Pendidikan di Negeri Joko dan Dodo
Ndopok

Pendidikan di Negeri Joko dan Dodo 

Terlihat di pojok dinding kontrakan yang atapnya hampir roboh; anak muda lusuh dengan raut muka pucat berpakaian compang-camping duduk bersandar sambil memegang kepala erat-erat setelah mendapat kabar bahwa dia tidak jadi lulus kuliah tahun ini karena akses pendidikan ditutup dalam rangka mengantisipasi penyebaran covid-19.

Setelah bergelut di dunia kampus selama 7 tahun 14 semester harapan untuk menyandang gelar sarjana pun harus diundur. Bukan saja diundur, namun uang kuliah terus berjalan. Ditambah hingga saat ini Kementrian Pendidikan belum mengeluarkan kebijakan terkait uang kuliah. Makin pusing kepala anak muda itu, sebut saja Joko.

Berbeda dengan Dodo yang senang akan ada kebijakan pemangkasan uang kuliah oleh Kementerian Agama karena ia kuliah di kampus berbasis keagamaan. Namun, kesenangan itu tampaknya awal dari kesedihan setelah Menteri Agama Fachrul Razi minta maaf pemotongan uang kuliah tunggal pada semester ganjil 2020/2021 bagi mahasiswa Perguruan Tinggi keagamaan Islam Negeri (PTKIN) batal direalisasikan karena pemerintah mengalihkan sebagian alokasi dana Kementerian Agama untuk penanganan covid-19.

Karena mereka berdua senior yang sudah tidak produktif, mereka berinisiatif mengerahkan junior-juniornya untuk berkoar di medsos soal penanganan uang kuliah. Berhasil, uang kuliah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Namun, sekali lagi belum ada upaya nyata dari pemerintah maupun rektor terkait.

Baca juga: Masyarakat Butuh Contoh Baik, Bukan Jubir Berparas Cantik 

Hal ini membuktikan bahwa di negara Joko dan Dodo pendidikan tidak begitu penting untuk digubris meski undang-undang di negaranya mengatakan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tujuan pendidikan. Tampaknya benar, pendidikan di negara Joko dan Dodo hanya berfungsi sebagai lauk bukan makanan pokok.

Tiga puluh tahun telah lewat. Entah bagainana ceritannya, Joko dan Dodo sama-sama memegang peranan penting sebagai Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan. Suatu ketika, seluruh mahasiswa demo di jalan maupun via medsos menuntut mereka berdua untuk membuat kebijakan yang meringankan demi pendidikan bangsanya.

Tanpa pikir panjang Joko dan Dodo membuat konferensi pers, hampir di seluruh statisun televisi ditayangkan. Dodo dengan lantang mengatakan, “Kami dahulu pernah berada di posisi anda semua. Apakah anda tahu apa yang kami lakukan?”

Semua orang dibuat heran menunggu kelanjutan pembicaraan tersebut. Dodo sengaja memberi jeda panjang dan semua mata tertuju pada layar-layar televisi, begitu juga berjuta pasang telinga yang mendengarkan konferensi pers tersebut.

Baca juga: Hari Laut Sedunia 2020, Peneliti Temukan Gurita Terdalam Dunia di Palung Jawa 

Tanpa ragu, Joko memecah keheningan dengan berkata, “Kami tidak melakukan apapun waktu itu. Oleh karenanya, kalian juga jangan melakukan apapun termasuk koar-koar di jalanan maupun media sosial, buang-buang waktu, tenaga dan pikiran.”

Bukan hanya kemanusiaan yang hilang, jika terus dibiarkan sebuah sistem yang sudah tidak bekerja tersebut, maka sepuluh, dua puluh atau tiga puluh kedepan akan menghasilkan orang dengan percaya diri menginjak-injak kemanusian dan dipertontonkan secara umum serta tindakan tersebut merupakan hal wajar.

Memang benar, pendidikan bukan makanan pokok. Namun, tanpa lauk makanan pokok akan terasa hambar. Begitulah kiranya gambaran pendidikan di negeri Joko dan Dodo dimana pendidikan dan sebuah sistem yang mengatur berjalannya sebuah pendidikan dibiarkan terasa hambar.

Bukan saja hambar, mulut orang-orang yang menyajikannya sebenarnya sedang sakit jadi ketika memasak dan mencoba sedikit masakan tersebut terasa enak meski menurut pelanggan hambar. Padahal, sajian itu mau tak mau harus disajikan pada pelanggan.

Related posts