Kabupaten Brebes New Normal, Kita Bisa Apa?
Opini

Kabupaten Brebes New Normal, Kita Bisa Apa? 

Di bagian kedua tentang Pedoman Pembelajaran Pada Satuan Pendidikan yang tertulis di Peraturan Bupati (Perbup) tahun 2020, tentang Pedoman Tatanan Normal Baru Pada Kondisi Pandemi Corona Virus Disease 2019 di Kabupaten Brebes. Lembaga pendidikan tinggi adalah salah satu institusi pendidikan yang terikat secara hukum dalam pemberlakuan normal baru. Pada pasal 8 nomor 1 ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran dilakukan dari rumah dengan cara pembelajaran jarak jauh.

Sebelum jauh menelisik terkait aturan main dalam tatanan yang baru atau new normal, saya mau tanyakan bahwa kebijakan apa ini?. Kasusnya seperti ini kita tahu betul dan merasakan akan koneksi internet yang lamban dan kurang stabil. Saya bisa ajak pembaca untuk mengunjungi daerah yang cukup terpelosok tepatnya di dukuh Gunungsumping, Desa Plompong, Kabupaten Brebes. Akses jaringan internet di sini cukup susah, karena selama saya melakukan pembelajaran kuliah secara daring, misal dengan menggunakan aplikasi zoom kendala yang cukup menyiksa adalah jaringan yang kurang stabil.

Permasalahannya sangat mempengaruhi absensi dalam perkuliahan yang dilakukan secara daring, dan ini jelas sangat berdampak pada pemahaman, penilaian, dan kelulusan dalam materi pembelajaran yang didapat selama proses pembelajaran.

Baca juga: Tuntutan Guru dalam Menghadirkan Media Pembelajaran yang Inovatif

Hal selanjutnya yang perlu dibahas adalah kemampuan secara ekonomi, bisa jadi tidak begitu menjadi hambatan bagi yang mampu dalam pembelian kuota dan yang daerahnya koneksi internetnya stabil untuk melakukan pembelajaran secara daring. Kalau sebaliknya bagi yang kurang mampu bagaimana? maksudnya selain dari pada pemberlakuan aturan new normal, soal teknisnya pun juga diatur sampai akar-akarnya bukan secara mentah-mentah diserahkan ke instansi pendidikan. Seperti subsidi kuota atau fasilitas yang diperlukan dalam pembelajaran secara daring, yang pemerintah daerah juga turut menyediakan dan membantu. Karena kondisi seperti ini bisa menjadi keadaan yang memberatkan, khususnya bagi sebagian peserta didik dan masyarakat pada umunya.

Ancamannya tidak main-main, selain pada soal kesehatan juga dropout turut menanti bagi yang belum siap untuk belajar sacara daring pada tatanan new normal. Sekarang seperti ini, dalam kegiatan belajar secara daring, apakah ada jaminan akan paham dengan materi yang diajarkan. Bisa jadi bagi yang tidak paham akan mengulang materi yang sama pada periode selanjutnya, dan apakah masih tetap ada jaminan bisa paham juga?. Saya pikir ada kalau peserta didiknya juga giat dalam belajar dan didukung koneksi internet yang kuat, tentunya kuota internet juga harus tersedia.

Artinya dalam proses pembelajaran secara daring dari rumah, sangat membutuhkan sumber pendanaan yang kuat dan fasilitas yang mendukung. Harusnya Pemerintah Daerah bisa melihat ke arah ini. Apakah dengan adanya Perbup ini menjamin dari keselamatan peserta didik baik dari kesehatan fisik dan juga material. Hal ini kiranya yang perlu dipertanyakan dan disurakan.

Baca juga: Life without plastics 

Related posts