Gaun Abu-Abu
Seni dan Budaya, Uncategorized

Gaun Abu-Abu 

Selepas shubuh tiba kira-kira pukul 06.00, kabut pagi bergumul, daun-daun dibasahi embun, katak-katak berhenti berteriak, sinar mentari mulai nampak pertanda awan mendung tidak sedang bertugas. Saat itulah untaian kata-kata kerinduan keluar dari mulutku, “Kekasihku, kekasihku, oh kekasihku”.

Sejak tiga bulan tak bertemu dan tanpa kabar pula, hati serasa sesak menahan kerinduan, pikiran mengawang-awang entah kemana—kemana lagi kalau bukan tertuju padamu, kasih. Aku patut berbangga untuk pagi ini. Hari ini adalah hari pertemuan yang telah kita janjikan tiga bulan sebelumnya. Dalam kesepakatan waktu itu, Tugu Jogja menjadi pilihan untuk kita bertemu.

Setelah segala perbekalan siap, aku cium kening ibuku setelah bolak-balik mencium tanganya serta kubisiki, “Aku akan menjemput calon menantumu, bu”, sambil meneteskan air mata ia berpesan, “Jagalah apa yang masih ada”. Aku tak tahu pasti apa maksudnya, tapi yang jelas kini di tahun 2019 tepatnya bulan Juni tanggal 23 aku berumur 32 tahun. Umur yang cukup tua bagi bujangan sepertiku, ha ha ha.

Sesampainya di stasiun Jogja dengan perasaan tergesa-gesa ingin cepat-cepat bertemu Melati, kekasihku. Aku berlari menyelinap kerumunan orang yang berada di stasiun sampai keluar tanpa henti bahkan sampai tugu Jogja aku berlari. Melati belum juga terlihat, waktu menunjukan pukul sembilan malam. Aku masih menunggu. Kita telah berjanji. Janji-janji kita sebelumnya tak pernah meleset. Sampai tengah malam belum juga ia menampakkan diri hingga aku tertidur sambil bersandar di pojok tugu itu.
Gema adzan shubuh membangunkanku dari dinginya suasana Jogja saat itu. Waktu menunjukkan pukul 04.30, aku lihat di Hp. Di sana pula terdapat sembilan panggilan tak terjawab dari ibu dan satu pesannya yang berbunyi, “Kembalilah, nak. Melati sudah di rumah.” Membaca pesan itu membuat aku terkejut. Betapa ia telah melanggar janji kita untuk bertemu. Namun disisi lain, betapa bahagianya hati ini membaca pesan itu.

Nasibku sial saat berlari tadi. Dompet beserta isinya hilang entah jatuh atau di copet barangkali, tapi yang jelas petugas keamanan stasiun tidak tahu setelah dua jam mencari dan diumumkan lewat toa-toa stasiun Jogja namun tak kunjung pula ada orang yang baik hati datang untuk mengembalikan sehingga untuk membeli pulsa dan menelepon balik ibu berharap mendengar suara Melati walau sejenak pun tak bisa, tapi tak apalah, pikirku. Aku cukup senang Melati sudah bersama ibu.

Pagi itu aku kembali pulang tanpanya. Janji kita meleset kali ini, namun ia gantikan dengan kejutan yang aku pun tak tahu seperti apa kejutan itu dibuatnya bersama ibu. Dalam perjalanan pulang, aku membayangkan bagaimana dua belas tahun lamanya kita menjalin kasih, dan tahun inilah waktunya untuk kita mengucap janji suci setelah aku berhasil meyakinkan dan membujuk ibu agar mau untuk merestui hubungan kita. Namun, selama itu pula ia tetap kekeh aku harus menikah dengan Mawar, dokter muda anak sahabatnya.

Aku tak mau dengan Mawar karena hanya Melati lah yang ada di hatiku. Dialah belahan jiwaku, separuh nafasku, dialah satu-satunya wanita pujaanku. Dua belas tahun aku berusaha membujuk ibu, akhirnya luluh juga. Perjuangan yang panjang dan memakan waktu yang begitu lama barulah ibu merestui hubungan kita untuk melanjutkan kejenjang pernikahan.

Tak ada satu katapun yang keluar darinya setelah merestui hubungan kita selain yang itu, “Jagalah apa yang masih ada”. Lamunanku mendadak buyar setelah kereta sampai di Stasiun Senen. Kali ini aku diantar Mang Ojan pulang kerumah sehingga tak harus berlari-lari lagi.
“Assalamu’alaikum, bu. Anakmu pulang.”
“bu, ibuuuuuuu?”
Mungkin kejutan besar penuh kemeriahan yang telah di persiapkan Melati bersama ibu di dalam rumah belum juga selesai, pikirku.
“Wa’alaikumsalam Anwar, anakku.”
Pintu telah dibuka, tak ada kemeriahan apapun yang sebelumnya telah aku bayangkan akan sangat meriah. Sepi dan sangat sunyi. Tak ada suara-suara yang terdengar melainkan suara tangisan ibu yang setiap detik bertambah kencang. Matanya bengkak seperti telah menangis bertahun-tahun lamanya. Aku belum pernah melihat pemandangan mencengkramkan seperti ini.
“Ibu?, Kenapa?”
“Ada apa bu?, jawab bu?, mana Melati?, aku sangat merindukanya bu. Apakah dia tidak merindukanku sehingga tak mau menyambutku disini?”
“Anakku, Anwar..,” sambil memeluk erat tubuhku dan semakin kencang air matanya mengalir.
“Tenangkan dirimu bu. Ada apa?, mana Melati?, Aku ingin sekali bertemu denganya.”
“Ia telah mati nak.”
“Ibu, apa yang kau katakan?”
“Melati telah mati.”
“Ibu?”
“Ia cukup tangguh melawan penyakit kanker otak selama dua belas tahun. Ia memintaku untuk tidak merestuimu karena takut setelah menikah nanti akan banyak merepotkanmu dan pada akhirnya akan meninggalkanmu. Tapi dia tidak tega untuk berkata jujur terhadapmu sehingga meminta bantuan ibu.”
“Ibu?”
“ Melati telah mati nak. Ikhlaskanlah dia. Jasadnya telah tiada namun cintanya selamanya untukmu. Jangan menambah lagi sakitnya, bahkan setelah kepergianya karena kesedihanmu itu nak.”
“Apa maksudnya ini semua?”
“Jagalah apa yang masih ada, nak. Dia menitipkan gaun abu-abu ini tanpa sepengetahuanmu. Katanya kau paling suka melihat dia memakai gaun abu-abu ini. Bersabarlah dan ikhlaskanlah kepergianya, nak.”

Mulutku tak sanggup mengeluarkan kata, nafasku mendadak sesak, pandanganku tiba-tiba gelap, badanku mulai lemas, dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi.
Badanku masih terasa sakit dan aku lihat orang-orang telah mengelilingiku. Tanganku terbalut kain dan telah terpakaikan selang infus. Sayup-sayup aku melihat wajah Mawar sedang merawatku, menyuapiku makan dengan sepenuh hati. Aku merasakan itu. Tiba-tiba bibirnya mendekat ke telinga kiriku dan berbisik, “Aku telah menunggumu selama dua belas tahun lamanya”. Mendengarnya, aku lepaskan perlahan gaun abu-abu itu setelah sebelumnya erat-erat ku pegang.

Related posts