Gus Mus: Desa Mestinya Jadi Kebanggaan, Bukan Sebaliknya
Tokoh

Gus Mus: Desa Mestinya Jadi Kebanggaan, Bukan Sebaliknya 

Sejak lama muncul anggapan bahwa orang kota lebih gagah dibanding orang desa. Menjadi orang kota kedengarannya lebih keren daripada menjadi orang desa. Namun sesungguhnya tidak demikian. 

Paling tidak hal tersebut dibantah oleh pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri dalam acara temu alumni pesantren asuhannya yang berlangsung, Sabtu (2/11/2019).  

Menurutnya, seharusnya siapapun harus bangga menjadi orang desa. Sebab banyak nilai-nilai luhur yang ada dalam kehidupan pedesaan.

Baca: Waspada Gempa Bumi, Gus Karim Bagikan Doa Via WhatsApp

Selain itu, para kiai penerus perjuangan Rasulullah SAW, banyak yang ada di desa.   “Padahal desa itu mestinya menjadi kebanggaan. Karena di desa-desa itulah kiai-kiai penerus perjuangan Kanjeng Rasul SAW yang sebenarnya ada. Tidak ada kiai di kota pada saat itu, kiai itu ada di desa-desa,” ungkapnya dalam salah satu video Youtube.

Sekarang ini banyak orang desa yang meniru kehidupan masyarakat kota. Padahal semestinya, kebiasaan di desa dibawa ke kota, bukan sebaliknya.  

Baca: Jejak Sejarah Penanggalan Hari Jadi Brebes 

“Yang semacam itu harusnya jangan dilanjut-lanjutkan. Tunjukkan kedesaanmu itu dalam pengertian norma-norma yang diajarkan oleh Rasulullah melalui kiai-kiai desa yang sudah menjadi pengamalan. Ilmu itu tidak disebut ilmu kalau tidak diamalkan,” ujarnya.

Ia melanjutkan, jika ingin membandingkan antara masyarakat desa dan kota, ada satu cara yang bisa dilakukan, yakni dengan memakai cermin ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

“Nanti kita akan tahu, siapa yang lebih unggul. Misalnya, ajaran Kanjeng Nabi supaya menghormati tamu. Sampean kalau ke desa, belum apa-apa sudah disuguhi minimal teh pahit, itu adalah ekspresi penghormatan kepada tamu. Apapun dikeluarkan semua,” bebernya.

Related posts