Mahasiswa Dilema, Daring Tak Kunjung Sirna
Opini

Mahasiswa Dilema, Daring Tak Kunjung Sirna 

Dalam sebuah grup chat via aplikasi komunikasi, rembesmin yang masih berstatus mahasiswa (walau saat ini sudah libur) beserta teman-teman mengeluhkan tentang sistem pembelajaran secara daring. Mulai dari tugas yang kian menumpuk hingga masalah psikologis yang ditimbulkan akibat berada di rumah terlalu lama.

Pada 17 Maret 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud) mengeluarkan surat edaran mengenai pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah (work from home).

Istilah daring sering kita dengar pada banyak kesempatan, namun apakah sebenarnya daring itu. Daring adalah singkatan dari “dalam jaringan”. Jaringan yang dimaksud disini merupakan jaringan internet atau kita lebih mengenalnya dengan istilah online. Jadi daring merupakan segala macam bentuk kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan jaringan internet di dalamnya.

Sejak menerapkan pembelajaran secara daring, dosen atau mahasiswa menjadi lebih rajin berinteraksi dengan gawai mereka untuk memeriksa apakah ada tugas yang diberikan, pekerjaan atau sekedar bersantai untuk menghibur diri karena tidak bisa melakukan aktivitas diluar rumah.

Baca juga: Desa dan Peran Utama

Bersosialisasi bagi manusia merupakan sebuah kewajiban, karena manusia itu sendiri termasuk makhluk sosial. Selain itu, bersosialisasi juga dapat mencegah depresi atau stress. Maka, sudah sepatutnya mahasiswa atau pelajar merindukan suasana tempat belajar mereka.

Berkomunikasi melalui media memang memberi kemudahan, akan tetapi terkadang menimbulkan sebuah kesalahpahaman atau miskomunikasi. pembelajaran secara daring dapat melatih kita dalam hal disiplin. karena tidak harus berangkat ke kampus, cukup dengan menggunakan gawai yang kita punya, maka sudah dapat mengikuti pembelajaran. Tentunya harus didukung dengan adanya koneksi internet.

Namun apakah hal itu benar adanya? nyatanya mahasiswa pada era pembelajaran daring masih belum mampu dalam hal disiplin waktu. Mereka lebih memilih untuk tidak mengikuti pembelajaran karena memiliki alasan yang berbeda-beda. Mulai dari krisis jaringan internet, jam pelajaran yang dimulai terlalu pagi, sibuk dengan aktivitas lainnya, sampai dengan rasa malas atau bosan dengan sistem pembelajaran yang seperti itu-itu saja.

Sebagai contoh pada salah satu group mata kuliah, mahasiswa terlebih dahulu di perkenankan untuk membagikan lokasi sebagai sebuah bukti kehadiran (absensi), yang kemudian dilanjutkan dengan pembahasan materi perkuliahan. Akan tetapi, setelah pembelajaran berakhir masih terdapat mahasiswa yang melakukan absensi. Hal ini sangat tidak masuk akal, karena jika kita melihat generasi pada saat ini merupakan generasi milenial, yang mana mereka tidak bisa lepas dari gadget.

Baca juga: Aliansi Ciputat Menggugat Menolak Omnibus Law

Kemudian model pembelajaran yang terlalu monoton. Model pembelajaran yang dapat dilakukan pada era pandemi ini cenderung sama, yaitu berupa pemberian tugas secara langsung, model ceramah, dan lain-lain. Semua dilakukan via daring. Kegiatan belajar secara terus menerus dengan model yang sama, dapat menimbulkan rasa bosan, sehingga tenaga pendidik harus memiliki strategi lainnya, agar mahasiswa tidak merasa bosan dan jenuh.

Dalam permasalahan ini sebenarnya kedua belah pihak memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Dosen sebagai sumber informasi sekaligus pengonsep pembelajaran, harus menemukan metode-metode pembelajaran yang sesuai. Kemudian mahasiswa, tidak hanya bersifat pasif terhadap model pembelajaran yang dirasa kurang menggugah minat belajarnya.

Karena sistem pembelajaran dilakukan dengan berbasis media, maka akan terjadi sebuah gangguan atau noise didalamnya. Berdasarkan model komunikasi Shannon Weaver, kegiatan belajar mengajar secara daring, yang melibatkan saluran (channel) dalam arti media, akan mengalami gangguan. Gangguan dapat berasal dari dalam atau luar sumber dan penerima informasi.

Dalam pelaksanaanya, memang benar terdapat gangguan dalam kegiatan belajar mengajar secara daring. Mulai dari ketidak pahaman terhadap materi yang diberikan, sehingga harus mengulang atau memahami dengan betul materi yang disampaikan. Selain itu juga terdapat gangguan lainnya. Hal ini tentu akan berbeda apabila kegiatan belajar mengajar dilakukan secara konvensional (tatap muka), dimana gangguan-gangguan yang telah disebutkan di atas dapat teratasi dengan baik.

Pembelajaran secara daring memang memberikan kemudahan bagi semua elemen yang berada di sekitarnya. Terutama bagi mahasiswa. Ini merupakan salah satu cara untuk mulai terbiasa dengan perkembangan teknologi yang akan datang (khususnya dalam bidang pendidikan) yang tentunya akan lebih luar biasa lagi, akan tetapi kemampuan dan persebaran teknologi di Indonesia masih perlu untuk di kembangkan.

Hendaknya pemerintah melek mata sehingga dapat memulai dengan penyelesaian permasalahan jaringan telekomunikasi yang tidak merata.

Related posts