Betapa Membingungkannya Pemerintah Saat Ini
Ngresula

Betapa Membingungkannya Pemerintah Saat Ini 

Permasalahan virus corona menjadi ujian untuk semua warga dunia tak terkecuali Indonesia, semua kalangan, di kota maupun desa. Awal kemunculan kasus pertama di Indonesia pada tanggal 2 maret lalu menjadi pertanda bahwa orang Indonesia tidak terbukti aman dari virus corona. Sebelumnya pemerintah pun membusungkan dada lewat menteri kesehatan, Pak Terawan mengatakan bahwa corona adalah penyakit yang bisa sembuh sendiri dan tidak cocok di iklim Indonesia. Hmm. Simpel bukan?

Tidak hanya soal kesiapan Menkes sendiri dalam pencegahan corona di Indonesia, tetapi soal kebijakan-kebijakan pemerintah pusat yang bikin masyarakat kebingungan dan minim informasi diawal kasus pertama. Dimana daerah yang harus dihindari dan mana daerah yang aman buat tetap tinggal. Mungkin masyarakat mulai tahu peta persebaran tersebut ketika virus corona ini sudah menjalar sampai ke daerah-daerah.

Jika sekarang kita mengenal kata social distancing dan psycal distancing, mungkin itu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dimana setiap orang harus menjaga jarak dan membatasi hubungan sosial dengan tetap berada di rumah masing-masing. Namun hal itu bukan berarti tanpa kendala mengingat masih banyak nya para pekerja informal seperti ojek online yang masih harus beroperasi di tengah wabah corona.

Babak selanjutnya, setelah pemerintah menetapkan kebijakan social social distancing dan psycal distancing yaitu pemberitaan soal himbauan untuk tidak pulang kampung dan wacana untuk meniadakan mudik lebaran tahun ini. Kebijakan tersebut pun tak begitu menguntungkan buat para masyarakat menengah ke bawah dan para pekerja dengan hasil harian. 

Baca juga: Hari Kesehatan Dunia; Terima Kasih Tenaga Medis 

Oke, sebelum keadaan memburuk himbauan itu Rembesmin rasa masih baik-baik saja, persediaan makan masih aman, cari makan di perantauan masih belum terlalu sulit dan para pedagang pun masih bisa berjualan meski dihadapkan dengan resiko tinggi akibat banyaknya interaksi dengan para pembeli.

Di tengah masyarakat yang mulai bingung dengan beragam kebijakan pemerintah yang tumpang tindih dan tidak mudah dipahami, pemerintah pusat dan daerah seakan tidak kompak menghadapi pandemik ini, mulai dari Jakarta yang beberapa kali menemui kebuntuan untuk mengatur daerahnya karena tidak diberi restu oleh pemerintah pusat dan beberapa daerah lain seperti Kota Tasikmalaya dan Kota Tegal yang akhirnya tak berkutik setelah menerapkan karantina wilayah dan hanya bertahan beberapa hari.

Cukup mengejutkan juga ketika akhirnya himbauan untuk tidak mudik malah diganti dan bertolak belakang dengan kebijakan di awal. Yaitu membolehkan para perantau untuk pulang kampung dengan catatan ber status sebagai ODP dan harus melakukan isolasi mandiri di rumah. Pertanyaannya apakah masyarakat akan betul menaati apa yang di tetapkan pemerintah? Dan apakah semua masyarakat tahu tentang hal ini?

Sebetulnya tidak terlalu sulit kalaupun ada ataupun tidaknya larangan mudik, pikir Rembesmin orang-orang pasti akan nekad untuk tetap mudik lebaran dengan berbagai cara. Dilema memang ketika pemerintah menghimbau untuk tetap tidak mudik tapi masyarakat masih ngeyel ada yang mudik dan membingungkan juga buat sebagian orang yang sudah manut dengan himbauan pemerintah eeh malah kena prank. Kan ngeselin!

Baca juga: Hari Nelayan Nasional, Sudahkah Nelayan Sejahtera? 

Yang terbaru lagi kini pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang jadi pertanyaan untuk kesekian kalinya, diperbolehkan mudik tapi jalanan ditutup gitu? Kan aneh. Untuk kesekian kalinya pemerintah membuat masyarakat bingung satu kebijakan belum dimengerti dan difahami masyarakat kini pemerintah menerapkan kebijakan baru. Dan parahnya lagi akan ada tindak pidana bagi orang atau masyarakat yang melanggar kebijakan ini. Hmm. 

Akhirnya Rembesmin fikir secara tidak langsung masyarakat sekarang ini dituntut untuk bertahan hidup mandiri tanpa mengandalkan siapapun. Kehadiran negara kini tidak begitu berarti ketika persoalan  kebutuhan primer yang jadi penopang hidup masyarakat sudah tak terfikirkan negara. Pemerintah saat ini hanya berusaha tampil menawan di media dan tak tahu keadaan sesungguhnya.

Related posts