Perantau yang Pulang Kampung Itu Pengungsi, Bukan Pemudik!
Opini

Perantau yang Pulang Kampung Itu Pengungsi, Bukan Pemudik! 

Alhamdulillah, di kampung halaman Rembesmin tepatnya di Dukuh Gunungsumping, Desa Plompong, Kabupaten Brebes, masih bisa menjalakan aktifitas ibadah sholat jum’at walaupun ada pengurangan durasi khutbahnya dan masih bisa beraktivitas seperti biasanya, seperti berkebun, pergi ke ladang, menjemur jagung hasil panen, dan makan singkong seperti orang kampung pada umumnya.

Pada hari jumat kemarin, tanggal 10 April 2020. Rembesmin yang hendak melaksanakan shalat jum’at dimasjid kampung, Rembesmin menjumpai kawan yang baru-baru ini pulang dari perantauaanya. “Cuk, balik kapan?,” tanyaku membuka obrolan.

Baca juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Suara Dentuman Aneh, Cara Alam Mengingatkan Manusia? 

Akhir-akhir ini, memang cukup banyak para perantau yang pulang ke kampung halamannya, lantaran dikota yang ia tempati tidak bisa bekerja seperti biasanya dan juga pemerintah belum begitu memberikan solusi atas kebutuhan hidup bagi para perantau, terlebih dengan adanya virus corona yang tidak sedikit membuat kemacetan ekonomi para perantau. Sehingga ini menjadi latarbelakang banyak dari para perantau pulang ke kampung halamannya. 

Sialnya, selain pulang lantaran tidak ada penghasilan untuk memenuhi hajat hidup di kota yang ia tempati, sesampainya di kampung halaman para perantau jadi semacam narapidana yang cukup di waspadai oleh masyakarat sekitar. Rasanya mungkin seperti sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Di tambah bergulirnya berita hoax yang dikonsumsi oleh masyarakat, cek saja group-group WhatsApp mu, forward yang berseliweran bukannya menenangkan dari menyebarnya virus corona ini, malah menjadi semacam berita yang menakutkan. Tidak jarang membuat pembaca berita yang bertebaran di WhatsApp menjadi ketakutan yang justru membuat panik sekitar.

Bukan main kondisinya, banyak pihak-pihak di luar pemerintah yang justru lebih sigap dalam penanganannya daripada pemerintah itu senediri. Yaa walaupun hanya membuat pos tanggap virus, menyeprotkan cairan, memfasilitasi masker. Selian aksi sosial, ternyata ini menjadi semacam ajang eksistensi dari berbagai ormas untuk menarik simpati lantaran bisa jadi karena kelambanan pemerintah dan tidak begitu dirasa kehadirannya di dalam situasi yang seperti ini. Di sisi lain, gerakan yang mulai hadir menjadi semacam kabar gembira, tapi kalau dalam penanganannya justru ada yang tidak sesuai dengan standar kesehatan bisa berbahaya dampaknya, misal pernah ada yang disemprot tubuhnya, pakaiannya, dengan cairan penghilang kuman. 

Tapi ada semacam fenomena baru, di mana masyarakat ternyata tidak harus lagi memuji dan memuja pemerintah, karena ternyata di banyak tempat sudah mulai banyak gerakan di luar pemerintah yang memberikan solusi atas wabah yang sedang berlangsung ini. Artinya ada peluang untuk mengganti ideologi misal menjadi sosialisme, apa mungkin? bisa jadi kalau ternyata realitasnya begini.

Baca juga: Membangun Desa: Mengubah Paradigma dan Cara Pandang Masyarakat Pedesaan 

Di Kabupaten Brebes sendiri sudah ada 52 ribu-an orang yang pulang ke kampung halamannya, seperti yang di berikatan detik.com tentu hal ini menjadi fenomena yang tidak biasanya. Perantau yang pulang kehalamnnya biasanya dalam rangka lebaran, ini berpuasa juga belum tapi sudah pada pulang. Sebetulnya kalau di sebut sebagai pemudik, Rembesmin kurang setuju juga. Maksudnya seperti ini, mereka kan pulang lantaran tidak ada penghasilan yang di dapat di kota yang ia tempati dengan begitu meraka memilih untuk hidup atau bertahan di kampung halamnnya masing-masing. Untuk kondisi seperti ini, mungkin lebih tepatnya jika di sebut sebagai pengungsi, sebab pemerintah belum begitu dirasa kehadirannya oleh para perantau sehingga mengharuskan meraka pulang kampung. 

Belum lagi dari berita dari Medcom.id yang menyatakan ada 3.100 buruh di Brebes di rumahkan ini juga menjadi pekerjaan yang musti di jawab oleh pemerintah, khususnya Bupati dan jajaran. Para perantau yang mudik bukan hanya harus diawasi seperti narapidana, akan tetapi perlu diberikan bantuan sosial atas adanya wabah semacam ini. Orang untuk pembiayaan Geothermal di Gunung Slamet saja mampu dengan dana proyek yang besar, yang besar pula dampak pada lingkungannya, apalagi untuk penanganan virus corona pasti Pemkab Brebes tidak keberatanlah untuk sesekali memberikan solusi konkretnya. Bukan hanya ormas saja yang antusias untuk berlomba-lomba dalam aksi sosialnya, pemda Brebes pun harusnya merasa cemburu dan melakukan gerakan yang lebih nyata lagi.

Mari sama-sama kita tekan pemerintah untuk bisa hadir bagi masyarakat, tidak hanya hadir pada kegiatan-kegiatan seremonial belaka dan berpidato kesana-kemari. 

Related posts