Potensi Masalah Baru Dunia Pendidikan di Era Gaya Hidup Baru
Opini

Potensi Masalah Baru Dunia Pendidikan di Era Gaya Hidup Baru 

Pandemi Covid-19 saat ini telah merubah cara bagaimana kita menjalani hidup dan beraktivitas, termasuk dalam dunia pendidikan. Aktivitas belajar dalam beberapa bulan terakhir diarahkan untuk menggunakan media online. Terlepas dari berbagai pertimbangan, ini adalah cara terbaik dalam merespon keadaan agar aktivitas belajar tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Dalam peresmian pembukaan Konferensi Forum Rektor Indonesia (FRI) tahun 2020, Presiden RI Joko Widodo menyatakan bahwa kuliah dalam jaringan (daring) atau kuliah online sudah menjadi normal baru atau bahkan normal berikutnya (next normal).

Belum jelasnya kapan pandemic covid-19 ini berakhir, menjadikan kampus-kampus harus mempersiapkan banyak opsi dalam memberikan fasilitas pendidikan kepada mahasiswa maupun calon mahasiswa.

Presiden RI Joko Widodo juga menambahkan bahwa “krisis telah memaksa kita untuk mengembangkan cara-cara baru, membangun norma-norma baru, serta membangun standar-standar kebaikan dan kepantasan yang baru”.

Dalam beberapa bulan terakhir, pembelajaran sudah dilaksanakan secara online. Para tenaga pendidik tentu sudah membaca dan menganalisa mengenai model-model baru seperti apa yang paling efektif dilaksanakan melalui online.

Melalui analisa-analisa yang dilakukan, harapannya memasuki semester baru yang kemungkinan besar masih dilaksanakan secara online, dapat berjalan lebih maksimal. Jangan sampai transfer of knowladge ke mahasiswa tidak tersampaikan karena model pembelajaran yang kurang tepat. Tapi kita optimistis berjalannya waktu kita mungkin akan mulai terbiasa dengan model daring ini.

Baca juga: Kabupaten Brebes New Normal, Kita Bisa Apa? 

Keadaan yang serba terbatas tentu akan disikapi dengan bijak dan optimistis oleh berbagai kampus, karena mau tidak mau, siap tidak siap, ini adalah situasi yang harus dihadapi. Pengembangan dan inovasi baru harus dilakukan untuk merubah ancaman menjadi peluang yang ada.

Dengan adanya penyampaian dari Presiden RI Joko Widodo terkait kulian online yang akan menjadi kenormalan baru, tidak menutup kemungkinan akan dimanfaatkan kampus-kampus untuk membuka kelas online sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pendidikan.

Kelas online dan tatap muka di ruang kelas langsung, jelas akan merubah kebijakan kampus-kampus, terkait penerimaan mahasiswa baru. Biasanya kampus akan menyesuaikan jumlah ruang kelas dan ketersediaan dosen dalam menentukan seberapa banyak jumlah mahasiswa yang akan diterima.

Apabila keadaan hari ini mengarahkan kampus-kampus untuk memaksimalkan media online dalam pembelajaran, maka persoalan ruang kelas bukan lagi menjadi masalah. Karena jika pembelajaran diarahkan menggunakan daring, kampus bisa saja menerima sebanyak-banyaknya mahasiswa baru tanpa memperhatikan ketersediaan kelas dan dosen.

Hal ini bisa dimanfaatkan sebagai respon dunia pendidikan dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan, namun menjadi tugas berat bagi kampus-kampus kecil ataupun kampus swasta. Jika kampus-kampus besar dan ternama membuka banyak kuota mahasiswa baru, sebagai calon mahasiswa tentu akan lebih cenderung memilih kampus besar dan ternama.

Persoalan ini perlu mendapatkan perhatian apalagi untuk kampus-kampus kecil ataupun swasta, perlu adanya penyesuaian kebijakan pendidikan. Jangan sampai kedengaran ada kampus yang tutup karena tidak dapat memenuhi kebutuhan operasional kampus dan dosen, seperti perusahaan-perusahaan yang harus merumahkan karyawannya bahkan sampai tutup.

Baca juga: Tuntutan Guru dalam Menghadirkan Media Pembelajaran yang Inovatif 

Related posts