Manusia Sastra
Seni dan Budaya

Manusia Sastra 

Suatu hari, segerombol seniman sedang melakukan safari seni dari mulai ujung Banten sampai Jogja hingga akhirnya berujung di Bali. Sesampaiya di Bali, mereka terkagum-kagum dengan kondisi rumah seseorang yang dijuluki sebagai “Presiden Penyair Malioboro” sebutlah namanya Arjuna, walau bukan nama aslinya minimal telah menjadi Arjuna dimasing-masing hati segerombol seniman itu. Dinding rumahnya bertuliskan, kira-kira begini;

Berabad-abad yang lalu, di suatu jalan menuju Athens, dua orang penyair bertemu. Mereka mengagumi satu sama lain.

Salah seorang penyair bertanya, “Apa yang kau ciptakan akhir-akhir ini dan bagaimana dengan lirikmu?”

Penyair yang seorang lagi menjawab dengan bangga, “Aku tidak melakukan hal ini selain menyelesaikan syairku yang paling indah, kemungkinan syair yang paling hebat yang pernah ditulis di Yunani. Isinya pujian tentang Zeus yang Mulia.”

Lalu dia mengambil selembar kulit dari jubahnya dan berkata, “Kemarilah, lihatlah, syair ini kubawa dan aku senang bila dapat membacakanya untukmu. Ayo mari kita duduk berteduh di bawah pohon cypress putih itu.” Lalu penyair itu membacakan syairnya. Syair itu panjang sekali.

Setelah selesai, penyair yang satu berkata, “Itu syair yang indah sekali. Syair itu akan dikenang berabad-abad dan akan membuat engkau masyhur.”

Penyair pertama berkata dengan tenang, “Dan apa yang telah kau ciptakan  akhir-akhir ini?”

Baca juga: Keangkuhan

Penyair kedua menjawab, “Aku hanya menulis sedikit. Hanya delapan baris untuk mengenang seorang anak yang bermain di kebun.” Lalu ia membacakan syairnya.

Penyair pertama berkata, “Boleh tahan, boleh tahan.”

Kemudian mereka berpisah.

Sekarang, setelah dua ribu tahun berlalu, syair delapan baris itu dibaca setiap lidah, diulang-ulang, dihargai dan selalu dikenang walaupun syair yang satu lagi memang benar bertahan berabad-abad lamanya dalam perpustakaan, di rak-rak buku dan walaupun syair itu dikenang, namun tidak ada yang tertarik untuk menyukainya atau membacanya.

Begitulah cerpen karya Kahlil Gibran yang tertulis di dinding rumah Arjuna.

Segerombol seniman itu tak banyak bertanya, hanya saja ada satu pertanyaan yang mengusik. Salah seorang dari mereka memberanikan diri untuk bertanya yang mengusik itu, “Adakah semacam moralitas atau nilai-nilai esensial kehidupan yang Anda yakini wahai Arjuna?”

Dengan tubuh yang terbungkus rapat: kaos dilapisi kemeja, celana tebal, syal di leher, dan tentu baretnya yang setia. Sesekali ia menghempaskan asap rokok sambil memberi wejangan pada para tamunya,

Ia mula-mula berbicara mengenai pemuda, “Setiap generasi punya talenta dan nafasnya sendiri-sendiri, semacam kekuatan dan semangat yang menggerakkan zaman yang menghidupinya. Mereka (orang-orang muda) bagi saya adalah “binatang yang lain”, yang selalu ingin menggelandang dalam perburuanya”

Ia melanjutkan, “Kalau kemudian mereka (orang-orang muda) itu menjadi sedikit nakal, itu saya anggap sebagai misteri penciptaan. Sayangnya, banyak dari guru-guru yang mengajari mereka cenderung memvonis. Tak tahu adatlah, tak tahu diuntunglah, apalah orang bilang. Jadi, kalau anak-anak muda datang, bertanya, belajar, malah dibilang bodoh. Tapi ingat, di balik sikap yang demikian, tersimpanlah kekuatan yang mengejutkan dan daya kreatifitas yang meledak-ledak dan harus dimengerti bahwa anak muda punya cara tersendiri untuk menyiasati hal itu.”

Baca juga: Ketika Upacara Ngasa Molor Gara-gara Menunggu Rombongan Bupati 

Kemudian obrolanya menjurus pada nilai-nilai esensial tadi, “Singkatnya, saya menggarisbawahi apa yang dikemukakan Sir Isaac Newton, “Siapakah saya di dunia ini”. Kadang-kadang saya melihat diri saya seperti anak kecil yang bermain di pantai, dan tiba-tiba melihat karang yang sangat jauh berbeda dengan yang pernah saya lihat di hari sebelumnya. Sementara di depan terhampar lautan kebenaran yang belum tersingkap. Bagi saya, inilah yang dimaknai dengan sastra.”

Ia melanjutkan, “Sekarang kita cenderung memilah kebenaran dalam hitam dan putih saja, sehingga absolut. Kebenaran dalam sastra sebenarnya kaya warna dan nuansa. Itu patut diperjuangkan. Toh, fungsinya adalah untuk memperkaya kehidupan.”

Hari mulai sore, senja di pulau Dewata menambah hiasan kenyamanan tersendiri dalam obrolan segerombol seniman yang kira-kira ada sembilan orang dengan Arjunanya.

Kopi dan beberapa cemilan habis. Mereka lihat rokok yang dihisap Arjuna itu yang terakhir. Sebelum benar-benar berpamitan untuk pulang, mereka secara serentak bertanya, “Apa bunyi delapan syair yang dibaca berulang-ulang, di setiap lidah, dihargai dan selalu dikenang dalam cerpen karya Kahlil Gibran yang ada di dindin itu,” sambil menunjuk dinding yang membuat mereka terkagum-kagum.

“He-he-he, carilah sendiri supaya lebih membuat kalian terkesan. Tapi saya akan memberi tahu yang lain. Hanya satu baris.”

“Satu baris?” tanya mereka keheranan.  

“Ya, satu baris. Sebagaimana yang dinyatakan penyair Subagyo Sastrowardono, “beri kami satu puisi dari pada seribu rumus penuh janji.”

Satu baris kalimat Subagyo Sastrowardono itu menutup pembicaraan mereka di hari Rabu yang sudah gelap. Masih dalam teka-teki, segerombol seniman itu sepakat memberikan julukan lain pada Arjunanya yakni, “Manusia Sastra

Related posts