Nadiem dan Masa Depan Pendidikan Indonesia
(Sumber: Antara Foto)
Opini

Nadiem dan Masa Depan Pendidikan Indonesia 

Banyak kejutan yang dibuat Presiden Jokowi dalam menunjuk menteri untuk membantu menjalankan roda pemerintahan di Kabinet Indonesia Maju Jokowi-Ma’ruf. Ada nama baru yang muncul, ada wajah lama yang menduduki posisi baru. Ada pula wajah lama yang kembali menduduki posisi seperti sedia kala di Kabinet Kerja Jokowi-Jk.

Ada juga yang kontroversial menurut publik. Mulai dari ditunjuknya rival politik, Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan, Fachrul Razi dari kalangan militer sebagai Menteri Agama dan yang tak kalah mengagetkan banyak orang dan menjadi fokus penulis adalah penunjukkan bos Gojek, Nadiem Makarim menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Kenapa saya bilang mengagetkan?

Pertama-tama, berbicara tentang kepantasan untuk memimpin hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan, tentu yang lebih pantas memimpin adalah orang yang telah lama bergelut di dunia pendidikan. Karena, saya yakin mereka telah mengerti betul tentang  lika-liku permasalahanya dan mampu menawarkan solusi-solusi memajukan terhadap dunia pendidikan kita dengan bekal pengalaman mereka.

Sekarang bayangkan, kita punya menteri pendidikan berlatar belakang pendiri start-up yang tidak bersentuhan dengan dunia pendidikan sama sekali. Itu sama saja menunjuk orang buta sebagai pengarah jalan. Ini yang menjadi problem dan buah bibir masyarakat terkait masa depan dunia pendidikan kita. Minimal dalam 5 tahun kedepan selama masa kepemimpinan Nadiem.

Soal banyak pihak yang meragukan kemampuanya dalam mengurusi soal pendidikan, ia menanggapi secara tegas bahwa dirinya pasti akan bisa menjalankan tanggung jawab yang sebesar ini. Hal tersebut ia sampaikan saat memberi sambutan dalam Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91 di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Senin (28/10/2019).

Pertanyaanya, strategi macam apa yang akan digunakan oleh Nadiem Makariem?

Perlu diingat bahwa upaya untuk membangun sumberdaya manusia yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif ringan. Kita masih menghadapi sejumlah masalah yang sifatnya berantai sejak pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya.

Belum lagi masalah pemerataan pendidikan, bagaimana sistem pendidikan mampu menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan. Seperti apa yang telah diamatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 dalam salah satu poin pada pembukaan yang berbunyi ‘Mencerdaskan Kehidupan Bangsa’.

Selanjutnya, bicara tentang mutu pendidikan. Bagaimana mutu pendidikan kita masih lemah dalam banyak hal dibanding negara lain. Di tingkat SD/MI/SMP dan SMA hampir semua sekolah yang terakreditasi memiliki titik lemah pada standar kelulusan.

Mutu pendidikan yang baik, ditunjang oleh komponen yang baik pula. Komponen itu meliputi peserta didik, tenaga pendidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar.

Setelah diamati, terlihat jelas bahwa masalah serius saat ini adalah mutu pendidikan yang masih rendah. Itulah penyebab yang menghambat penyediaan sumber daya manusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang. Masalah rendahnya mutu pendidikan ini juga yang membuat kita masih ketinggalan jauh dibanding negara-negara lain, bahkan dengan negara-negara ASEAN sendiri.

Pada dasarnya, ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di Indonesia saat ini. Pertama, bagaimana semua warga negara dapat menikmati kesempatan pendidikan. Kedua, bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat.

Coba kembali kita bayangkan: akankah orang dengan latar belakang pengusaha yang tidak sama sekali ada kaitanya dengan pendidikan bisa menjawab segala problematika pendidikan di Indonesia?

Masih dalam sambutan pidatonya pada Upacara Peringatan Sumpah Pemuda di Kantor Kemendikbud. Ia menegaskan bahwa waktulah yang akan menjawab terkait ekspektasi masyarakat yang begitu tinggi terhadap perubahan untuk kemajuan dunia pendidikan di Indonesia.

Ia harus mulai mengakrabi orang-orang yang telah lama bergelut di dunia pendidikan. Bersama merekalah, segala persoalan atau permasalah yang dihadapi dunia pendidikan dapat segera dicarikan ramuan sebagai gebrakan untuk perubahan menuju kemajuan.

Terkait bagaimana pendidikan Indonesia 5 tahun mendatang di bawah kepemimpinan Nadiem, saya kira masih sangat dini untuk menyimpulkan apakah dia mampu membawa perubahan untuk kemajuan atau malah kemunduran. Wallahu a’lam.

Pastinya, Nadiem adalah menteri termuda mewakili generasi millenial di kabinet Indonesia Maju Jokowi-Ma’ruf. Biasanya, pemudalah yang bisa merubah tatanan sosial dengan ide, gagasan, dan solusi untuk kemajuan. Dengan begitu, tidak penting menyoal lebih jauh terkait identitas. Tapi, lihat saja apa yang dilakukan dalam 5 tahun mendatang.

Jika seiring berjalannya waktu dirasa pendidikan kita makin terpuruk seperti kebanyakan pengemudi ojek online saat menanggung cicilan sepeda motor dalam kondisi buron oleh debt collector, maka janganlah diteruskan. Sebaiknya, Nadiem Makariem mundur secara terhormat.

Sebaliknya, tentu kita berharap akan ada semacam gebrakan perubahan dari Nadiem Makariem untuk pendidikan yang lebih baik, maju dan berkualitas. Sehingga, kelak akan menjadi sejarah tersendiri bagi Nadiem dan masa depan pendidikan Indonesia.

Related posts