditemukan (Fathurrahman, 2015:42).

Sumber:

Fathurrahman, Oman. 2015. Filologi Indonesia: Teori dan Metode.Jakarta: Kencana Rokhmansyah, Alfian. 2017. Teori Filologi. Yogyakarta: CV. Istana Agency

Related posts