Novel Belenggu dan Skandal Balai Pustaka
Seni dan Budaya

Novel Belenggu dan Skandal Balai Pustaka 

Saat ini kita tidak lagi dipilah-pilihkan jenis bacaan seperti apa yang pantas, hampir semua jenis bacaan bisa kita nikmati, pun ketika kita menciptakan buku bacaan tidak lagi ada istilah tentang menentang, semuanya berhak menyampaikan gagasan di kepala, baik berbicara politik, mengkritik pemerintah pun hal-hal remeh lainnya. Berbeda saat zaman kolonial yang jenis bacaan boleh dibaca hanya terbitan Balai Pustaka.

Secara sederhananya, dalah sejarah Balai Pustaka terbentuk pada masa pemerintah Kolonial Belanda, karya-kara Balai Pustaka seputar adat istiadat, kisah-kisah roman sentimentalis, penuh air mata alias cengeng tujuannya agar menjauhka diri rakyat dari pikiran-pikiran sosial dan politik. Itulah yang kemudian menjadikan masyarakat dahulu sangat jauh terpapar modernitas. Biarpun pada hakikatnya tujuan didirikan Balai Pustaka ialah mengembangkan bahasa daerah, dan mencegah pengaruh buruk dari bacaan yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki politisi (liar) yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah.

Hal itu terbukti tokoh-tokoh di angkatan Balai Pustaka selalu orang-orang kedaerahan dan bersifat kedaerahan, sedangkan karya sastra yang terbit di luar Balai Pustaka disebut dengan Bacaan Liar. Hal itu tentu hadir karena bacaan-bacaannya tidak sesuai visi dan misi pemerintah Kolonial. Seperti yang terjadi pada Novel Belenggu karya Armijn Pane. Armijn Pane adalah penulis angkatan pujangga baru dan dan pernah mendapat penghargaan Anugerah Seni pada tahun 1967 karena karya-karyanya dan jasa-jasanya dalam bidang sastra terutama dalam bidang Sastra Indonesia Modern.

Baca juga: Memperjuangkan Hak-hak Marbot Masjid 

Novel Belenggu dinilai tidak memenuhi kriteria pragmatik, tokoh-tokoh dalam Belenggu tidak memberikan contoh kepada masyarakat pembaca dan melanggar ketertiban dan budi pekerti masyarakat. Belenggu menampilkan tokoh dokter Sukartono seorang intelek yang memiliki simpanan seorang perempuan bernaman Yah, dan dari situ sudah jelas menggambarkah bahwa tokoh Yah sebagai perempuan tiak baik (bunga raya), itulah yang kemudian memunculkan istilah Belenggu. Namun dari cerita tokoh tersebut dinilai akan memalukan dan dapat mengguncangkan masayarakat terhadap kaum intelek.

Kritik terhadap Belenggu juga dilayangkan oleh teman seperjuangan Armijn Pane di Pujangga Baru, Sutan Takdir Alisjahbana. Oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Belenggu dinilai sebagai sebuah karya yang lektur defaitisme (Pujangga Baru, 1941) atau yang melemahkan semangat, meski betapa sekalipun gembira bunyi kata pendahuluannya. Sebabnya, “dunia baru” yang dilayari oleh para tokoh pada akhir novel itu sebenarnya masih dunia lama, dunia determinisme dan belenggu.

Terdapat nilai-nilai modernitas yang Armijn Pane masukkan ke dalam novel Belenggu melalui tokoh-tokohnya, sehingga ketika direfleksi dan didiskusikan novel ini mulai memengaruhi masyarakat untuk menyentuh taraf modernitas dan pertentangan yang keras antara “modern dan tradisonal”, “Barat dan Timur”, “kodrat dan hak asasi”, dan “Laki-laki dan perempuan”. Melalui Belenggu ini lah Armijn Pane memberikan pengalaman intelektual kepada pembaca, secara tidak langsung meminta masyarakat melepaskan budaya kolot dan nilai tradisi yang sifatnya membelenggu kebebasan manusia untuk berpikir dan bertindak. Semangat modernitas itulah yang kemudian menjadikan Novel Belenggu tidak diterima Balai Pustaka.

Baca juga: Pendidikan di Negeri Joko dan Dodo 

Related posts