Manuskrip Jawa Ilm Kalam 1: Tidak Berakal Orang yang Tidak Mengetahui Sifat-sifat Allah
Seni dan Budaya

Manuskrip Jawa Ilm Kalam 1: Tidak Berakal Orang yang Tidak Mengetahui Sifat-sifat Allah 

Ketika seseorang sudah balig, yaitu telah sampai pada masa dimana telah mencapai kedewasaan maka bisa disebut mukalaf, orang yang dibebani dengan kewajiban-kewajiban beragama seperti salat, puasa di bulan Ramadhan, zakat dan lain-lain.

Setiap orang mukalaf wajib melaksanakan semua yang diwajibkan Allah atas dirinya. Wajib melaksanakan sesuai dengan apa (cara) yang diperintahkan Allah, yaitu harus dengan rukun dan syarat-syaratnya.

Namun, perlu diketahui bahwa kewajiban yang pertama kali bagi setiap orang mukalaf adalah mengenal Allah, yang menciptakannya dari tidak ada menjadi ada.

Baca juga: Bersama REMBES, Wahid Foundation Bagikan Sembako di Brebes | Ngobrol Bareng Bupati di Posko Covid-19 

Syaikh Ibrāhīm al-Laqqānī berkata:

.وَ اجْزِمْ بِأَنَّ أَوَّلًا مِمَّا يَجِبْ . مَعْرِفَةٌ وَ فِيْهِ خُلْفٌ مُنْتَصِبْ.

“Dan tetapkanlah bahwa kewajiban yang pertama adalah ma‘rifat dan di dalamnya telah menjadi perbedaan ulama.”

Hingga kini para ulama masih berbeda pendapat tentang ma’rifat seperti apa yang menjadi kewajiban pertama kali bagi seorang mukalaf. Meski begitu, dalam Manuskrip Jawa tentang Ilm Kalam telah dijelaskan bahwa ma’rifat yang dimaksud adalah mengenal sifat wajib, mustahil dan jaiz Allah.

Bahkan dijelaskan pula bahwa orang yang tidak mengetahui sifat wajib, mustahil dan jaiz Allah itu disebut orang yang tidak berakal.

Berikut kutipan manuskrip tersebut:

Bismillâhirraḥmânirroḥîm

Ikilah sifat rong puluh kang wajib ingatasé wong kang wis âqil bâligh lanang wadon iku kudu ngawéruhi iki kang supaya sampurna islamé lan esih imané lan diarani wong wis pinter satéméné karna pangèndiko kanjéng imam haromain wa man lam ya’rifhā falaisa bi’āqilin cara jawane lan sing sapa wonge ora wèruh ing sifat wajibe Allah ingkang rong puluh lan muḥal rong puluh jaize sawiji mangka wong iku dén arani ora duéni akal (…).

Artinya:
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah sifat dua puluh yang wajib bagi seseorang yang sudah baligh baik laki-laki maupun perempuan itu harus mengetahui supaya islam dan imannya sempurna dan juga dikatakan benar-benar pintar karena paduka mulia imam haramain berkata; barang siapa yang tidak mengetahuinya (sifat wajib, mustahil dan jaiz Allah) maka bukan termasuk orang yang berakal, menurut penafsiran jawanya ialah barang siapa yang tidak mengetahui dua puluh sifat wajib, dua puluh sifat muhal dan sifat satu sifat jaiz Allah maka orang itu dikatakan tidak berakal.

Adapun dua puluh sifat wajib Allah sebagai berikut:

Ālaihimuṣṣolatu wassalâmu ikilah pèrétélané sifat rong puluh kang ndingin iku wujūd qidām baqā muhālafatu lilhawādiṡi qiyamuhū binafsihi wahdā niyah qudroh irodah i’lmu ḥayah sama’ baṣar kalām qōdiran muridan a’liman hayyan sami’an baṣiron mutakaliman, maka dené bagi iku dadi papat dén arani sifat nafsiyah.

Artinya:
Semoga keselamatan dan kesejahteraan terlimpah untuk mereka (para Nabi Allah), inilah bagian-bagian sifat yang dua puluh diawali dari wujūd qidām baqā muhālafatu lilhawādiṡi qiyamuhū binafsihi wahdā niyah qudroh irodah i’lmu ḥayah sama’ baṣar kalām qōdiran muridan a’liman hayyan sami’an baṣiron mutakaliman, keseluruhan sifat ini jika dibagi terdapat empat bagian yang salah satunya dinamakan sifat nafsiyah.

Lantas bagaimanakah pembagian dua puluh sifat wajib milik Allah yang di dalam naskah tersebut salah satunnya dinamakan sifat nafsiyah? mari nantikan artikel berikutnya dengan mengangkat tema Manuskrip Jawa Ilm Kalam (2): Pembagian Sifat Wajib Allah.

Keterangan:
Naskah ini disimpan di Pondok Pesantren Al-Mansur, Popongan, Klaten, Jawa Tengah. Ia merupakan koleksi KH. Nasrun. Alas naskah terdiri dari kertas bergaris. Kondisinya masih cukup baik, lengkap, serta teksnya masih terbaca dengan baik dan jelas. Naskah tersebut bisa diakses melalui lektur.kemenag.go.id.

Related posts