Membaca Kembali Pesan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari
Tokoh

Membaca Kembali Pesan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari 

Izinkan Rembesmin mengulas sedikit isi pidato pembukaan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari pada muktamar NU ke-16 di kota Purwokerto. Rembesmin pikir ini sangat menarik, lantaran bisa digaris bawahi bahwa memicu semangat untuk membangkitkan daya nalar setiap individu muslim khsusnya kaum Nahdliyin. Beliau, dalam pidatonya mengulas pentingnya menaikan pola pikir dengan maksud untuk bisa memikirkan hal yang lebih besar, seperti memikirkan keadaan umat dan bangsa. Dari hal demikian, individu tidak terjebak hanya sibuk memikirkan diri sendiri, yang menjadi titik tekan adalah untuk mampu memaksimalkan potensi daya nalar dengan berperan aktif dalam pemikiran seputar hal-hal yang jauh lebih besar cakupan dan dampaknya.

Sebagai generasi muda, apalagi generasi Nahdliyin, perlu kiranya melanjutkan misi yang sudah di bangun oleh para sesepuh. Ulasan terkait pesan dari Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari menurut Rembesmin sangat relevan pada dewasa ini, sebab sudah semakin terbuka akses untuk membantu meningkatkan daya nalar, lihat saja toko buku sudah tidak sulit ditemukan, sekolahan sudah semakin menjamur di penjuru kota dan desa, perguruan tingi mulai menampakkan eksistensinya di kehidupan. Artinya, dengan banyaknya akses serta media yang bisa digunakan, generasi Nahdliyin sekarang mampu menggunakan itu sebagai pembantu dalam mengasah daya nalar. 

Baca juga: Pendaftaran Kampus; Seharusnya Sistem Online Sudah Dimaksimalkan Sejak Dulu 

Baiklah, langsung saja Rembesmin sajikan penggalan pidato Hadlratusy Syaikh Hasyim Asy’ari yang dikutip dari buku Berangkat Dari Pesantren karangan KH. Saifuddin Zuhri pada halaman 433, di bab Yogyakarta Ibu Kota Hijrah. Ada tiga pokok bahasan yang menjadi inti dalam pembahasan tersebut, mari kita perhatikan dengan seksama antara lain sebagai berikut:

Pokok Pertama:

Beliau menghimbau khususnya kepada para ulama dan pemimpin untuk tetap bersyukur karena memiliki kelebihan dari rakyat pada umumnya, sebab kealiman dan jabatan para ulama dan pemimpin tidak diberikan secara cuma-cuma karena tetap akan ada pertanggungjawaban baik di dunia maupun di akhirat. Melihat kondisi masyarakat yang sudah tidak lagi terjajah, bagi yang hanya berpikir pada soal rumah tangganya dan pekerjaan yang berat, hal ini menjadi sutau pertanda kematian moral. Beliau menghimbau untuk bisa menjadi bagian dari umat yang merdeka, memberontak, bangkit, hidup dan mengetahui arti kemuliaan dan kehormatan.

Beliau juga meyebutkan sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW, yang meningkatkan tingkat berpikirnya. Sebagai contoh, Sayidina Abu Bakar r.a, yang dahulunya hanya memikirkan keadaannya sendiri terkait perdagangan dan pasarnya. Tetapi kemudian di zaman Madinah, ia mulai memikirkan soal-soal militer dan urusan-urusan negara. Bisa di lihat dari pengorbanan Sayidina Abu Bakar r.a,. akan segala harta bendanya guna jaisyil usroh (tentara yang dibentuk di waktu kesengsaraan). Juga Sayidina Khalid bin Walid r.a, kalau tidak memperluas tingkat bepikrinya seperti di zaman Jahiliyah, dengan mudah akan puas hanya menjadi komandan kecil yang memimpin tentara dari ratusan prajurit saja dan tidak berpeluang menjadi komandan yang memimpin 45.000 prajurit. Begitupun Sayidina Umar bin Khattab kalau tidak memperluas tingkat berpikirnya tentu tidak berpeluang menjadi kepala negara Republik Islam yang pengembangannya meluas mulai dari Syam (Syria) sampai ke Yaman, hingga ke Iran dan Mesir. 

Pokok Kedua:

Dengan tercapai kemerdekaan bangsa Indonesia yang sudah diperjuangkan, tidak berarti telah rampung urusannya. Beliau, memberitahu bahwa ada babak perjalanan baru yang pendek jaraknya (perjalanan dekat) tetapi sangat sukar dan penuh bahaya, beliau menggambarkan bahwa karena sudah robohnya gedung penjajahan dan perbudakan maka selanjutnya adalah untuk mampu mendirikan gedung yang baru yang sesuai untuk ditempati. Tidak bisa dipungkiri dengan banyaknya aliran tentu, juga berdampak pada adanya kepentingan yang beragam. Hal inilah yang memicu perdebatan serta perselisihan maka kita harus mampu untuk tetap bekerja dengan tenang dan diam yang berfaedah, serta tidak terpancing dengan adanya propaganda.

Baca juga: DPR RI Ngotot Bahas Omnibus Law Ditengah Pandemi Corona 

Kita bisa mencontoh teladan Nabi Muhammad SAW yang dalam menghadapi makian dan propaganda dari lawan-lawannya, beliau tetap melakukan perkerjaan-perkerjaan dengan terus menerus serta diam dan tenang. Akan tetapi tetap memusatkan perhatiannya untuk mendidik dan melatih generasi supaya mampu berperan dalam bidang ekonomi, politik, militer, sipil, industri, dan lainnya.

Pokok Ketiga:

Bahwa pada masa penjajahan, upaya untuk membangkitkan hati umat, mencerdaskan umat, dan untuk menysusun barisan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sampai pada umat Islam Indonesia mampu melespakan diri dari ikatan perbudakan dan kehinaan, akan tetapi jangan terkecoh sebab penjajah kembali datang dengan alat-alatnya, perkakas-perkakasnya, serta tipu muslihat yang bisa jadi akan membuat ragu hati orang Indonesia. Ini menjadi kewajiban kita untuk menyadarkan sikap untuk tetap berjuang seperti awal perjuangan dalam menghadapi penjajah, hal ini sesuai surat Ali Imron ayat 173.

Para ulama sudah menjelaskan bahwa hukum berperang adalah fardhu kifayah (cukup dijalani oleh sebagian), akan tetapi ada pengecualian bahwa kalau kaum kafir telah memasuki negeri Islam atau menyerbu ke dekat Islam maka berperang hukumnya fardhu ‘ain (harus dijalakan). Demikian pendirian umat adalah bulat untuk mempertahankan kemerdekaan dan membela kedaulatan dengan segala kekuatan dan kesanggupan. Gerakan Islam pada masa ini dan hubungannya dengan gerakan masa datang bukanlah gerakan untung rugi, akan tetapi gerakan yang pada pokoknya satu diantara dua, Islam hidup dan umat Islam mulia atau Islam runtuh dan umat Islam runtuh. 

Itulah tiga pokok yang Rembesmin rangkum dalam kesempatan ini, semoga bagi kita siap dan mampu untuk tetap berperan aktif dalam mempertahakan serta mengisi kemerdekaan  dan jangan lupa untuk tetap berupaya menyelaraskan misi para pendahulu pada gerakan generasi sekarang.

Related posts