Cinta dan Mencintai: Bantahan Dua Opini (Ndopok Tentang Cinta)
Ndopok

Cinta dan Mencintai: Bantahan Dua Opini (Ndopok Tentang Cinta) 

Pada hari-hari dimana dunia pemberitaan tidak pernah absen memberitakan pemberitaan terkait covid-19 nampaknya ada salah satu rembesiana ingin mendobrak pasar media dengan menyajikan berita yang berbeda. Menjadi nilai plus untuk ide yang berbeda tersebut walaupun dalam tulisannya terlihat bagaimana ia tidak memahami betul tentang cinta.

Sampai tulisan berjudul ‘Ternyata Cinta Itu Investasi’ dikomentari oleh Rembesmin yang lain dengan bantahannya, Rembesmin semakin paham bahwa dunia sekarang ini dipenuhi oleh orang-orang yang tidak begitu paham dengan cinta. Namun nilai plus harus tetap diberikan karena itu bagian dari pencarian dan pembelajaran.

Pertama, Rembesmin ingin mengatakan bahwa cinta adalah kata sifat dan mempunyai kata kerja yaitu mencintai. Dalam tulisan ‘Ternyata Cinta Itu Investasi’ dan bantahannya masih berfokus pada kata sifat yang tidak mempunyai makna jika tidak disandarkan pada apa yang disifatinya.

Baca juga: Bantahan atas Tulisan “Ternyata Cinta Itu Investasi” 

Sastrawan besar bernama William Shakespeare pernah bertanya pada murid-muridnya. Kira-kira begini, “What is different of Love and To Love?” Love dalam bahasa Indonesia berarti cinta, sedangkan mencintai dalam bahasa Inggris itu To Love.

Cinta adalah suatu keadaan dimana ada rasa cinta dalam hati kita kepada siapa saja di luar diri kita, bisa Tuhan dan seluruh ciptaanNya. Tapi itu belum mencintai.

Bisa dikatakan mencintai itu ketika cinta itu diterapkan menjadi perilaku yang menyenangkan (dalam hal ini seseorang) siapa saja yang kita cintai tanpa menuntut kembalian.

Layla pernah berkata pada Majnun: aku tidak perlu pernyataan cintamu, yang aku perlu adalah bukti-bukti bahwa kau mencintaiku. Jadi yang diperlukan dunia sekarang ini cinta apa mencintai?.

Jika hanya berfokus pada kata cinta, maka yang terjadi akan ada pikiran bahwa cinta harus berbalas. Cinta itu investasi dan sebagainya.

Contoh kecil pengalaman Rembesmin (saya) saja pada Rembes, sebenarnya saya ini cinta apa mencintai rembes? maka Rembesmin akan jawab bahwa rembes adalah bagian dari saya, bagian dari cinta saya, oleh karena itu pekerjaan saya adalah mencintai rembes. Andaikatapun Rembes tidak mencintai saya itu bukan urusan saya. Yang terpenting adalah bahwa saya mencintaimu dengan bukti-bukti, titik.

Oleh karenanya, seluruh organisasi yang pernah Rembesmin ikuti selama menjadi mahasiswa ya Rembes inilah yang mengajarkan bagaimana cara mencintai.

Kesalahan organisasi mahasiswa yang menjadi cerminan kepemimpinan negara di masa depan adalah mengajarkan bagaimana cinta tapi tidak mencintai. Mengajarkan bahwa kita adalah bagian dari organisasi A. Bukan sebaliknya.

Baca juga: Ternyata Cinta Itu Investasi 

Jika kita mengaku bagian dari organisasi A maka goalnya adalah kita akan terus minta bagian dari organisasi A, entah jabatan, uang, dan macam-macam proyek. Padahal sudah menjadi pengetahuan umum, hancurnya organisasi-organisasi kemahasiswaan adalah karena perebutan jabatan dan kekuasaan. Memuakkan!.

Kalo saya tarik lebih jauh ke negara, kalau bukan karena kita-kita ini yang mencintai indonesia, mencintai sejarahnya, mencintai kebudayaanya ya akan hancurlah negara kita oleh orang-orang yang mengaku paling CINTA NKRI, NKRI HARGA MATI tanpa pernah mencintai, yang pada akhirnya tempat mereka adalah bui karena bilang cinta tapi korupsinya besar-besaran dan seterusnya.

Mungkin pembahasan ini terlalu melebar tapi intinya Rembesmin hanya ingin mengatakan dan mengajak, hayuk mencintai tanpa mengharap kembalian seperti apa yang dicontohkan oleh kedua orang tua kita. Maka, outputnya adalah lebih dari sekedar balasan tapi lebih dalam yakni kasih dan sayang.

Sehingga cinta tidak lagi diibaratkan sebagai investasi dan tidak perlu juga untuk dibantah yang isinya tetap pada seputar cinta. Tidak jauh ke pembahasan bagaimana mencintai yang akan menghasilkan pertalian abadi kasih dan sayang sehidup semati. Dalam Alqur’an berbunyi, sakinah mawaddah warrahmah.

Related posts