Memperbaiki Hubungan, Menghubungkan Kebaikan
Ndopok

Memperbaiki Hubungan, Menghubungkan Kebaikan 

Baik, saya akan mencoba sedikit menuliskan berbagai hal yang berkaitan dengan hubungan antar manusia. Keluarga, pertemanan, dan lingkungan jelas sangat mempengaruhi kepribadian kita hari ini. Artinya, faktor di luar diri kita sangat mungkin menentukan karakter kita sebagai manusia. Hal ini jelas berbeda-beda karena kita hidup di tengah keberagaman yang nyata, tentu banyak model atau ciri yang juga turut membentuk kepribadian seseorang.

Di sini diperlukan adanya pengertian ketika sedang berhubungan dengan orang lain, atau yang sedang membangun sebuah hubungan yang lebih serius. Pengertian antar sesama sangat mungkin mengantarkan pada kesadaran dalam sebuah ikatan suatu hubungan, dengan mampu menghadirkan kesadaran tentu menunjang untuk dapat sama-sama saling mengerti satu sama lain.

Karena seperti ini, kita bisa saja membangun sebuah hubungan dengan siapapun, akan tetapi apakah ada jaminan dari keberadaan kita bisa diterima secara sadar oleh orang lain. Persoalannya ada hubungan yang bisa jadi penuh dengan tekanan, sehingga orang yang berada dalam hubungan tersebut hanya akan tergerak untuk melakukan sesuatu ketika ada pihak yang menekan. Permasalahnnya bukan soal sukses atau tidak sukses atas keinginan/kebutuhan yang sudah dicapai, akan tetapi prosesnya apakah betul-betul dilandasi kesadaran. Kalau hanya atas dasar tekanan dari salah satu pihak tentu proses yang dilakukan dengan tidak sadar, dan ini membuka peluang kekecewaan karena hasil/capainya tidak sesuai kedua belah pihak.

Tekanan bisa jadi akan mendorong orang bisa lebih produktif dalam mencapai sesuatu, akan tetapi untuk apa produktifitas tinggi akan tetapi sarat dengan tekanan yang memaksa. Ini bisa jadi akan berakibat pada gangguan mental seseorang, sebab orang yang tertekan cenderung akan merelakan dirinya sendiri untuk berkorban dengan tidak mempertimbangan bagi kesehatan atau kebaikanya sendiri.

Baca juga: Menjadi Lebih Baik Karena Ujian

Tidak hanya tekanan yang sangat mungkin berbahaya untuk sebuah hubungan, karena saya pikir hal ini berkaitan dengan kodrat kita sebagai manusia yang ingin bebas. Kebebasan di sini tentu bukan soal semau kehendak diri dalam artian ‘egois’ akan tetapi bebes untuk berbuat, bergerak, berekspresi sesuai dengan kodratnya sebagai manusia. Tentu kebaikan bisa jadi menjadi harapan yang ingin di capai oleh semua orang, ataupun dalam suatu hubugan. Kalau ternyata hubungan yang sedang dijalani tidak menuai kebaikan untuk bersama, lalu untuk apa?.

Menyesuaikan orang lain agar sesuai konsep atau pandangan sendiri, mungkin akan sulit. Kalau toh pun bisa, sangat memaksakan. Karena begini, kita hanya bisa saling mempengaruhi tapi tidak berwenang mengendalikan. Sebab, dengan adanya upaya sekeras apapun untuk dapat mengendalikan seseorang yang sedang menjalani suatu hubungan, justru kita akan mudah mengabaikan orang lain, padahal orang yang ingin kita kendalikan adalah manusai yang juga memiliki keinginan/kebutuhan yang bisa jadi sangat beragam.

Di atas sudah saya jelaskan bahwa keluarga, pertemanan, dan lingkungan sangat mempengaruhi kepribadian dan tentunya sangat beragam pula dari proses pembentukannya. Dengan kita berambisi mengendalikan seseorang, tentu akan sulit dan besar kemungkinan hanya akan menuai suatu masalah.

Mendahulukan kepentingan bersama itu baik, justru sangat mulia. Akan tetapi jika kepentingan tersebut justru secara tidak langsung merampas kepentingan kita, lalu apakah ada jaminan kita bisa tetap mendahulukan kepentingan bersama dalam suatu hubugan. Kan jelas, hubungan terdiri dari individu-individu yang sedang berusaha untuk membangun kepentingan bersama. Artinya, perlu proses untuk bagaimana bisa menggabungkan dari banyaknya kepentingan supaya bisa dicapai bersama, bukan sebiknya.

Sederhana, kita mungkin bisa saja melakukan semua hal untuk bisa membangun suatu hubungan dan mempertahankannya. Akan tetapi apa artinya kalau semua hal yang dilakukan atas dasar tekanan dan paksaan. Bisa jadi tetap bisa bertahan, tapi apa ada jaminan ada keharmonisan di dalamnya.

Baca juga: Pemberlakuan New Normal di Bidang Pendidikan Terlalu Memaksakan 

Mari evaluasi bersama dan saling menerima, tentu dengan syarat ada kesadaran di dalamnya. Kenapa kesadaran ini penting, yaitu tadi untuk menjadi dasar supaya kita mampu lebih jauh mengerti. Hubungan yang penuh dengan pengertian tentu akan melahirkan proses yang seimbang, menampung semua aspirasi dari pihak yang sedang berhubungan.

Tentu akan ada yang dikorbankan, jelas pasti ada mulai dari menahan supaya tidak egois, lebih sabar, serta belajar menerima satu sama lain seksama. Artinya, kekurangan dari sebuah hubungan bisa sangat mungkin dibenahi ketika adanya dialog yang sehat, bisa dengan diskusi untuk memecahkan suatu permasalahan untuk kemudian dicarikan solusi yang tepat untuk dapat dijalakan oleh semua pihak di dalamnya.

Sikap atau perilaku yang baik dari orang lain tentu ingin kita dapatkan, proses yang perlu kita lakukan adalah bagaimana bisa terus berbuat baik, sehingga orang akan menilai dan kemungkinan akan baik juga terhadap diri kita. Kecuali, kalau proses yang kita lakukan tidak baik, apa mungkin hasilnya akan baik.

Bukan berarti saya merasa dan mengaku paling baik, akan tetapi upaya untuk bisa baik tentu perlu dilakukan. Dan ini bisa diterapkan dalam suatu hubungan, karena jelas ada kepentingan bersama dalam suatu hubungan dan butuh dijaga dengan kebaikan-kebaikan di dalamnya. Upaya memperbaiki hubungan dan menghubungkan kebaikan, bukankah hal yang sangat bisa kita lakukan. Oleh karena itu, mari mulai dengan menghadirkan kesadaran dalam suatu hubuugan serta menerima betul atas proses suatu hubungan tentunya dengan pengertian yang mendalam satu sama lain dalam berhubungan.

Sulit pasti ada, karena ini proses. Proses untuk bagaimana bisa lebih baik dan benar.

Related posts