Iluminasi Manuskrip Al-Qur’an Jawa
Sinau

Iluminasi Manuskrip Al-Qur’an Jawa 

Dari berbagai jenis manuskrip Nusantara, mushaf termasuk salah satu naskah yang paling banyak disalin oleh masyarakat. Ini terkait dengan kedudukan Al-Qur’an sebagai sumber utama Islam. Sehingga berpengaruh terhadap tradisi pembacaan, pengajaran dan penyalinannya di masyarakat.

Pengajaran baca-tulis Al-Qur’an umumnya dianggap pendidikan Islam yang paling dasar. Setiap Muslim selain dituntut untuk menamatkan bacaannya, ia juga dianjurkan memiliki mushafnya.

Dari sini, penyalinan mushaf menjadi sebuah keniscayaan. Karenanya, tak berlebihan bila dikatakan bahwa tradisi naskah keagamaan dimulai dengan penyalinan mushaf. Di dunia Melayu-Nusantara, manuskrip mushaf yang berasal dari kawasan regional menyebar di seluruh kawasan ini. Ini mencerminkan apa yang disebut pusat getaran produksi manuskrip yang sebagiannya membawa kekhasannya sendiri.

Salah satu kekhasanannya adalah dengan adanya iluminasi. Annabel Teh Gallop telah menuliskan penelitiannya tentang mushaf Al-Qur’an di Jawa, The Art of the Quran in Java, penelitiannya ini ditulis berdasarkan iluminasi dan seni yang terdapat dalam manuskrip mushaf di seluruh Jawa.

Menurutnya, kebanyakan manuskrip Al-Qur’an di Jawa memiliki iluminasi. Kebanyakan manuskrip yang memiliki iluminasi ditulis di atas kertas eropa dan kulit kayu dluwang.

Baca juga: Menganggur Di Kritik, Kerja Cuma Jadi Bulan-bulanan Si Bos 

Dalam penelitianya, Annabel mengatakan bahwa manuskrip yang terbuat dari bahan kulit kayu dluwang memiliki iluminasi yang lebih baik dari kertas eropa. Hal ini karena dluwang adalah barang yang sulit untuk didapatkan.

Biasanya iluminasi terletak pada bagian awal di Alquran; ada sebelah kanan surat al-Fatihah dan sebelah kiri awal al-Baqoroh.

Pada abad ke 19 iluminasi merupakan simbol betapa berharganya Al-Qur’an. Bisa dikatakan demikian karena untuk membungkus nilai-nilai ajaran luhur yang tertanam dalam kitab Al-Qur’an memang tidak mengherankan jika dibungkus dan dihiasi dengan hiasan-hiasan yang sangat menawan.

Warna hiasan itu sendiri ciri daripada asia tenggara adalah merah, kuning atau kadang juga keduannya berkombinasi. Tidak jarang juga dengan hitam putih. Khusus di Jawa, iluminasi Al-Qur’an berwarna merah dan kuning.

Untuk motif sendiri serta variasi dalam struktur dan palet dalam Al-Qur’an Jawa, ada berbagai pola dan ornamen dekoratif. Tapi satu motif menonjol yang terjadi dalam manuskrip Al-Qur’an dari Jawa, dan ketidakhadirannya dalam Al-Qur’an dari tempat lain adalah dalam bentuk bahasa Melayu dunia: pola banji atau swastika China. setidaknya ada satu manuskrip yang telah di salin pada tahun 1850 di Demak.

Baca juga: Bagi-bagi Masker: Partai Politik Harusnya Sadar Diri, Tidak Perlu Berlebihan Pasang Logo 

Seperti halnya dengan sebagian besar Al-Qur’an, dalam manusipskrip Al-Qur’an Jawa biasanya ada 15 baris per halaman, dan ini selalu diatur dengan bingkai garis.

Teks manuskrip Al-Qur’an Jawa sangat sederhana dan umumnya terdiri dari dua dan empat garis aturan, biasanya hanya dengan tinta hitam tetapi kadang-kadang dikombinasi dengan tinta hitam atau merah.

Dalam teks tersebut juga terdapat kaligrafi yang menunjukkan berbagai variasi yang sangat besar dalam kompetensi dan gaya.

Tentu dalam membicarakan iluminasi pada manuskrip Al-Qur’an di jawa itu setiap daerah memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Perbedaan ini wajar terjadi karena ada beberapa faktor misalnya karena lingkungan. Ada yang di kota, ada yang di pedesaan dan lainnya.Namun perbedaan-perbedaan tersebut tidak dijabarkan secara rinci oleh penulis. Walau begitu, penulis mengakui bahwa Orang Jawa dalam tradisi naskahnya mungkin menawarkan yang paling indah dan halu karya-karya artistik di atas kertas di seluruh Asia Tenggara maritim.

Related posts