Muhammadiyah dan NU, Apa Pengaruhnya Di Desa Plompong Brebes?
Brambang

Muhammadiyah dan NU, Apa Pengaruhnya Di Desa Plompong Brebes? 

Menjadi pekerjaan rumah khususnya bagi para generasi muda hari ini dalam menlanjutkan gerak sejarah, khususnya di Desa Plompong. Mau bagaimanapun, kita yang muda secara pasti akan melanjutkan babak sejarah baru. Aktivitas hari ini adalah sebab yang konkret untuk kedepannya, maka dari itu pemahaman akan sejarah dan kondisi saat ini menjadi suatu yang perlu di dalami. Para sesepuh di Desa Plompong tentu memiliki ciri dan karakteristiknya sendiri pada massanya, yang ikut membentuk budaya dan tradisi yang kita lakukan hari ini.

Lebih jauh, menurut Gadamer dalam kutipannya Poespoprodjo, “agaknya tidak dapat diragukan lagi bahwa cakrawala besar masa lalu tempat kebudayaan dan masa kini kita hidup, memengaruhi kita dalam setiap hal yang kita maui, kita harapkan atau kita takutkan dan khawatirkan di masa depan”. Gadamer, menyatakan bahwa pemahaman adalah historikal, maka masa lalu berpengaruh secara aktif pada masa kini. Masa kini dapat dilihat dan dipahami dengan baik hanya melalui pencermatan terhadap konsep-konsep yang diwarisi dari masa lalu. Gadamer memandang masa lalu seperti arus yang memungkinkan kita bergerak dan mengambil bagian dalam setiap aktivitas pemahaman.

Sebagai pemuda, kesadaran tentang kesejarahan tentu akan mempengaruhi dalam setiap aktifitasnya. Oleh karena itu, pemahaman yang utuh terkait sejarah di Desa Plompong bisa menjadi latarbelakang bagi pemuda untuk melanjutkan kehidupan di desa dengan tetap membawa nilai-nilai kesejarahan. Sudah barang tentu, sesepuh di desa mewariskan nilai-nilai luhur atau pun misi yang akan di emban oleh anak cucunya. Saya pikir, ini adalah realitas yang juga di sadari oleh pemuda di desa bahwa setiap apa yang di wacanakan di keluarga masing-masing mengarah kepada tujuan-tujuan yang disepakati dan akan dicapai.

Baca juga: Pemkab Brebes Memang Paling ‘Lemot’, Jadi Jangan Berharap Lebih 

Mohon maaf, hari ini apakah kondisinya sudah lebih baik dari standar hidup yang ada? Katakan seperti ini, tinjauan dari aspek sumber daya manusia, pendidikan, perekonomian, serta hal-hal yang mendasar, apakah dari semua itu sudah terpenuhi ataupun layak didapatkan oleh generasi muda di desa?. Hal inilah yang juga penting untuk diperhatikan, bagaimana generasi muda mampu dan berani membuat gagasaan untuk perbaikan kedepannya, tentu untuk mempersiapkan generasi muda yang mampu melanjutkan misi dari sesepuh di desa. Sepertinya ini adalah pekerjaan rumah bersama bagi setiap yang memiliki kemampuan untuk bisa turut serta dalam aspek yang sudah disebutkan diatas.

Bicara mengenai Desa Plompong tentu kita akan menemui Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, karena jelas kegiatan hampir rutin setiap minggunya dan juga aktifitas lembaga pendidikan dari kedua organisasi tersebut. Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912, NU berdiri pada tahun 1926, sama-sama lahir sebelum Indonesia merdeka.

Menurut Sudarno Shobron dalam jurnal Eksistensi Muhammadiyah Dan Nahdhatul Ulama Di Desa Plompong, Sirampog, Brebes, Jawa Tengah (Studi Perbandingan), menyatakan Muhammadiyah Ranting Sirampog berdiri pada tanggal 12 Februari 1964, bersamaan dengan berdirinya Ranting Manggis, Benda, Kaliloka, Sirampog dan Sangang Jaya. Pimpinan Ranting Muhammadiyah dilantik oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bumiayu (karena untuk Kecamatan Sirampog belum dibentuk Pimpinan Cabang) dan dihadiri oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Brebes yang diwakili oleh ketua umumnya yaitu K.H.A. Kalyubi dan Suci Martiko dari Kodya Pekalongan.

