New Normal Segera Diterapkan, Bagaimana Nasib Pondok Pesantren?
Opini

New Normal Segera Diterapkan, Bagaimana Nasib Pondok Pesantren? 

Kasus corona di Indonesia mengalami angka fluktuatif yang tidak bisa terelakan dari hari ke hari. Data terbaru pasien positif corona di Indonesia sudah mencapai angka 23.851 kasus dengan penambahan kasus terbaru sebesar 686 pasien.

Ditengah kasus corona yang masih terbilang tinggi ini, Presiden Jokowi akan menerapkan konsep “New Normal”. Lantas apa itu New Normal?

Seperti dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Rabu (20/5/2020), Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita mengatakan, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal.

Namun, perubahan ini ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Jika kita melihat pernyataan diatas jelas bahwa konsep New Normal ini menuntut masyarakat agar hidup berdamai dengan virus mematikan ini. Lantas apakah semua elemen masyarakat sudah siap dengan segala ketentuannya dan dampak yang akan terjadi.

Langkah New Normal sendiri diharapkan bisa membangkitkan kembali perekonomian Indonesia setelah beberapa bulan ini mandek karena dampak pandemi Covid-19. Pemerintah sendiri akan menerapkan beberapa tahapan untuk melonggarkan berbagai kegiatan ekonomi.  

Pada fase pertama (1 Juni) pemerintah akan membuka kembali kegiatan industri dan jasa akan beroperasi dengan protokol kesehatan Covid-19. Mall belum boleh beroperasi, kecuali toko penjual masker & fasilitas kesehatan.

Baca juga: Menyambut Kehidupan Baru Bernama “New Normal” 

Fase kedua (8 Juni) Toko, pasar dan mall diperbolehkan pembukaan toko namun dengan protokol kesehatan

Fase ketiga (15 Juni), mall tetap seperti fase kedua, namun ada evaluasi pembukaan salon, spa, dan lainnya. Tetap dengan protokol kesehatan Covid-19 Sekolah dibuka namun dengan sistem shift.

Fase keempat (6 Juli), pembukaan kegiatan ekonomi dengan tambahan evaluasi untuk pembukaan secara bertahap restoran, cafe, bar, dan lainnya dengan protokol kebersihan yang ketat Kegiatan ibadah diperbolehkan dengan jumlah jamaah dibatasi.

Fase kelima (20-27 Juli) evaluasi untuk 4 fase dan pembukaan tempat-tempat atau kegiatan ekonomi dan kegiatan sosial berskala besar Akhir Juli/awal Agustus 2020 diharapkan seluruh kegiatan ekonomi sudah dibuka.

New Normal dan Kegiatan Belajar Mengajar di Pondok Pesantren.

Seperti yang kita ketahui dampak dari pandemi ini tidak hanya berdampak buruk terhadap perekonomian Indonesia. Salah satunya adalah sektor pendidikan. Sejak pemerintah mulai menerapkan kebijakan social distancing sekolah-sekolah di berbagai tingkatan sudah tak lagi menerapkan pembelajaran di kelas dan diganti dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Tak beda dengan lembaga pendidikan formal, lembaga pendidikan pondok pesantren pun pada akhirnya terpaksa harus memulangkan santri-santrinya dan meliburkan semua kegiatan di pondok pesantren.

Sejak konsep New Normal ini mulai mencuat ke berbagai media massa, kegamangan kini melanda dunia pendidikan pesantren. Sampai saat ini pun regulasi tentang penerapan pembelajaran di pondok pesantren belum diatur lebih jauh. Berbagai aturan yang dibuat oleh pemerintah sekadar menitikberatkan kepada protokol kesehatan mulai dari kedatangan santri dan berbagai kegiatan di dalam pondok pesantren.

Baca juga: Tradisi Nyadran di Brebes Tetap Ada Meski Ditengah Pandemi 

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mewajibkan pelajar/santrinya untuk tinggal di sebuah asrama tak boleh disepelekan. Para santri yang jumlahnya banyak dengan ruangan kamar atau kelas yang terbatas akan mempunyai PR lebih. Hal ini juga yang akan menjadi faktor-faktor khusus dari lembaga pendidikan lainnya diluar pondok pesantren agar lebih diperhatikan.

Lain cerita lagi ketika pondok pesantren yang mempunyai lembaga pendidikan formal di dalamnya seperti SD, SMP atau SMA, pondok pesantren tersebut akan lebih menanggung beban berat atas penerapan New Normal ini karena akan semakin besar pula potensi penularannya.

Ditengah angka kasus yang kian hari kian tinggi ini penerapan New Normal butuh pertimbangan yang matang agar tidak menjadi bumerang bagi masyarakat dan pemerintah selaku pemangku kebijakan.

Pelonggaran PSBB dan New Normal sejatinya bukan angin segar yang diterima oleh masyarakat. Namun dengan adanya kebijakan-kebijakan seperti itu masyarakat dituntut bisa tersadarkan betul bagaimana kepedulian terhadap pencegahan virus corona ini.

Sementara konsep New Normal ini sudah diterapkan faktanya masih banyak daerah-daerah yang kelimpungan menangani pandemi Covid-19 ini. Dampak-dampak lain yang nantinya akan timbul dari penerapan New Normal ini bahkan nantinya akan sama berbahaya dan tidak jauh lebih baik ketika penerapan PSBB masih berlangsung.

Related posts