Jangan Asal Pada Alarm!
Seni dan Budaya

Jangan Asal Pada Alarm! 

Apa yang bisa dilakukan ketika malam tiba Ma?, tanya sukma pada dirinya sendiri yang sudah mengambil posisi tidur paling nyaman sedunia, tentu menurut teori milik Sukma sendiri. “Apalagi selain tidur dan matikan alarm ditengah-tengah antara tidur dan bangun, lalu melanjutkan tidur setelah menikam alarm dengan segala sayang dan sepenuh penyesalan”, Sukma menjawab pertanyaannya dengan mantap dan mata separuh terpejam.

Padahal Sukma paham benar, hanya bisik alarm yang setia meramaikan pukul 03.00 WIB – 03.10 WIB disetiap tidur Sukma yang sepi, “Maaf ya alarm, sering tidur saat kau terbangun dan minta ditemani, lagian ngambekmu enteng cuman minta diganti baterai”. Sukma memang keras kepala, dia lupa bahwa menikam alarm sama dengan menikam hatinya sendiri. Begini maksudku, tenang dulu, begini, ketika kita mengatur alarm, bukankah kita telah menggadaikan waktu, tenaga dan pikiran demi kebaikan kita sendiri. Biar kujelaskan agar kita tidak salah paham dan ngambek-ngambekan.

Baca: Mancangah

Alarm yang bawel adalah korban hasil kerja keras kita sendiri, bukankah kita begitu payah memikirkan bangun tidur yang baik pukul berapa dan bagaimana caranya tepat sasaran. Lalu siapa lagi yang bisa melakukan itu selain Alarm yang setia dan patuh, rela bangkit lagi disetiap dini hari. Kecuali ya itu tadi, ketika dia ngambek dan mati bunyi. Alarm yang manis kuharap kau tetap cerewet selalu, apalagi saat dompetku kosong. Ya selain suaramu, siapa lagi yang selalu ada apalagi saat tak tersisa apapun padaku. Cuma kau yang mau. Lain kali, cobalah suaramu gombal dikit agar aku juga semangat temani dini hari milikmu. Maaf dari aku yang banyak lalai. Doakan sedikit demi sedikit berkurang, dan hilang.

Diantara banyak malam yang sudah berlalu dan menjadi kenangan. Pernahkah terlintas untuk berterimakasih pada alarm untuk suaranya yang merdu, lalu memberinya sekedar hadiah, atau meminta ampunan atas tindakanmu yang semena-mena, maksudku seenaknya mematikan bunyinya yang bersemangat pada pukul tiga dini hari. Asal kau tahu, bisa jadi suara alarm adalah suara Tuhanmu yang sedang ingin kau bangun dan bercerita, berdua. Sukma sedikit skakmat, lihatlah matanya yang masih merah itu perlahan mengalirkan air mata.

Akhirnya pada malam Sukma berikutnya, Alarm dan Sukma sama-sama saling nyenyak dan bangun tepat waktu. Alarm bangun sesuai mau Sukma, dan Sukma bangun sesuai perintah alarm, alarm Sukma sekarang sudah pintar menggunakan nada gombal kegemaran Sukma. Ku beri tahu tapi jangan ngamuk, nada gombal itu hasil kenangan dari lelaki yang membawa alarm itu pada Sukma. Aku juga bingung, sesungguhnya Sukma patuh pada kenangan atau patuh pada Alarm. Sudah jangan banyak tanya.

Related posts