Anak ISIS Dipulangkan ke Indonesia; Keselamatan Atau Kemanusiaan?
Opini

Anak ISIS Dipulangkan ke Indonesia; Keselamatan Atau Kemanusiaan? 

Desas-desus pemulangan anak ISIS asal Indonesia kembali menjadi trending akhir-akhir ini. Hal itu jelas menuai polemik dari berbagai pihak.

Wacana pemulangan anak ISIS telah dicanangkan oleh pemerintah dengan langkah identifikasi terhadap anak-anak yatim piatu berusia dibawah 10 tahun.

Lalu kriteria apa yang termasuk ke dalam identifikasi? Apa semua anak yatim dibawah 10 tahun bebas syarat langsung melenggang ke tanah air?

Barisan kontra jelas langsung berapi-api dengan memberikan argumen yang maha benar, bahwa anak-anak di sana sudah terpapar paham-paham ISIS dan berkemungkinan menyebarkan ideologi yang telah didapat dari lingkungan terdahulu.

Baca juga: Kenapa Makan di Sawah Lebih Enak? Ini Alasannya 

Anak-anak di negara ISIS sudah melihat, merasakan, dan mempraktikkan bagaimana memegang senjata dan baku hantam terhadap sesama. Bukankah mereka berkemungkinan akan melakukan hal yang sama jika telah dipulangkan ke Indonesia?

Pemulangan anak ISIS juga dianggap bukan lagi kepentingan pemerintah, karena baginya orang tua mereka dengan sadar meninggalkan negara dan melepaskan atribut sebagai warga sipil Indonesia untuk berjuang menegakkan kepentingan mereka dan memerangi pemerintah, lantas apalagi yang perlu dilindungi dari anak yang secara hukum telah mendustai negara? Bukankah itu suatu tindakan membuang-buang anggaran negara untuk hal yang jelas-jelas bukan lagi menjadi kepentingan negara?

Selain alasan-alasan tersebut juga baginya, pemulangan anak ISIS juga dapat merenggut keselamatan warga negara Indonesia akan hadirnya anak-anak ISIS yang justru akan menjadi boomerang bagi anak ISIS atas pikulan moral yang akan diterima setelah kepulangannya ke tanah air.

Jelas, justru dengan itu akan menjadi beban moral bagi anak tersebut. Poin yang paling penting adalah, mereka dengan sadar meninggalkan Indonesia untuk berjuang menenggakan paham-paham yang menurutnya tepat mengapa kita perlu risau dan memintanya untuk dipulangkan ke Indonesia yang jelas-jelas mereka sudah aman dan tenteram di sana?

Baca juga: Lunturnya Semangat Sosialisme Kita 

Hal itu jelas tidak seiman dengan barisan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan humanisme. Baginya, anak-anak dibawah 10 tahun hanya menjadi korban kekhilafan orang tuanya yang perlu dibantu dukungan moral dan keamanaan, sehingga menyusul dan memberikan penanganan deredekalisasi terhadap anak-anak yang menjadi korban merupakan jalan yang tepat menurutnya.

Hal itu sejalan dengan pendapat bahwa anak berusia dibawah 10 tahun masih bisa diselamatkan ideologinya dan diajarkan nilai-nilai pancasila yang merupakan nilai yang dianut oleh Indonesia. baginya anak ISIS yang berusia dibawah 10 tahun tidak semuanya terpapar paham ISIS yang memang harus diselamatkan, namun jelas harus melalui tahap identifikasi yang ketat.

Ada hal yang lebih penting dari ego dan ambisi yaitu nilai kemanusiaan. Menyelamatkan barisan korban dalam hal ini anak-anak yang sebenarnya tidak sesuai keinginannya dan hanya menjadi korban ambisi orang tua jelas perlu dilindungi dan dituntun ke ideologi yang menurut pemerintah Indonesia tepat. Mereka percaya, bahwa anak-anak itu tidak memiliki kesempatan memilih, mereka hanya dipaksa mengamini dan mengikuti kehendak orang tuanya.

Lantas menurut Rembesiana kepulangan anak ISIS ke Indonesia merupakan keselamatan atau kemanusiaan? Keduanya sudah jelas memiliki konsekuensi masing-masing yang besar kecilnya akan ditanggung bersama-sama, atau jangan-jangan cuek adalah jalan yang aman bagi Rembesiana yang budiman?

Related posts