Mengenang Sapardi dan Penantian pada Puisi “Hujan Bulan Juni”
Tokoh

Mengenang Sapardi dan Penantian pada Puisi “Hujan Bulan Juni” 

Sapardi Djoko Damono, Eyang sastrawan yang justru digandrungi oleh kawula-kawula muda, puisi-puisi yang dibawakan konon bisa menjadi mantra bagi sebagian muda-mudi yang sedang kesandung cinta. Kini, sosok Sapardi telah berpulang ke pangkuan Sang Maha Kuasa pada Minggu, (19/7/2020) pukul 09.17 WIB. Kita terlalu sibuk mempersiapkan hati di bulan Juni hingga lupa kalau ternyata air mata harus turun deras di bulan Juli bersamaan dengan kepulangan Pak Sapardi, hujan pun kini turun di bulan Juli; bukan Juni.

Peranan Sapardi Djoko Damono dalam kehidupan sastra Indonesia sangat panting. A. Teeuw dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989: 141-142) menyatakan bahwa Sapardi adalah seorang cendekiawan muda yang mulai menulis sekitar tahun 1960. Ada perkembangan yang jelas terlihat dalam puisi Sapardi, terutama dalam hal susunan formal puisi-puisinya. Oleh sebab itu, sudah barang tentu sangat perlu mengikuti jejak Sapardi dalam tahun-tahun mendatang. Sapardi dikenal sebagai seorang penyair yang orisinil dan kreatif, dengan percobaan-percobaan pembaharuannya yang mengejutkan, tetapi dalam segala kerendahan hatinya, boleh jadi menjadi petunjuk tentang perkembangan-perkembangan mendatang.

Puisi Sapardi dikagumi Abdul Hadi W.M. dengan alasan bahwa puisi Sapardi banyak kesamaan dengan yang ada dalam persajakan Barat sejak akhir abad ke-19 yang disebut simbolisme. Untuk bisa memahami karya-karya Sapardi dengan sebaik-baiknya, kita harus ingat bahwa Sapardi dengan sengaja memilih tiap kata tetap berada dalam hubungan konvensi-konvensi persajakan.

Pamusuk Eneste dalam bukunya Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern (1988) memasukkan Sapardi Djoko Damono ke dalam kelompok pengarang Angkatan 1970-an. Beberapa penghargaan dan hadiah sastra diterima Sapardi Djoko Damono atas prestasinya dalam menulis puisi. Tahun 1978 Ia menerima penghargaan Cultural Award dari Pemerintah Australia.

Tahun 1983 dia memperoleh hadiah Anugerah Puisi-Puisi Putera II untuk bukunya Sihir Hujan dari Malaysia. Tahun 1984 mendapat hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta atas bukunya yang berjudul Perahu Kertas. Tahun 1985 menerima Mataram Award. Tahun 1986 dia menerima hadiah SEA Write Award (Hadiah Sastra Asean) dari Thailand. Dari Ensiklopedia Sastra Indorresia Modern Sapardi juga mendapat Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1990. Tahun 1996 juga memperoleh Kalyana Kretya dari Menristek RI. (Deden Much. Damadi, 2018).

Baca juga: Selamat Jalan Didi Kempot, Musisi Jawa yang Konsisten dalam Berkarya 

Puisi-puisi Sapardi tidak ada satupun yang tidak populer, diantaranya puisi Hujan Bulan Juni dapat dimaknai dengan melihat judul yang dibuat oleh sapardi, yaitu hujan di bulan Juni. Seperti yang sudah kita tahu bahwa bulan Juni berada pada musim kemarau yang jarang sekali terjadi hujan. Jadi hujan bulan Juni dapat disimbolkan sebagai penantian. Dalam puisi ini menggambarkan seseorang yang tengah menanti seseorang yang ia kasihi.

Untuk memaknai puisi Hujan Bulan Juni secara kesuluruhan dapat dilihat pembacaan hermeneutik dari setiap baitnya. Bait pertama menggambarkan ketabahan seseorang dalam menanti sang pujaan hati. Ketabahannya tidak sebanding dengan tabahnya hujan di bulan Juni, yang sangat tabah sedangkan dirinya tidak setabah itu. Pada bait ini juga digambarkan bahwa ia menyembunyikan rasa rindunya kepada pujaan hatinya. Pohon berbunga itu diartikan sebagai seseorang yang indah dan dinanti. Bait kedua menggambarkan kebijakan seseorang yang sangat bijak dan tidak ada yang melebihi kebijakan penantiannya itu.

Ia menghapus semua jejak yang pernah ada dari rasa ragu atau keraguan yang telah menghinggapi pada dirinya. Bait ketiga menggambarkan bahwa tidak ada yang lebih arif dari sebuah penantiannya. Ia hanya menyimpan rasa rindu dan cintanya itu dengan berdiam diri. Pada bait ketiga ini juga digambarkan bahwa sebuah penantian yang diikuti dengan rasa ikhlas maka akan berbuah manis. Cinta yang ia pendam selama ini akhirnya diterima sang pujaan hati, hal ini dapat dilihat dari larik ke-4 pada bait terakhir “diserap akar pohon bunga itu”.

Dan ia membiarkan tidak terucap segala apa yang ia rasakan selama penantian. Dari ketiga bait puisi tersebut dapat dimaknai bahwa apabila kita mencintai seseorang dan kita menanti perjumpaan dengannya kita harus seperti hujan di bulan Juni, yang sangat jarang terjadi. Penantian yang dilakukan harus sangat tabah, bijak, dan arif. Kita harus bisa menahan rasa rindu dan menghapus pikiran-pikiran yang negatif pada diri kita. Sehingga, penantian yang selama ini dilakukan tidak akan sia-sia dan akan berbuah manis.

Pada akhirnya, penantian yang benar-benar ditunggu Sapardi telah datang. Beberapa patah segera dikabarkan kepada langit lalu dijemput oleh angin, dan tak sampai kepada siapapun hanya pada sosok teladan penuh inspiratif; Kau kini tengah tenang bersama angin-angin putih. Selamat jalan Sapardi, yang fana adalah waktu, karyamu abadi.

Baca juga: Mengenang Sejarah Kepenyairan Chairil Anwar 

Related posts