Kenapa Saya Dilahirkan, Jika Hanya Untuk Disalahkan?
Ndopok

Kenapa Saya Dilahirkan, Jika Hanya Untuk Disalahkan? 

Satu dua kali menjadi bulan-bulanan atas asumsi tak berdasar, mungkin masih bisa kuat menghadapinya. Akan tetapi kalau keseringan dan terus-terusan menjadi objek untuk dikambing hitamkan, siapa yang kuat. Memang ketidakadilan itu nyata, sampai pada titik yang paling halus seperti tidak adil sejak dalam pikiran. Makannya jelas melahirkan berbagai macam asumsi sepihak tanpa ada telaah lebih lanjut.

Persoalannya hidup terus berdampingan dengan orang di luar diri kita, dan sialnya tak jarang yang terbiasa tidak adil sejak dalam pikiran sehingga menimbulkan pola laku yang sangat menyebalkan. Bagaimana tidak menjengkelkan, hidup dikelilingi orang yang semaunya berasumsi tentang diri yang tidak ada jaminan kepastian orang mengetahui seutuhnya. Seperti yang di tulis di atas, satu kali dua kali bisalah untuk dihadapi. Akan tetapi kalau ternyata sering dan lumrah, luar biasa sekali bukan.

Kalau kemudian persoalannya adalah persoalan pemikiran, siapa yang bisa memastikan kesalahan dalam pemikiran. Bukankan berpikir itu adalah alat yang semua orang punyai, artinya akan sangat beragam hasil dan bentuknya. Dan akan sulit sekali untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar, karena yang menentukan akan berpikir yang itu adalah bagian dari keberagaman pemikiran.

Hidup sesuai kehendak umum, ternyata tak begitu membahagiakan. Mau bicara apa?, mau bahas tema tentang pembenaran yang selalu ditunjukan untuk melindungi nama baik. Hidup ini itu pasti, kita tidak mungkin membantah hal ini karena kita memang sudah terlahir dan menjadi bagian dari banyaknya manusia. Bayangkan, dari banyaknya macam manusia memiliki watak serta karakter yang berbeda. Tapi juga ada sisi yang sama, sama-sama menginjak kanan atau kiri kita kalau terjepit. Kita dilahirkan begitu saja, tahu-tahu ada agama, ideologi, negara dan segala macam dogma.

Sialnya, kita ada satu kemiripan seperti makhluk yang lain, yang selalu membutuhkan makan. Ini yang mungkin seringkali memecah idelaisme manusia, orang yang sudah merintis, menyusun, mengelola sera membentuk sebuah idelaisme saja masih bisa tergoyah kalau kebutuhan pokoknya belum terpenuhi. Di sisi yang lain, kita mampu mengungguli makhluk yang lain, dan ternyata belum bisa seutuhnya.

Baca juga: Catatan Untuk Kabupaten Layak Anak Ditengah Kasus Anak yang Kompleks 

Jujur saja, setelah melakukan hal yang selama ini dilarang, baik oleh norma sosial atau bahkah aturan agama sekalipun. Sebetulnya, tidak ada ketentraman hati yang dirasakan. Rasanya, tidak ingin melakukannya lagi. Walaupun begitu, berbuat sesuatu yang dapat dikategorikan menyalahi norma sosial atau aturan agama itu tidak selalu atas kemauan diri sendiri. Bisa jadi, karena ajakan, kesempatan, dan situasi yang mendukung untuk melakukan hal itu.

Lantas, bagaimana?. Disisi lain kita memang tidak mungkin menfaikan untuk hidup sendiri, hanya agar terbebas dari perbuatan yang mengarah pada pelaggaran. Hidup, sudah kadung bersama. Konsekuensinya, banyak hal yang akan dilakukan secara bersama. Ya, sekalipun itu melakukan hal-hal yang selama ini dikategorikan salah.

Cukup menguras otak, dan tenaga juga. Lantaran beban hidup yang belum pasti di tengah gempuran persaingan, baik pada dunia ekonomi, penididikan, sosial, dan politik. Ingin sekali “teriak kenapa saya dilahirkan, jika hanya untuk disalahkan?,” tapi apa mungkin, saya akan mendapat pembelaan. Entahlah, yang jelas dunia semkain terasa sempit, akal pikiran pun semakin tak bergutik. Dipaksa untuk rasional, tetap saja pada ujungnya stigma dan sanksi jauh lebih menakutkan.

Mendengar begitu banyak orang menginginkan kebahagiaan, mencarinya, sampai ada sebagian yang memamerkannya, apakah kebahagiaan itu seragam?. Apakah, kita harus seperti orang lain, bisa menjadikan kita bahagia?. Tunjukannlah, secara terangkan apa itu kebahagiaan. Dan apakah kebahagiaan bisa saya raih?, berikanlah pencerahannya.

Baca juga: Selamat Hari Anak Nasional, Anak Tak Gembira Belajar di Rumah 

Related posts