Berdirinya Muhammadiyah Ranting ini tidak lepas dari kondisi sosial politik yang terjadi pada tahun 1960 an, yakni pertarungan ideologi komunisme dan Pancasila, dan keinginan sebagian kecil umat Islam untuk berusaha mendirikan Negara Islam Indonesia (NII).  Kondisi tersebut menjadi motivasi sebagian warga masyarakat yang memiliki komitmen dengan Islam mulai berfikir dan prihatin dengan fenomena yang ada di sekelilingnya, dan Bpk. H. M. Machroni mulai menggagas ide untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah dengan beberapa teman seperjuangan untuk membentuk Pimpinan Ranting Muhammadiyah.

Baca juga: Akankah 2020 Indonesia Krisis Moneter Ditengah Pandemi Corona?

Masih Menurut Sudarno Shobron, cikal bakal keberadaan NU di Desa Plompong bermula adanya perkumpulan yang bernama Jam’iyah Tahlil. Perkumpulan ini didirikan oleh K.H. Masykur Laren untuk mewadahi para kyai atau ulama atau dai yang ada di Desa Plompong dan sekitarnya. Aktifitas perkumpulan ini tidak jauh dari kegiatan-kegiatan dakwah pada tahun 1960-1965 an. Misi perkumpulan ini sebenarnya tidak jauh beda dengan NU yaitu sebagai sebuah organisasi yang mewadahi para ulama, sebab akses informasi masa itu masih sangat sulit sehingga dapat dipahami jika pada tahun 1962 secara resmi dibentuk kepengurusan Nahdatul Ulama di Ranting Desa Plompong, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Dan Rois syuriyah yang pertama pada waktu itu adalah K.H. Masykur Laren sekaligus ketua PRNU yang pertama dipegang juga oleh K.H. Masykur Laren. Kyai Shoim Syukri juga menyatakan bahwa dirinya pernah bergabung dalam Laskar Hisbullah yang ikut berjuang melawan penjajah. Kyai Shoim Syukri yang juga pernah mondok di pondok pesantren Kaliwungu juga menjelaskan setelah NU berdiri juga ada organisasi yang mewadahi orang-orang NU yaitu Parmusi, di parmusi yang bergabung bukan saja orang-orang NU tetapi ada orang diluar organisasi NU. Selain K.H. Masykur Laren tadi pendiri NU di desa Plompong lainnya adalah H. Muhdi Benda, Nadiman, Mudhir (GP Anshor), K.H. Tauhid dan 12 orang yang lain diantaranya ketua ranting NU Desa Plompong, yakni Bapak Shoim Syukri.

Para sesepuh kita baik di Muhammadiyah ataupun NU sudah jelas gerakannya, Muhammadiyah hari ini  sudah mampu mendirikan Amal Usaha Muhammadiyah. Misalnya di Desa Plompong seindiri, muhammadiyah sudah mendirikan TK ABA, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Sekolah Menengah Kejuruan, Pondok Pesantren, Majlis Ta’lim, Masjid, Musholla, dan Pusat Kegiatan Dakwah. NU yang berdiri pada tahun 1926 dan masuk ke Desa Plompong tahun 1962, dua tahun lebih dahulu dari Muhammadiyah, mampu mendirikan Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Sekolah Menengah Kejuruan. Ini bukan hanya persoalan pendirian bangunan dan gedung semata, akan tetapi ketepatannya dalam melihat realitas sehingga gagasannya menjadi solusi konkret untuk masyarakat khususnya di Desa plompong.

Pemahaman akan kesejarahan, bisa mengurangi konflik yang kontra produktif. Artinya, kejelasan latarbelakang kedua organisasi di Desa Plompong berdiri tidak lain sebagai bentuk gerakan untuk perbaikan masyarakat khusunya di bidang keagamaan dan juga sampai pada bidang pendidikan serta ekonomi. Ini menjadi catatan penting, khususnya bagi generasi muda di Desa Plompong. Pertanyaan selanjutnya adalah, jika pemahaman kesejarahan salah satunya terkait dua organisasi yang terbukti menjadi wadah pemberdayaaan bagi masyarakat di Desa Plompong, lalu apa yang akan kita lakukan untuk melanjutkan hal tersebut?. Selamat berproses dan semoga banyak jawaban yang konkret bukan bualan semata.

Related posts