PSSI Cerminan Persepakbolaan Indonesia
Opini

PSSI Cerminan Persepakbolaan Indonesia 

Beberapa Bulan lalu Indonesia secara resmi maju dalam pencalonan tuan rumah tuan rumah untuk Piala Dunia FIFA U-20 2021. Dalam proses undian (bidding), Indonesia akan bersaing dengan tiga kontestan lainya. Mereka adalah Peru, Brasil, dan tuan rumah bersama yakni Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab.
Namun, Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (kemenpora) dibuat pusing oleh kelakuan suporter Indonesia pada awal Kualifikasi Piala Dunia kemarin. Kericuhan suporter terjadi saat Timnas Indonesia menjamu Malaysia dalam Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Kamis (5/9/2019) malam WIB.

Aksi saling lempar dan kejar-kejaran bahkan berlangsung sampai di luar stadion. SUGBK memanas bahkan sebelum laga benar-benar dimulai. Berbagai spanduk dengan kalimat yang tidak pantas mewarnai sudut tribune yang ditujukan kepada suporter Malaysia.

Kericuhan tersebut membuat Menpora Imam Nahrawi turun tangan. Dia menemui Menpora Malaysia, Syed Saddiq Abdul Rahman, untuk meminta maaf setelah resmi dilaporkan oleh Kemenpora Malaysia terkait kericuhan tersebut terhadap FIFA.

Menjadi tuan rumah Piala Dunia bukan sekedar menjadi ajang gengsi semata, lebih dari itu yakni untuk meningkatkan defisit negara yang akan berimbas pada kesejahteraan rakyat banyak dan mempromosikan berbagai macam budaya lokal ke dunia Internasional. Namun sangat tragis jika para suporter masih suka keributan, hasilnya dunia akan memandang Indonesia adalah negara yang suka ribut-ribut dan tidak ramah untuk mengadakan pesta-pesta besar dunia.

Jika ditarik kebelakang, kerusuhan suporter cenderung meningkat dan semakin anarkistis. Pemicunya cukup kompleks, mulai dari fanatisme berlebihan kepada klub, soal wasit, kinerja panitia pertandingan, hingga minimnya sarana ekspresi suporter. Kericuhan tersebut bisa saja berujung panjang. Selain sanksi dari FIFA, Indonesia terancam gagal di proses bidding menjadi tuan rumah piala dunia.

Dalam lima bulan terakhir, kerusuhan suporter memang meledak di sejumlah tempat di Tanah Air, seperti Jakarta, Tangerang, Yogyakarta, Surabaya, Solo, dan Makassar. Kekerasan suporter itu sudah di luar nalar dan akal sehat. Mereka pergi menonton sepak bola seperti akan berangkat tawuran, dengan membawa senjata tajam.

Selain fanatisme suporter kepada klubnya, kinerja panitia pertandingan turut mempengaruhi perilaku suporter. Salah satunya harga tiket yang mahal tapi tidak sebanding dengan permainanya. Penyesalan mendalam dikemukakan kelompok suporter setelah ricuh penonton saat Timnas Indonesia menjamu Malaysia.

Tampaknnya Kemenpora masih memiliki banyak tugas dalam mengurus persepakbolaan di Indonesia. Tugas tersebut bisa saja menjadi lebih ringan jika saja pengurus PSSI mampu bersikap secara profesional, bersih, dan jujur. PSSI harus bisa mengambil sikap dalam mengatur secara rapih jadwal antara pertandingan nasional dan internasional supaya tidak ada alasan kelelahan lagi ketika bertanding, mampu mengayomi klub-klub dengan cara memberi kesejahteraan pada tim dan pemain dari segi finansial dan memberi kebijakan-kebijakan tegas terhadap semua pelanggaran di lapangan baik yang dilakukan oleh klub maupun suporternya.

Kericuhan di bawah adalah dampak dari kericuhan di atas. Oleh karena itu Kemenpora harus lebih peka dalam mengelola setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh PSSI agar semua lapisan masyarakat bisa merasakan euforia pertandingan yang profesional dengan suporter yang profesional pula.

Kisruh di tubuh PSSI sendiri terjadi sudah sangat lama. Baru-baru ini adalah berita tentang mundurnya Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI dengan alasan ketiadaan waktu untuk mengurus masalah persepakbolaan yang menumpuk. Edy menjadi orang keempat yang mengundurkan diri setelah Ali Sadikin, Sjarnoebi Said, dan Azwar Anas, dari lima belas orang yang pernah terpilih sebagai Ketua Umum PSSI.

Ali Sadikin mundur secara diam-diam hanya beberapa bulan sebelum masa kepengurusanya selesai akibat “rongrongan” internal setelah keterlibatanya dalam petisi 50, kelompok penentang kebijakan pemerintah Presiden Soeharto. Sjarnobi mundur akibat kegagalan tim nasional yang tak memungkinkan berprestasi terbaik setelah kompetisi Galatama kehilangan marwah karena “jual-beli” gol.Disusul Azwar setelah tim nasional bermain “sepak bola gajah” di Vietnam pada 1998 dalam Tiger Cup. Sedangkan yang dipaksa dimundurkan adalah :La Nyalla Mattaliti.

Kita berharap semoga keguncangan dalam persepakbolaan nasional ini tidak terjadi lagi. Tapi, bukan mustahil, jika tim nasional tahun ini kalah di SEA Games Filipina dan U-19 gagal di Piala AFF, ditambah kian merebaknya “pengaturan skor” yang sedang ditangani Satuan Tugas Anti Mafia Bola, hal itu tentu akan mengundang berbagai macam reaksi keras dari masyarakat.

Kerapihan internal PSSI dalam mengatur segala tindak tanduk persepakbolaan di Indonesia sangat dibutuhkan mengingat suasana sikap dan mental masyarakat gampang sekali terpancing oleh emosi. Masyarakat akan puas dan menerima apapun hasil pertandingan secara profesional jika cara yang demikian pula diterapkan pada tubuh PSSI. Singkatnya, PSSI yang baik akan melahirkan dunia persepakbolaan Indonesia yang baik pula.

Related posts