Biografi Pramoedya Ananta Toer, Kisah Seorang Pembangkang Paling Masyhur
Tokoh

Biografi Pramoedya Ananta Toer, Kisah Seorang Pembangkang Paling Masyhur 

Profil atau Biografi Pramoedya Ananta Toer; Beliau dikenal sebagai pembangkang paling masyhur pada zamanya yang juga adalah Albert Camus-nya Indonesia. Beliau adalah satu-satunya penulis Indonesia yang berkali-kali menjadi kandidat peraih Nobel Sastra.

Pramoedya Ananta Toer dan karya-karyanya lebih dari sekedar hadiah Nobel atau sejumlah penghargaan lainya yang ia terima dari dunia internasional. Karya-karyanya tak pernah berhenti menginspirasi banyak orang demi memaknai sejarah perjuangan kemanusiaan di tengah berbagai penindasan. Terutama lewat empat novelnya yang terpenting yang ditulisnya semasa menjalani tahanan di pulau Buru. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, merupakan empat novel yang dikenal dengan tetralogi Pulau Buru.

Kisah sepak terjangnya sangat menarik untuk disimak. Berikut profil dan Biografi singkat mengenai Pramoedya Ananta Toer.

Biografi Pramoedya Ananta Toer

Nama Lahir : Pramoedya Ananta Mastoer

Nama Dewasa : Pramoedya Ananta Toer

Nama Panggilan : Pram

Lahir : 6 Februari 1925, Blora, Jawa Tengah, Hindia Belanda

Wafat : 30 April 2006, Jakarta, Indonesis

Orang Tua : Mastoer Imam Badjoeri (Ayah), Oemi Saidah (Ibu)

Istri : Muthmainah

Anak : Astuti Ananta Toer, Tatyana Ananta Toer, Poedjarosmi, Setyaning Rakyat Ananta Toer, Ariana Ananta Toer, Etty Indriarti, Yudisthira Ananta Toer, Anggraini

Biografi Pramoedya Ananta Toer Singkat

Pramoedya Ananta Toer dilahirkan di Blitar tepatnya pada tanggal 6 Februari 1925 dengan nama asli Pramoedya Ananta Mastoer, karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan “Mas” dari nama tersebut dan menggunakan “Toer” sebagai nama keluarganya.

Ibunya bernama Oemi Saidah, ia juga memiliki banyak saudara kandung yakni Soesila Toer, Koesalah Soebagyo Toer, Oemisafaatoen Toer, Prawito Toer, Koenmarjatoen Toer, Soesetyo Toer, dan Soesanti Toer

Masa Kecil Pram

Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Masa Remaja Pram

Pada masa remaja, ia pernah mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia.

Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia.

Penahanan dan Setelahnya

Selama 3 tahun ia dipenjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969, pulau Nusa-Kambangan Juli 1969-16 Agustus 1969, pulau Buru Agustus 1969-12 November 1979, Magelang/Banyumanik November-Desember 1979) tanpa proses pengadilan.

Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun.

Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar.

Akhirnya di tahun 2019 ini sejarah terukir gemilang atas novelnya yang pernah dilarang. Sebagian pembacanya dipenjara. Pengarangnya dipenjara bertahun-tahun tanpa diadili. Lalu dibebaskan tanpa dibersihkan namanya. Tanpa maaf negara terhadap novelis dan keluarganya. Apalagi ganti rugi. Kini novel itu jadi komoditas. Film yang menggegerkan masyarakat Indonesia tak lain diadaptasi dari novel terkenal karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia di Tayangkan di seluruh bioskop Tanah Air pada Kamis 15 Agustus 2019.

Buku Bumi Manusia sendiri pernah dilarang pada 1981 oleh Kejaksaan Agung RI dengan surat larangan nomer SK-052/JA/5/1981. Sejak larangan itu keluar, beberapa orang mahasiswa pernah dipenjara dengan tuduhan menyimpan dan mengedarkan buku. Alasan mendasar beberapa karya Pram dilarang karena ia dikait-kaitkan dengan Lembaga Kesenian Rakyat atau LEKRA, organisasi kebudayaan di bawah Partai Komunis Indonesia.

Novel Bumi Manusia dan lain-lain karyanya yang pernah dilarang kini sudah dijual bebas. Namun surat larangan Kejaksaan Agung itu belum pernah dicabut walaupun peraturan yang menjadi dasar pelarangan buku-buku di Indonesia yang dianggap kiri atau berhaluan komunis sudah dibatalkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi tahun 2010.

Akhir Catatan

Dari tanganya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan internasional, diantaranya: The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsaysay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, The Norwegian Authorurs Union tahun 2003, dan di tahun 2004 mendapat penghargaan Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagos Escobar.

Perlu diketahui pula bahwa sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.

Related posts