Naik Angkot Setan
Joko Poleng

Naik Angkot Setan 

Angkot adalah singkatan dari angkutan kota, merupakan jenis transportasi umum sebelum banyak yang memiliki kendaraan pribadi, meski sekarang masih tetap ada. Angkot menjadi moda transportasi yang paling diminati. Angkot biasa digunakan untuk mobilisasi dari desa menuju pusat kota atau sebaliknya. Angkot di daerah pedesaan pada umumnya beroperasi sehabis subuh dan hanya sampai jam 4 sore.

Suatu waktu di desa Rembesmin, terdengar kabar adanya angkot setan, angkot tersebut beroperasi pada sore hari menjelang azan maghrib sampai dini hari, menurut pengakuan beberapa warga yang melihat angkot tersebut beroperasi, mendengar suara riuh dalam angkot dengan kondisi penumpang di dalam angkot tersebut sangat menyeramkan, dengan wajah penuh darah.

Kondisi tersebut, lantas menjadi alat untuk para orang tua untuk mengajak anak-anak yang masih bermain sampai adzan maghrib untuk segera merampungkan waktu bermainnya dan bergegas untuk segera masuk ke rumah, karena konon berita yang santer dan dipercayai warga setempat angkot setan tersebut akan mengajak mereka yang masih bermain menjelang senja, sehingga anak-anak pun ketakutan.

Suatu kejadian yang menyeramkan, dialami oleh salah seorang warga, sebut saja namanya Anwar. Ia seorang kepala rumah tangga yang berusia 30 tahun, rumahnya terletak di samping jalan raya, pekerjaannya adalah seorang tukang jahit. Sore itu, Ia melamun di depan teras rumah menjelang sore, Ia sedang terlilit hutang, sudah sana-sini Ia mencoba mencari pinjaman, namun nihil hasilnya.

Anwar berniat akan ke kota sore itu, untuk menggadaikan emas milik istrinya, sekalian untuk mencari bahan kain untuk dibuat baju, jam sudah menunjukan pukul enam sore. Lamunan Anwar dikagetkan dengan suara kelakson angkot yang berhenti di depan rumahnya, Anwar bergegas masuk membawa barang yang akan ia gadaikan. Ia berpamitan kepada istrinya untuk menuju kota, dan mengatakan bahwa angkot sudah menuggu di depan, Istrinya pun melihat dari jendela suaminya masuk angkot.

Baca juga: Manusia Sastra 

Ketika di dalam angkot, Anwar hanya penumpang seorang diri, di dalam angkot hanya ada supir dan kenet. Anwar melihat wajah supir dan kenet wajahnya pucat pasi, awalnya Anwar tidak curiga, Ia berpikir mungkin supir dan kenet tersebut hanya kecapaian. Di dalam angkot tersebut Anwar merasa merinding dan mencium bau anyir darah, Anwar pun mengajak supir dan kenet berbicara, namun tidak ada respon. Anwar membuang jauh-jauh pikiran negatif dan mencoba untuk tenang.

Angkot pun berhenti, ternyata ada yang naik, seoraang perempuan berwajah cantik, menggunakan daster putih dengan rambut terurai. Ia duduk disamping Anwar, bulu kuduk Anwar merinding dan hidung Anwar mencium aroma melati. Anwar pun bertanya sekedar basa-basi “hendak kemana mba?” Namun wanita trsebut tidak menjawab. Anwar pun sudah mulai curiga. Angkot pun berhenti kembali, ada yang naik sekelompok bocah gundul-gundul dan nampak jail.

Anwar pun merasa gelisah, Ia merasa angkot tak kunjung sampai-sampai. Ia curiga bahwa Ia dibawa oleh angkot setan. Anwar melihat ke jendela, dan Ia terkejut sekligus terperanjat saat memandang keluar, angkot tersebut mengapung di tanah sekitar satu meter. Anwar pun langsung mengucap istighfar, dan seketika itu Ia jatuh ke tanah, beruntung Anwar tidak jatuh kebatu-batuan, Anwar tak henti-hentinya menyebut asma Allah.

Anwar sekarang berada di tengah hutan, letak hutan tersebut agak jauh dari rumahnya, namun Ia pernah kesini. Saat anwar duduk Ia mendengar sosok harimau, Anwar pun bergegas bersembunyi di semak-semak, namun akhirnya harimau itu pergi. Naasnya Jam yang Anwar pakai ternyata mati, sehingga Ia tak tahu sudah jam berapa.

Terdengar suara adzan yang membuat hati Anwar tenang. Anwar memutuskan untuk kembali ke rumah ketika pagi, menunggu pedagang gula aren yang biasa lewat hutan tersebut menuju desa Anwar. Anwar memutuskan menunggu di gubuk yang biasa di singgahi pedagang gula aren. Akhirnya anwar pun berhasil kembali ke rumah dan selamat dari serangan angkot setan itu.

Baca juga: Hantu Tentara Belanda Dan Noni Belanda

Related posts