Potret Pribumisasi Islam
Opini

Potret Pribumisasi Islam 

Munculnya polemik sosial – budaya dalam islam sangat merajalela di lapisan masyarakat saat ini. Gejala – gejala meniru budaya Arab yang dikaitkan sebagai dari ajaran islam menjalar, padahal budaya dan nilai (esensi) ajaran islam berbeda. Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) mengkritik terhadap gejala–gejala tersebut dengan istilah ‘Arabisasi’.

Arabisasi merupakan pengaruh sosial–budaya yang tumbuh berkembang di daerah islam non–Arab, kemudian secara bertahap sedikit demi – sedikit berubah menjadi bahasa arab atau mengaitkan budaya, identitas dan simbol – simbol Arab dengan ajaran islam. Hal ini sangat nampak, misalnya: munculnya bahasa panggilan ‘akhi’ untuk saudara atau teman laki – laki dan ‘ukhti’ untuk panggilan saudara dan atau teman perempuan. Penulis menjumpai fenomena tersebut menjalar di lingkungan kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dan munculnya sebagian mahasiswi puteri yang memakai cadar dikampus tersebut juga terhitung lumayan banyak. Penulis menyadari itu sebagian dari anjuran dalam islam untuk menutup aurat. Akan tetapi, dalam satu moment. Seolah – olah jika hal itu tidak dilakukan nilai keilsman seseorang tidak kaffah atau tidak relefan.

Banyaknya muncul kepermukaan tentang simbol – simbol, bentuk, dan lambang – lambang yang dikaitkan sebagai bagian dari inti ajaran islam mendapat banyak pandangan. Sebagian berpendapat bahwa budaya tersebut bagian dari islam dan sebagian yang lain tidak mementingkan simbolisme, melainkan pada inti nilai islam. Bahwa islam adalah keselamatan dan rahmatalill ‘alamin.

Dalam sejarah masuknya ajaran islam di Nusantara, Walisongo sebagai pewaris dan penyebar ajararan islam tidak menghapus dan menggantikan budaya – budaya lokal, atau mengganti dengan budaya arab. Akan tetapi Walisongo tetap mentradisikan budaya – budaya pribumi untuk tetap berkembang dan berlanjut. Dengan prinsip menanamkan dan mengebumikan nilai – nilai islam yang sebelumnya tidak ada. Seperti halnya pada budaya wayang, naskah penulisan arab pegon dan lain sebagainya. Hemat pengetahuan penulis, pegon merupakan suatu sinkretisme budaya antara arab dan jawa yang berkembang di awal – awal masuknya islam di Nusantara. Dan tradisi ini masih dilanjutkan dikalangan pesantren – pesantren salaf.

Formalisasi paham Arabisasi, mendapat kritikan oleh Gus Dur. Dalam buku Islamku, Islam Anda dan Islam Kita, Gus Dur menyatakan bahwa munculnya budaya seperti itu merupakan akibat dari kurang rasa percaya diri ketika menghadapi ‘kemajuan Barat’ yang sekuler. Maka jalan satu – satunya adalah dengan mensubordinasikan diri kedalam konstruk Arabisasi yang diyakini sebagai langkah kearah islamisasi. Padahal Arabisasi bukanlah Islamisasi.

Kritik pemikiran Gus Dur terhadap ‘Arabisasi Islam’ sudah diungkapkan pada tahun 1980-an, yakni ketika ia mengungkapkan gagasannya tentang ‘Pribumisasi Islam’. Gus Dur meminta agar wahyu Tuhan dipahami dengan mempertimbangkan faktor – faktor kontekstual, termasuk kesadaran hukum dan rasa keadilannya.

Adanya hal ini, Gus Dur melansir apa yang ia sebut dengan ‘Pribumisasi Islam’. Ini merupakan suatu uapaya rekonsilasi islam dengan kekuatan – kekuatan budaya setempat, agar budaya lokal, budaya pribumi tidaklah hilang. Disini Gus Dur melihat pribumisasi islam sebagai suatu kebutuhan, bukan sebagai suatu menghindari pengkotak –kotakan antara agama dengan budaya setempat. Pribumisasi juga bukan merupakan upaya untuk mensubordinasi Islam dengan budaya lokal, karena konsep pribumisasi islam Gus Dur harus tetap pada sifat islamanya.

Pribumisasi islam juga bukan merupakan semacam ‘jawanisasi ‘, sebab pribumisasi islam hanya mempertimbangkan kebutuhan – kebutuhan lokal dalam merumuskan hukum agama, tanpa merubah hukum itu sendiri. Juga bukan meninggalkan norma demi budaya, tetapi agar norma – norma itu menampung kebutuhan – kebutuhan dari budaya dengan mempergunakan peluang yang disediakan oleh variasi pemahaman nash dengan tetap memberikan peranan terhadap ushul fiqh dan qaidah fiqh.

Melihat wacana seperti diatas, nampaknya kita harus merefleksikan kembali bingkan pribumisasi islam sebagai suatu wacana dalam mengembangkan nilai – nilai keislaman tanpa meninggalkan dan menghapus tradisi lokal. Disinilah agama dan budaya lokal akan terus berkembang beriringan seiring dengan adanya globalisasi yang terus berkembang saat ini. Judul buku itu diambil oleh salah satu artikel Gur Dur yang dikumpulkan menjadi sebuah buku. Lihat Pribumisasi, Bukan Arabisasi: Gus Dur.

Related posts