Keistimewaan Khadijah Al-Kubra yang Membuat ‘A’ishah Ra. Cemburu Berat
Tokoh

Keistimewaan Khadijah Al-Kubra yang Membuat ‘A’ishah Ra. Cemburu Berat 

Para jumhur ulama mengatakan bahwa Rasulullah Saw. menikahi ‘A’ishah Ra. saat ia masih usia belia, yakni usia tujuh tahun. Namun keduanya baru mulai menjalani biduk rumah tangga bersama saat ‘A’ishah Ra. telah menginjak usia sembilan tahun, beberapa bulan setelah kaum muslimin hijrah ke Madinah.

Pernikahan Nabi Saw. dengan ‘A’ishah Ra. berjalan seperti halnya pernikahan orang-orang pada umumnya. Terlebih jika berbicara soal kehidupan poligami yang Nabi Saw. lakukan setelah menikahi ‘A’ishah Ra. Dikatakan bahwa Nabi Saw. pernah menikahi sebelas orang istri, yang mana sembilan diantaranya berarti adalah madu bagi ‘A’ishah Ra. Tentu terkecuali Khadijah Ra., istri pertama Rasulullah Saw. yang telah wafat sebelum Rasulullah Saw. menikahi ‘A’ishah Ra.

Menjalani pernikahan dengan sembilan orang madu, tentu tidak lah mudah bagi Ibunda ‘A’ishah Ra. Terkadang kita yang ‘bersaing’ dengan seorang ‘perempuan lain’ saja merasa seolah api membakar seluruh rongga dada, sehingga pertengkaran kerap menjadi hal yang biasa. Namun, berkat kemuliaan akhlak ‘A’ishah Ra., juga kemuliaan akhlak istri-istri Nabi Saw. yang lain, kehidupan rumah tangga Rasulullah tetap berjalan harmonis dan bahkan romantis.

Cemburu pada orang yang masih hidup dan memang wujudnya ada mungkin adalah sesuatu yang biasa. Kita tentu sangat familiar dengan kata-kata “cemburu adalah tanda cinta”. Namun bagaimana jika kita mencemburui seseorang yang telah wafat? Cemburu pada orang yang masih hidup biasanya disebabkan karena adanya perasaan ‘tersaingi’, atau perasaan ‘takut kehilangan’, juga perasaan ‘takut doi lebih mencintai si dia dibandingkan kita’. Maka bagaimana dengan mencemburui orang yang telah wafat? Padahal kan dia sudah tidak ada di dunia, pastinya tidak akan menjadi pesaing kita dalam memperebutkan perhatian doi dong yaa.

Baca juga: Perempuan Suka Berdandan, Memangnya Salah?

Lalu apa sih yang membuat ‘A’ishah Ra. sampai berkata dalam hadis yang diriwayatkannya, “Aku tidak pernah merasa cemburu melebihi cemburuku pada Khadijah..”?

Usut punya usut, ternyata Khadijah al-Kubra binti Khuwailid mempunyai beberapa kemuliaan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh istri-istri Rasulullah Saw. yang lain. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh ‘A’ishah Ra. sendiri, disebutkan ada beberapa hal yang membuat Nabi Saw. tidak bisa melupakan Khadijah Ra. meski beliau telah wafat dan bahkan Nabi sudah beristri kembali. Sampai-sampai Nabi Saw. kerap kali sengaja menyembelih seekor kambing, lalu membagikannya untuk sahabat-sahabat Khadijah Ra. Kemudian hadis ini menurut Wahid Abdul Hakim (Sekretaris Jurusan Ilmu Hadis UIN Jakarta) oleh Ketua PWNU Jawa Timur disebutkan sebagai dalil haul orang yang telah wafat.

Keistimewaan Khadijah Ra. yang tidak dimiliki oleh istri-istri Rasulullah yang lain diantaranya adalah pertama, Khadijah adalah orang pertama yang mengimani Muhammad Saw. sebagai Nabi dan utusan Allah, disaat sebagian besar orang mengingkarinya. Khadijah juga yang paling memercayai Nabi disaat orang lain mendustainya.

Kedua, Khadijah adalah satu-satunya istri Rasulullah yang memberinya keturunan, yakni empat orang putri dan dua orang putra. Meski kemudian hanya Fathimah Ra. lah yang berumur panjang dan melahirkan cucu dan keturunan Rasulullah sampai hari ini.

Baca juga: Membaca Kembali Pesan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari

Ketiga, Khadijah rela menggelontorkan semua hartanya demi dakwah suaminya. Diceritakan bahwa Khadijah Ra. seorang bangsawan Makkah yang bergelimang harta berkat perusahaan dagangnya, sampai jatuh miskin dan wafat dalam keadaan tidak mempunyai apa-apa, dengan hanya mengenakan sebuah jubah yang sudah tertambal di bagian sana dan sini, sebab beliau telah menghibahkan semua hartanya untuk kaum Muslimin pada saat peristiwa pemboikotan di Makkah, yang menyebabkan kaum Muslimin tidak bisa melakukan jual beli dan yang lainnya. Saat itulah hartanya habis untuk menghidupi seluruh kaum Muslimin demi terjaganya kelangsungan hidup mereka di tengah peristiwa pemboikotan yang dilakukan kaum kafir Quraisy.

Hal-hal itulah yang tidak Nabi dapatkan dari istri-istrinya yang lain. Keberadaan Khadijah Ra. saat masa-masa awal kenabian tentu sangatlah berharga, mengingat perlakuan-perlakuan buruk yang Nabi dapatkan dari masyarakat Quraisy pada saat itu.

Khadijah menjadi ‘selimut’ saat Nabi kedinginan. Khadijah menjadi penyejuk saat Nabi dibakar amarah kaum kafir Quraisy. Dengan kedewasaan Khadijah pula lah, ia menjadi tempat Nabi kembali dari perjuangan dakwahnya yang sulit, merangkulnya, menenangkannya, dan meyakinkannya. Sungguh betapa Khadijah adalah seorang yang paling berjasa dalam dakwah Nabi di masa-masa awal kenabian, secara lahir dan batin.

Related posts