Manjadi Manusia Merdeka Ditengah Ujian Corona
Opini

Manjadi Manusia Merdeka Ditengah Ujian Corona 

Pemilik bengkel bingung mendapatkan sparepart karena barang langka. Saat bertanya ke pabrik sparepart, pabriknya sudah berhenti produksi alias gulung tikar.

Pedagang bawang pagi tadi mengeluh tidak laku bawangnya walaupun harga sudah diturunkan. Penjual masakan termangu menunggu warungnya yang sepi dan tidak ada pembeli yang datang.

Apa artinya?. Mungkin kita masih menerima gaji atau bisnis anda masih jalan. Pertanyaannya, akan mampu bertahan berapa lama jika kegiatan ekonomi terus-menerus terhalang selama berbulan-bulan?

Ingat ketika orang-orang di sekitar kita mulai kena PHK atau penjual sayur mayur sudah tidak mampu lagi berjualan dan atau pula kendaraan kita tidak bisa beroperasi disebabkan dampak sparepart tidak ada lagi. Maka efek domino gelombang PHK dan macetnya dunia usaha akan menghantam kita juga.

Kendaraan operasional logistik dan mesin besar industri tidak dapat beroperasi! Itulah mengapa kita mengatakan rekomendasi WHO itu sangat mematikan hajat hidup kita secara pelan dan sangat halus tanpa kita sadari.

Kita baru akan sadar saat ombak besar tsunami kemacetan ekonomi itu menghantam kita semua. Tahukah Anda di Nepal dalam 2 bulan telah tercatat 1.200 kasus bunuh diri karena depresi akut akibat kehilangan pekerjaan?

Bisnis yang dikelola tak mampu lagi membiayai hidupnya dan keluarganya. Akibatnya tidak ada uang untuk bayar utang, mereka hilang harapan hidup. Mereka mati bukan karena terinfeksi virus, tetapi akibat dari cara merespons persoalan yang sama sekali tidak proporsional dan profesional.

Baca juga: UKT Turun, Mahasiswa Makmur? 

Itulah sebabnya mengapa kita disebut orang-orang gila karena bergerak melawan arus. Kita memang gila karena tidak normal seperti yang lain. Kita melihat ketidakberesan di segala lini dan sektor kehidupan.

Ibaratnya kita tidak lagi takut mati sebab tahu persis permasalahan dan caranya. Bagi yang takut mati karena virus dan tidak mau mencari tahu jalan tengah, ia mengambil posisi tergulung tsunami kemacetan ekonomi.

Apakah kita tidak peduli dengan mereka yang lemah dan rentan tertular? Jangan salah kira. Jika kita tidak punya penghasilan tidak mampu merawat keluarga yang sakit, malah justru kita tidak ingin menjadi beban banyak pihak.

Apakah kita ngawur? Justru karena kegilaan tidak normal itulah kita berpikir dengan cara tidak normal dan menemukan kejanggalan-kejanggalan sekaligus mendapatkan celahnya (caranya) untuk mencapai jalan keluar. Itulah mengapa kita yakin akan selamat sebab tersedia berbagai solusi dan jawaban.

Tahukan Anda? Sebuah film tahun 2005 berjudul “V for Vendetta” bercerita tentang dictator totaliter yang memperoleh kekuasaannya dengan menciptakan ketakutan karena virus yang diduga menyebar di seluruh dunia.

Dalam film tersebut media massa menggiring pikiran masyarakat dengan propaganda berbasis ketakutan di layar televisi setiap rumah tangga dan di jalanan kota. Diktator otoriter ini menjanjikan bila para warga mematuhi instruksinya akan aman, tetapi bukan kebebasan merdeka mereka dapat.

Pesan yang diulang-ulang secara konstan sepanjang film tersebut adalah “ini itu untuk keselamatan Anda”. Pesan yang paling penting dari film ini pada akhirnya masyarakat tersadarkan dan bangun melawan rezim fasis korup ini setelah terbongkar bobroknya. Tahun 2020 film ini terasa realitasnya di publik.

Baca juga: Santri di Era Digital 

Jadilah pribadi yang merdeka agar kita selamat dan terlindung. Mengingat negara ini isinya manusia, ciptaan-Nya. Inilah harus diutamakan. Kita dilahirkan merdeka.

Agar tidak hancur lebur moral budi pekerti umat manusia lalu hadirlah Pemerintahan sebagai alat mengatur hukum, politik, ekonomi, budaya, pertahanan keamanan tentunya juga termasuk pendidikan agar mempunyai konsesus bersama tidak liar/bar-bar.

Ibaratnya, pemerintah itu susunan tubuh kita. Tubuh manusia itu keseluruhan struktur fisik organisme manusia. Tubuh manusia terdiri atas kepala, leher, batang badan, 2 lengan dan 2 kaki.

Masing-masing tubuh ini merupakan bagian sistem organ dirancang untuk melakukan fungsi kehidupan yang esensial dan saling mendukung secara otomatis sesuai komando.

Sistem organ tubuh termasuk kardiovaskular, kekebalan tubuh, pencernaan, pernapasan, ekskresi, perkemihan, muskuloskeletal, saraf, endokrin dan reproduksi. Masing-masing memiliki perannya, fungsinya dan tujuannya.

Inilah gambaran pemerintah itu. Seperti halnya membangun gedung plaza, memang perlu tukang gambar, tukang batu, tukang kayu, tukang hitung, tenaga kasar dan masih banyak lagi yang kita butuhkan. Tentunya semuanya berasal dari kaum marhaen.

Tetapi dampak dari pembangunan gedung plaza menjamur, berapa ribu warung marhaen gulung tikar. Zaman Bung Karno membangun Gedung Plaza Sarinah, gedung itu ia gunakan untuk menampung, promosi menawarkan dan menjual hasil marhaen ke dunia internasional.

Sekarang ini Marhaen tidak mati karena corona, tetapi mati karena kelaparan.

Related posts