Ejekan Soal Suku Sebetulnya Masih Bisa Ditertawakan
Ndopok

Ejekan Soal Suku Sebetulnya Masih Bisa Ditertawakan 

Indonesia memang terkenal dengan keanekaragaman suku, budaya, bahasa, dan agamanya. Masyarakat Indonesia juga terkenal dengan toleransinya yang tinggi akan perbedaan yang ada, katanya.

Tidak bisa dipungkiri kalau perbedaan itu bisa saja membuat kita kaya akan rasa toleransi atau bahkan sebaliknya. Banyak hal yang menjadi akibat daripada perbedaan itu seperti intoleransi, pertikaian antar suku dan lain sebagainya.

Masih teringat jelas akhir-akhir ini atas permasalahan yang menimpa Tengku Zulkarnain, seorang pendakwah dan juga pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tengku Zulkarnain dianggap mendiskrimasi salah satu suku di Indonesia yaitu Jawa.

Dalam isi ceramah tersebut Tengku Zulkarnain mengatakan bahwa bahwa orang Jawa itu datang nampak hidung dan pulang nampak hidung karena berjalan mundur. Akibat ceramahnya itu dia mendapat kritikan dari netizen Indonesia dan bahkan sempat dilaporkan ke pihak kepolisian oleh Muannas Alaidid Ketua Cyber Indonesia.

Bahkan budayawan Jawas, Sudjiwo Tedjo sempat angkat bicara soal ceramah Tengku Zulkarnain, dalam cuitan di Twitternya, Mbah Tedjo sapaan akrab Sudjiwo Tedjo mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak tersinggung atas ceramah Tengku Zulkarnain.

“Seorang ustadz ramai-ramai dinilai sedang melecehkan suku Jawa melalui ceramahnya, saya sebagai orang Jawa sama sekali tidak tersinggung tuh, Dan malah ngakak. Mari jangan dikit2 lapor polisi. Diikit-dikit lapor polisi. Nanti lama-lama kehidupan antarsuku garing, tanpa canda, tanpa ledek-ledekanan.”

Baca juga: Obrolin Soal Asmara dan Pernikahan Artis Sama Sekali Gak Penting! 

Atas kasus tersebut saya sepakat dengan Mbah Tedjo bahwa Indonesia ini akan garing kalau kita gampang tersinggung atas guyonan antar suku sebagaimana yang dilontarkan Tengku Zulkarnain. Bahkan faktanya bahwa kita sering melakukan hal itu dengan teman dekat kita yang berbeda latar belakang.

Sebagai contoh ketika saya sendiri punya teman yang asal orang Medan saya sering menirukan gaya dan nada berbicara orang Medan dengan dibumbui ejekan begitu juga sebaliknya.

Kita sadar betul bahwa hal itu pernah kita lakukan atau bahkan menjadi tren. Contoh saja ungkapan Jamet atau Jawa Metal. Ungkapan Jamet sudah tidak asing lagi, bahkan ketika seorang yang dianggap punya gaya aneh seperti rambut berwarna pun sering disebut Jamet, ungkapan itu kerap dilontarkan kepada orang yang bahkan bukan asal suku Jawa.

Sebagai orang yang terlahir blasteran Jawa-Sunda saya pun sering sekali mendapati bagaimana orang suku Jawa dan Sunda sering saling guyon soal suku mereka masing-masing. Dan memang hal itu tidak perlu dianggap berlebihan bahkan bisa kita tertawakan. Jadi saya anggap semua suku pun sering saling mengejek dengan takaran guyon tertentu.

Sebagaimana dalam lagu Bang Haji Rhoma Irama yang berjudul Lain Kepala Lain Hati tentu kita menyadari bahwa tiap masing-masing orang punya selera humor yang berbeda, ada yang dikit-dikit tersinggung ada pula yang enjoy dengan candaan yang menyinggung suku.

Baca juga: Kenapa Saya Dilahirkan, Jika Hanya Untuk Disalahkan? 

Related posts