Perempuan, Yang Lain
Opini

Perempuan, Yang Lain 

Di sini tidak membahas soal poligami ataupun perselingkuhan, tidak lain bahwa pelecehan dan kekerasan adalah suatu kasus yang perlu di sudahi. Tentu dalam hal ini, lebih fokus membahas terkait perempuan, bukan hanya soal kecantikan saja tapi soal bagaimana untuk lebih jernih dalam melihat perempuan.

Apapun definisi terkait perempuan, yang jelas kekerasan tetaplah kekerasan. Adakah di sini yang pernah menjumpai atau bahkah melakukan kekerasan terhadap perempuan, hal ini tidak ada batasan laki-laki atau perempuan keduanya sama-sama memiliki potensi untuk melakukannya. Jauh sebelum ke arah kekerasan juga pelecehan yang terjadi, baik itu kekerasan atau pelecehan penulis pikir bukan sesuatu yang musti di budayakan. Justru, perlu di diskusikan lebih jauh supaya relasi kemanusiaan kita sesuai pada kepentingan manusia.

Anggapan perempuan sebagai manusia yang lemah, mungkin masih mengakar dilingkungan sekitar. Bisa jadi akan dianggap aneh ketika ada perempuan yang kritis, memiliki posisi strategis atau bahkan memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat. Atau anggapan umum yang mungkin masih kita temui, perempuan tidak akan jauh dari dapur, sumur dan kasur. Dan tak jarang pula, karena konstruksi perempuan sudah seperti itu akan diamini oleh perempuannya sendiri.

Yang menjadi persoalan adalah ketika perempuan menjadi sasaran empuk dari anggapan yang melemahkan tersebut, perempuan dianggap lemah jelas akan semakin membuka peluang untuk dijadikan objek dari berbagai bentuk pelecehan dan kekerasan, baik oleh lawan jenis ataupun sejenis.

Baca juga: Salam Hormat Pak Wapres, Kaum Santri Menggugat! 

Sedikit mengulas dari pada Feminis Eksistensialisme, dalam bukunya C.Y Marselina Nope yang berjudul Jerat Kapitalisme Atas Perempuan, menyatakan bahwa Simone de Beauvior (seorang figur yang berpengaruh dalam pengembangan Feminisme Eksistensialisme), dari tulisannya yang berjudul The Secound Sex (1949). Ia melihat bahwa penindasan perempuan di awali dengan beban reproduksi yang harus ditanggung oleh tubuh perempuan. Ia mengawali teorinya dengan bertanya ‘apakah seorang perempuan?’ ia mencermati bahwa masyarakat hanya memandang perempuan semata-mata sebagai tota mulier in utero (perempuan adalah kandungan).

De Beauvoir memperdebatkan argumentasinya dengan penjelasan bahwa terdapat berbagai perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Berdasarkan hal ini, seorang perempuan dituntut untuk menjadi dirinya sendiri dan kemudian menjadi ‘Yang Lain’ (the other). Perempuan ‘Yang Lain’ karena ia adalah makhluk yang seharusnya di bawah perlindungan laki-laki, tak dapat hidup tanpa laki-laki, bagian dari laki-laki karena ia diciptakan dari laki-laki. Dengan demikian, perempuan didefinisikan dari sudut pandang laki-laki dan bukan sebaliknya, laki-laki adalah subjek yang absolut dan perempuan adalah objek atau ‘Yang Lain’.

Masih merujuk pada buku yang sudah disebutkan diatas, yang menarik adalah Chesler menyimpulkan bahwa penyakit kejiwaan perempuan kemungkinan adalah hasil dari stereotip peran seks, dan ketika perempuan menolak norma-norma jender secara sadar maupun tidak, pemberontakannya dianggap oleh masyarakat sebagai contoh penyait dan penyimpangan psikologis.

Chesler mengajukan pendapat bahwa sakit kejiwaan perempuan kemungkinan adalah hasil dari pengkotak-kotakan peran jender atau dampak dari masyarakat yang terkondisi berdasarkan jenis kelamin, maka sebagai konsekuensi seorang perempuan akan di cap tidak waras apabila ia tidak berperilaku sesuai dengan label yang diberikan masyarakat kepadannya. Kondisi depresif yang diderita perempuan, mengarahkannya kepada kekurangwarasan dan sakit jiwa ini kemudian dapat terejawantahkan dalam bentuk depresi, upaya bunuh diri, neurosis kecemasan, paranoia, promiskuitas, skizofrenia, dan lesbianisme.

Baca juga: 69 Orang di Pasar Bangbayang Reaktif Virus Corona Setelah Rapid Test 

Baik, itu cukup penting menjadi perhatian bersama, bahwa selain beperluang menjadi ‘Yang Lain’ dalam artian bisa dengan mudah menjadi objek dari pada kekersan dan pelecehan juga secara kesehatan dapat terganggu oleh anggapan umum terkait perempuan.

Definisi terkait perempuan cukup beragam, baik secara teoritis atau definisi yang diajarkan oleh agama. Tentu, kita tidak asing dengan pernyataan bahwa perempuan adalah Sekolah Pertama bagi anak-anaknya, hal ini dapat diartikan bahwa perempuan dibebani tugas menjadi tenaga pendidik bagi anak-anak yang dikandungnya. Baik, penulis pikir ini sah-sah saja. Karena hari ini peran perempuan masih cukup terbatas dan sudah pasti akan di amini saja, walapun ada kemungkinan perempuan itu sendiri masih mau mempertanyakan.

Perempuan kalau memiliki paradigma seperti ini, dalam arti tidak ada kesamaan posisi dalam kehidupan yang ada berpeluang menjadi objek atas diskriminasi dan segala macam bentuknya. Perbedaan jenis kelamin adalah fakta, yang perlu di perdebatkan adalah proses dalam kehidupan supaya tetap berdampingan dan tidak saling berkonflik yang tidak produktif. Ini kiranya yang pelu menjadi perhatian, sebab pola pikir menentukan tindakan apa yang akan dilakukan.

Related posts