Gus Dur Sang Perekat Toleransi di Indonesia
Tokoh

Gus Dur Sang Perekat Toleransi di Indonesia 

K. H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, siapa yang tidak mengenal beliau, cucu dari ulama pendiri organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, K. H. Hasyim Asy’ari. Gus Dur lahir dari pasangan K. H. Wahid Hasyim dan Nyai Haji Solichah, Kakek dari jalur ibu adalah K.H. Bisri Syansuri sosok yang sangat dihormati dan dicintai oleh kalangan Nahdliyin. Gus Dur adalah sosok yang sangat dikagumi dan dicintai oleh kalangan Nahdliyin pada khususnya dan Indonesia umumnya. Kiprahnya dalam perpolitikan nasional tidak diragukan lagi, pernah menjabat sebagai Presiden RI ke 4, meskipun pada akhirnya Gus Dur dilengserkan oleh segelintir elite politik yang haus akan kekuasaan.

Berbicara Gus Dur, maka berbicara tentang kemanusiaan dan toleransi, pemikiran Gus Dur mengenai. Gus Dur terkenal dengan sebuah kalimatnya yaitu memanusiakan manusia. Gus Dur adalah pembela kalangan minoritas, pembela rakyat kecil yang selama ini termarjinalkan oleh Orde Baru. Gus Dur muncul disaat Indonesia sedang mengalami krisis kemanusiaan, krisis politik, dan krisis toleransi. Sedang diambang perpecahan. Gus Dur mengedepankan pluralitas atau kuluralisme, ini lah yang dipakai oleh bangsa ini dalam tradisi kebangsaan yaitu kebangsaan yang tidak merujuk pada hubungan darah, suku, agama, tetapi kesamaan visi, misi, nilai, dan perasaan senasib dan sepenanggungan.

Indonesia adalah negara yang multikurtural, memiliki keanekaragaman suku, bangsa, budaya, dan agama. Seperti yang kita ketahui Islam di Indonesia adalah agama mayoritas. Islam di Indonesia disebarkan dengan cara damai tanpa adanya paksaan, melalui pendekatan budaya lokal, oleh para ulama yang kita kenal dengan Walisongo dan kemudian dilanjutkan oleh para santri-santrinya dan dilanjutkan oleh NU yang selalu konsisten dalam menyebarkan Islam yang Rohamatallil’alamin. Walisongo mengajarkan toleransi, misalnya Sunan Kudus, melarang masyarakat Kudus untuk menyembelih Sapi, untuk menghormati kalangan Hindu. Itulah salah satu bukti toleransi yang diajarkan oleh penyebar Islam di Nusantara. Islam di Indonesia disebrakan dengan jalan damai tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada paksaan.

Baca juga: Keistimewaan Khadijah Al-Kubra yang Membuat ‘A’ishah Ra. Cemburu Berat

Gus Dur adalah sosok perekat toleransi di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa Walisongo adalah pionir toleransi di Indonesia, maka Gus Dur adalah perekat toleransi di Indonesia, mengumpulkan pecahan pecahan yang tercecer. Indonesia adalah ladang empuk bagi mereka yang mempunyai kepentingan dan agenda politik, dengan jumlah mayoritas Islam terbesar di dunia tentu ini adalah hal yang menngiurkan. Sehingga bisa dimanfaatkan untuk megadu domba antara kalangan Mayoritas dan Minoritas.

Gus Dur adalah sosok yang berani dalam membela kemanusiaan, meskipun dari kalangan mayoritas tapi Gus Dur dengan tegas membela kalangan minoritas, seperti membela Ahmadiyah Gus Dur pernah berkata “Selama Saya masih hidup, Saya akan pertahankan gerakan Ahmadiyah. Ngerti nggak ngerti, terserah!”. Toleransi bukan hanya mencakup soal agama, tetapi juga ada juga toleransi pemikiran, toleransi rasial, dan lain sebagainya. Jadi toleransi yang diperjuangkan oleh Gus Dur bukan hanya toleransi agama saja, tetapi juga mencakup seluruh toleransi. Sebagai contoh misalnya Gus Dur melakukan pembelaan terhadap Inul Daratista di saat polemik goyang gebornya.

Gus Dur adalah seorang pelahap buku, berbagai macam buku beliau baca, bukan hanya kitab kuning saja, dan ini jarang terjadi seorang putra Kyai, membaca buku-buku barat. Dan hal ini menandakan bahwa Gus Dur sudah diajarkan toleransi sejak kecil oleh ayahnya yaitu toleransi dalam ilmu pengetahuan. Sehingga Gus Dur berpandangan terbuka, memiliki wawasan yang luas, dan menerima perbedaan.

Baca juga: Doel Sumbang, Musikus Pop Sunda yang Melegenda

Perjuangan Gus Dur dalam memperjunagkan toleransi dilakukannya melalui organisasi besar Nahdlatul Ulama, Meskipun Gus Dur menjadi nahkdoda organisasi Islam terbesat di Indonesia, tapi Gus Dur dekat dengan semua penganut agama lain. Di bawah kepeimpinannya pula Gus Dur menerima Pancasila sebagai asas tunggal dalam NU, itu merupakan bukti bahwa Gus Dur adalah sang perekat toleransi.

Tulisan-tulisan Gus Dur pun menganbarkan, bahwa Gus Dur adalah sosok yang gigih dalam membela toleransi, kemanusiaa, dan toleransi. Puncak jabatan tertinggi Gus Dur adalah menjadi Presiden RI, beliau berhasil menenagkan Indonesia yang saat itu sedang panas-panansya akibat pertikain sesama bangsa sendiri akibat konflik suku, bangsa, agama. Dengan berbagai kunjungan ke luar negeri, beliau berhasil memepengaruhi negara-negara lain supaya tidak ikut campur urusan dalam negeri Indonesia.

Perjuangan Gus Dur akan selalu dikenang oleh masyarakat Indonesia, dibalik kenyetrikannya terdapat sisi humanis dalam Gus Dur. Meskipun kini engkau telah mengahadap Sang Pencipta, tapi perjuangan Sang Guru Bangsa kini diteruskan oleh murid-muridnya dari semua kalangan. Gus Dur memperjuangakan semua itu dengan ikhlas, beliau tidak mengharapkan imbalan apapun, meskipun beliau dicaci dan dimaki, tapi tetap teguh laksana batu karang yang begitu kokoh.Gus Dur melakukan semua itu demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Related posts