Akankan Virus Covid-19 Bernasib Seperti Flu Spanyol?
Sinau

Akankan Virus Covid-19 Bernasib Seperti Flu Spanyol? 

Sejak pertama kali dikabarkan pada tanggal 31 Desember 2019 virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemic Covid-19 saat ini memiliki tingkat pesebaran lebih tinggi daripada SARS yang disebabkan oleh virus SARS-associated coronavirus (SARS-CoV). Virus SARS ini hanya menginfeksi sekitar 8.098 orang di 26 negara berdasarkan rilis dari WHO. Lantas, mengapa virus corona yang baru ditemukan dapat menginfeksi lebih banyak manusia dan sangat cepat menyebar?

Menurut hasil penelitian terbaru, protein yang terkandung dalam Virus corona SARS-CoV-2 memiliki daerah khusus yang lebih padat yang membuatnya lebih mudah menempel pada sel manusia sehingga memiliki kemampuan menginfeksi dengan baik dan mampu menyebar dengan cepat. Biarpun setiap jenis virus corona, termasuk yang menyebabkan SARS dan MERS menempel melalui pada sel manusia melalui spike protein, akan tetapi struktur protein yang berbeda.

Hingga terakhir tulisan ini ditulis, menurut informasi dari COVID.GO.ID, negara yang telah terinfeksi virus corona SARS-CoV-2 sejumlah 216, dengan jumlah kasus terkonfirmasi 4.589.529 kasus dan kasus kematian sejumlah 310.291 orang. Hal itu tentu jumlah yang sangat banyak hanya dalam kurun waktu lebih kurang 5 bulan selama pandemi ini muncul.

Baca juga: Problematika Minat Baca Masyarakat Indonesia 

Hal yang sama pernah terjadi pada virus yang saat ini telah umum menyerang manusia adalah virus influenza yang membunuh jutaan orang dengan Flu Spanyol ini. Tidak ada negara yang lupt dari serangannya. Hingga dahsyatnya virus ini virologis Amerika Serikat; Jefefery Taubenberger menyebut Flu Spanyol sebagai “The mother of all pandemics” yang berarti “Ibu dari semua Pandemik”

Flu Spanyol yang diyakini para peneliti telah menewaskan 40 sampai 50 juta orang dalam dua tahun antara tahun 1918-1920. Jumlah itu lebih banyak dari orang yang gugur pada Perang dunia I. Namun, dari pandemi Flu Spanyol dunia seakan belajar dari masa-masa sulit yang telah dialaminya, hasil belajar dari kesatuan dunia telah melahirkan perubahan-perubahan diantaranya adalah perasaan anti-penjajahan dan kerja sama secara internasional meskipun pada saat itu dunia masih menghadapi masalah geopolitik pasca Perang Dunia I.

Tahun 1923, League of Nations yang merupakan badan sebelum PBB, meluncurkan Health Organisation sebagai teknis yang menciptakan system pengawasan baru epidemi dunia dan dijalankan oleh ahli kesehatan.

Baca juga: Iluminasi Manuskrip Al-Qur’an Jawa

Selain sikap kerjasama, Flu Spanyol juga menjadi salah satu pemicu kemajuan kesehatan masyarakat terkait dengan perkembangan kedokteran kemasyarakatan. Terbukti pada tahun 1920, yang merupakan masa-masa pandemi Flu Spanyol, Negara Rusia menjadi negara pertama yang mendirikan sistem kesehatan umum terpadu. Informasi ini berdasarkan hasil riset jurnalis BBC World Service Fernando Duarte.

Selain kemajuan dalam dunia kesehatan, Flu Spanyol juga mampu mengubah paradigma masyarakat mengenai status gender secara besar-besaran. Menurut Peneliti Texas A&M University, Christine Blackburn mengemukakan bahwa kekurangan tenaga kerja laki-laki di Amerika Serikat membuka kesempatan kepada kaum wanita. Sehingga pada tahun 1920, Kongres meratifikasi Amandemen ke-19 yang memberikan hak kepada perempuan Amerika Serikat, dan para tenaga kerja diuntungkan dengan peningkatan upah karena tenaga kerja yang langka.

Hingga saat ini kita dihadapkan dengan krisis akibat Covid-19 yang telah melumpuhkan kondisi ekonomi seluruh penjuru dunia, akankah virus corona dapat belajar pada pandemi Flu Spanyol yang pada akhirnya memicu kemajuan-kemajuan dunia dalam quarter waktu tertentu?

Related posts