Ditengah Banyaknya Puisi Picisan Masih Ada Puisi Wayang yang Perlu di Apresiasi
Seni dan Budaya

Ditengah Banyaknya Puisi Picisan Masih Ada Puisi Wayang yang Perlu di Apresiasi 

Kebutuhan manusia modern semakin hari semakin berkembang, termasuk kebutuhan akan daya imajinasi yang terus merasa kurang dan haus, maka terkadang orang-orang memainkan imajinasinya untuk menciptakan sesuatu yang indah bahkan unik. Memilah kata untuk kemudian dirangkai menjadi bait yang indah. Puisi lebih sering disebutnya, maka sekarang banyak orang-orang yang menjadikan puisi sebagai alat untuk berdialektika. Mulai dari memanfaatkan puisi sebagai penenang hati sampai menjadikan puisi sebagai alat untuk merajuk Sang Kekasih yang sedang patah karena ulahnya, kerrr kelaukan siapa ni.

Di tengah puisi-puisi yang bersliweran di timeline sosial media, ada puisi yang penuh sarat makna dan akhir-akhir ini sepi peminat ketimbang puisi galau, adalah puisi wayang yang semakin hari kepopulerannya semakin tergerus oleh puisi-puisi picisan penyair receh yang galau karena romansa percintaan anak muda yang kian hari kian rumit. Puisi wayang perlu mendapat sentuhan dan perhatian agar tetap ada sebagai warisan bangsa yang tidak boleh punah.

Asal muasal puisi wayang bermula pada tahun 1980-an yang mengalami kecenderungan “Jawanisasi” tampak kian dominan. Salah satu unsur budaya Jawa yang ikut memberi warna dalam perkembangan sastra Indonesia dalam tiga dasawarsa terakhir itu adalah kesenian wayang kulit. Dalam tiga dasawarsa terakhir ini tercatat perkembangan yang cukup signifikan dalam penciptaan puisi berunsur wayang, baik dalam jumlah karya maupun latar belakang etnik penyairnya. Pada umumnya wayang digunakan sebagai pasemon dalam sastra (fiksi) Indonesia.

Baca juga: Save our education

Salah satu karya sastra yang mengalami Jawanisasi adalah karya sastra puisi, di mana puisi-puisi Indonesia telah menyentuh tahap sana. Banyak sastrawan yang justru tertarik pada kisah-kisah wayang kemudian memasukan cerita wayang ke dalam puisi-puisinya, baik dengan penambahan, pengurangan ataupun penghapusan bagian. Tokoh-tokoh dalam pertunjukan wayang dijadikan objek oleh sebagian sastrawan termasuk Gunawan Maryanto.

Barangkali puisi-puisi picisan yang ada sekarang berkiblat pada puisi-puisi wayang yang ternyata mengisahkan percintaan sudah ada sejak puisi wayang. Nah, pada tulisan ini Rembesmin akan membahas tentang puisi yang bertemakan wayang karya Gunawan Mulyanto.

Puisi-puisi Gunawan sangat beragam, lakon-lakon yang ada seperti Banowati, Surtikanti, Mustakaweni, Satyawati, Amba, dll. jika ditarik benang merahnya keseluruhan puisi-puisi Gunawan membentuk suatu fragmen tragika percintaan, sehingga ketika membaca puisi Gunawan seolah membaca kisah romantika yang dimainkan oleh tokoh-tokohnya. Gunawan yang mengisahkan cerita yang dramatik mengenai cinta bertepuk sebelah tangan, cinta yang terpendam dan kesedihan akan cinta yang diam-diam. Seromantis seperti kisah-kisah muda-mudi sekarang tidak yaa??? Yang sehari galau, sehari senang, sehari nangis, hehehe.

Baca juga: Politikus Pendidikan 

Misalnya pada puisi Surtikanti, Surtikanti adalah puteri raja Mandaraka, yang dicurigai diam-diam menerima ‘tamu’ gelap malam-malam yang wajahnya mirip Arjuna. Karena penasaran dan atas perintah sang Raja, Arjuna pun menyelidiki siapa orang asing itu, dan akhirnya ia berhasil menangkapnya: ternyata dia adalah Suryaputra (artinya: putera Sang Surya, “benih matahari di kedua matanya”) yang di kemudian hari dikenal bernama Karna. Perkelahian sengit pun terjadi antara kedua ksatria itu (yang kemudian direkam dalam sebuah tarian Jawa klasik yang bernama “Karna Tandhing”), dan untung sesaat sebelum Arjuna menghabisi si ‘tamu’, seorang Batara turun untuk melerai keduanya. Surtikanti pun akhirnya kawin dengan si ‘tamu malam’; orang yang dicintainya salama ini. (Hardjowirogo, 1965: 188).

Kisah romantis dalam kisah wayang yang diadaptasi oleh Gunawan merupakan pekerjaan yang penuh tantangan. Mempertahankan nilai-nilai yang ada dalam puisi wayang ke dalam puisi yang padat dan juga kompleks merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Jika pembeharuan mitos sebagai kontrol sosial itu gagal disampaikan, maka nilai-nilai yang terkandung dalam mitos itu akan hilang. Namun, Gunawan sebagai penyair begitu cerdik menyiasati dengan baik dan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur meskipun dalam puisi yang memiliki ruang yang sempit dan jauh lebih sederhana dibandingkan pertunjukan wayang yang sangat kompleks. Meskipun banyak kemungkinan-kemungkinan yang sakit, Gunawan tetap mempertahankan kronologi pertunjukan wayang dalam sebuah pementasan ke dalam puisi pewayangannya yang telah diciptakan. Pada akhirnya usaha-usaha sastrawan tidak lain untuk terus mengembangkan perpuisian di Indonesia termasuk merawat puisi-puisi wayang. Sehingga jika digeluti dan diresapi, puisi-puisi wayang justru lebih hebat dan sarat makna ketimbang puisi picisan konsumsi para Rembesiana, kerrr.

Related posts