Ngobrol Bareng Bupati di Posko Covid-19
Ndopok

Ngobrol Bareng Bupati di Posko Covid-19 

Di bulan puasa kali ini banyak sekali perubahannya, yaa walaupun sebetulnya saya sendiri tidak begitu banyak berubah dalam segi ibadah. Karena tetap saja saya masih haus akan pahala yang dijanjikan, atau setidaknya masih ingin terlihat suci di penglihatan orang-orang.

Perubahan yang ada di bulan puasa kali ini, tentu sangat ada hubungannya dengan adanya pandemi Covid-19. Siapa yang tak membicarakan ini, saya pikir hampir semua membicarakannya dari yang ahli sampai orang kampung macam saya ini, mungkin karena terlalu berbahaya bagi umat manusia tapi juga karena banyak hal yang bisa dilakukan di tengah pandemi covid-19. Artinya jelas, obrolan seputar covid-19 ini tidak ada batasan, sangking banyaknya yang membahas ada pula yang justru menjadikan bahan lelucon bagi sekelompok warga yang mungkin tidak begitu tahu akan bahaya dan mematikannya pandemi cobid-19 seperti yang media gambarkan hari ini.

Baik atas pandemi ini, menciptakan sarana untuk membangun kehangatan di tataran kelas yang paling bawah. Di kabupaten saya sendiri, khususnya di desa yang cukup terleposok dari jangkauan keangkuhan kota, warga berduyun-duyun turut membangun posko penanggulangan wabah Covid-19. Jangan salah, walaupun tidak begitu tahu cara untuk menanggulangi wabah ini, akan tetapi semangatnya luar biasa dari biasanya. Bayangkan, di tengah banyaknya anggaran yang ditujukan bagi warga dalam menghadapi pandemi ini dari pemerintah, justru dalam membangun posko di dusun kami itu hasil dari pada gotong royong tanpa tersentuh biaya dari pemerintah. Walaupun sebetulnya meraka juga turut iuran dalam bentuk pajak yang dibayarkan, tidak hanya berhenti pada mendirikan posko, untuk operasionalnya seperti konsumsi juga dipenuhi secara sukarela oleh warga untuk disumbangkan bagi orang yang berjaga di posko.

Kala itu, saya mendapat arahan dari bapak selepas salat tarawih, “Nak, malam ini jadwal kamu untuk berjaga di posko. Nanti bawa air putih panas dan air teh untuk warga yang ikut berjaga,” himbauan dari bapak yang sudah cukup tua.

Baca juga: Akankan Virus Covid-19 Bernasib Seperti Flu Spanyol? 

Kebetulan bapak itu aktif di desa, jadi ikut membuat jadwal dan menginformasikan ke warga. Maklum, dulunya pernah ada keniatan maju sebagai kepala desa, namun mengurungkan niatnya mungkin karena masih sibuk mengabdi di sekolah tingkat dasar dan SLTA. Tapi waktu itu, saya sempat mendengar perbincangan antara bapak dan kepala sekolah terkait niatanya untuk maju menjadi kepala desa. Kepala sekolah kurang lebih berucap seperti ini, “lah mau jadi kepala desa bagaimana?, wong cari peserta didik baru saja nda dapat banyak,” sambil berkelakar. Maksudnya, kan nda mungkin bisa menang dalam menghadapi pesaing di pemilihan kepala desa karena belum bisa maksimal dalam mencari massa, contohnya dikaitkan dengan peserta didik yang bapak bawa untuk menjadi siswa-siswi di sekolahannya.

Balik lagi soal jadwal saya untuk berjaga di posko, ada yang cukup mengejutkan bagi saya, karena disaat berjaga, ada sebuah mobil plat merah yang menyambangi posko kami. Mobilnya cukup bagus, karena di posko tempat dimana saya berjaga itu terdapat portal untuk menghadang pengedara melewati dusun kami, portal tersebut biasanya akan di buka tutup. Kalau ada pengendara lewat akan ditanyakan kepentingannya apa, dari mana, mau kemana, dan juga akan di cek suhu tubuhnya dengan thermometer (alat pengukur suhu tubuh), alat ini didapat dari pemerintah desa, karena waktu itu warga memang butuh dan mau iuran belum tiba masa panen jagung dan cabainya. Akhirnya, terpaksa meminta kepada pihak desa.

Saya coba mendekat ke mobil tersebut, sembari basa-basi saya tanyakan si pengemudi tersebut, “selamat malam, ada kepentingan apa yah? malam-malam sepeti ini, dan anda dari mana?,” tanyaku yang juga mengenakan masker gratisan dari ibu-ibu PKK.

Tidak di sangka, orang yang mengendarai mobil tersebut itu orang nomor satu di kabupaten saya loh. Yah, dia adalah Bupati. Tapi yang mengherankan beliau mengemudikan sendiri mobil dinasnya, tidak ditemani oleh ajudan atau kepala dinas yang lain.

Baca juga: Problematika Minat Baca Masyarakat Indonesia 

Akhihrnya, beliau turun dari mobil dinasnya dan istirahat sejenak di posko dusun kami. “tolong ambilkan gula, teh, kopi, rokok di mobil saya mas,” ucap Bupati yang sudah duduk dan di kursi plastik. Dalam benak saya berucap “cocok sekali, saya sudah membawa air panas dari rumah dan malam ini ada rejeki dari Bupati untuk para penjaga posko”. Bupati langsung membuka pintu mobilnya dengan remote controlnya dari kejauhan, langsung saja saya mengambilkan barang-barang yang di perintahkan Bupati. “Mau dibuatkan apa ibu/bapak Bupati?,” tanyaku kepada beliau. Dari raut wajah beliau cukup terlihat wajah yang lelah, mungkin karena aktifitasnya sebagai pelayan warga sekabupaten, “wedang teh saja mas, ini singkon rebusnya boleh dimakan mas?,” ucap beliau, saya langsung ambilkan air teh tawar yang dengan gelas yang berukuran sedang. “monggo dimakan saja, kebetulan jamuan makanan yang ada disini itu hasil dari pemberian warga sekitar. Ini air teh nya,”. Hampir sekitar satu jam, penjaga posko dan Bupati terlihat akrab dalam obrolannya.

Karena susana dusun di pegunungan cukup dingin, saya memiliki inisiatif untuk membuat parungan (api unggun kecil-kecilan) untuk sekedar menghangatkan badan sembari membakar rokok dari Bupati. Apinya sudah mulai menyala, disamping parungan yang saya buat juga bisa untuk sambil mengobrol, Bupati pun juga ikut ke parungan. Sambil terus membuat bara api agar tetap menyalakan parungan, sesekali saya tanya banyak hal tentang dunia politik, ekonomi, sosial dan budaya khusunya di kabupaten yang beliau pimpin.

“Jadi bagaimana? untuk kelanjutan program Kawasan Industri di kabupaten?,” tanya saya, “gimana yah mas kondisinya seperti ini, kita ingin masyarakat memiliki penghasilan yang layak, dan juga kita ingin pertumbuhan ekonomi naik mencapi 7%. Mau nda mau, kita harus turut menghadirkan investor untuk mau berinvestasi di kabupaten kita. Tujuannya untuk bisa membangun industri yang nantinya juga menyerap tenga kerja bagi masyarakat.” Belum sampai pada penjelasan tentang kawasaan industri yang sebetulnya akan segara di bangun, saya terlebih dahulu bangun dari tidur saya (ternyata itu adalah mimpi saya bisa ngobrol bareng bupati di posko covid-19, di dusun yang cukup jauh dari jangkauan para elit politik).

Ya itulah, mimpi yang bisa saya ceritakan. Mimpi untuk memiliki pemimpin yang mau ngorol bareng di pasko covid-19.

Related posts