5 Gaya Penjilidan Naskah Kuno Nusantara Menurut Plom
Seni dan Budaya

5 Gaya Penjilidan Naskah Kuno Nusantara Menurut Plom 

Naskah Kuno atau Manuskrip merupakan warisan budaya yang merekam berbagai macam informasi dan pengetahuan masyarakat terdahulu.

Di Indonesia, warisan budaya yang berbentuk naskah kuno jumlahnya sangat banyak yang tersebar di berbagai wilayah dengan bermacam-macam bentuk yang sangat bervariasi.

Bentuk naskah kuno di Indonesia memiliki ciri-ciri khusus pada bagian sampul, seperti hiasan dan desain yang terdapat pada bagian depan sampul naskah tersebut. Hal ini tidak lepas dari bagaimana tradisi penjilidan tradisional di Indonesia.

Menurut Plom dalam artikelnya tahun 1993 berjudul “Traditional Bookbindings from Indonesia: Materials and Decorations”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 149 (3). 571-592, ada lima gaya penjilidan naskah kuno nusantara berdasarkan wilayahnya. Pertama, penjilidan gaya Jawa Tengah (1815-1830). Penjilidan naskah ini beberapa di antaranya tidak memiliki penutup seperti pada amplop atau bisa juga disebut flap di sampul belakang. Sampulnya tipis, berbahan kulit yang lembut, berwarna coklat terang. Kertasnya menggunakan kertas Eropa dan dluwang.

Baca juga: Salah Kaprah Memahami Hadis “Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah” 

Kedua, Bangkalan, Madura Barat (1891-1892). Ciri khas penjilidan Bangkalan yaitu tipis, halus, berwarna coklat dengan kulit yang padat membungkus sampul depan dan belakang. Di dalam penjilidan yang menempel ke tumpukan kertas garisnya berwarna biru (spine) dan beberapa penjilidan memiliki tali berwarna merah, oranye dan biru, merah dan oranye (endband) pada hiasannya. Teksnya menggunakan kertas Eropa dan dluwang.

Ketiga, Banten, Jawa Barat, akhir abad 17 hingga awal abad 18. gaya penjilidan naskah Banten memiliki flap pada sampul belakang. Berbahan kulit lembut dengan kulit warna coklat. Kertas sampul bagian dalamnya folio. Di dalam penjilidannya ada garis double (doublure hinge). Teksnya ditulis di atas kertas Eropa dengan tali yang menempel di penjilidannya (endband). Dihiasi dengan hiasan timbul tanpa warna.

Keempat, Palembang, awal abad ke-19. Tipenya mengambil contoh dari penjilidan Banten. Desainnya mengikuti lingkungan alamnya. Penjilidannya memiliki flap pada sampul belakang dengan warna kulitnya coklat hingga di dalam sampulnya terdapat kertas berwarna coklat.

Baca juga: Ramadan dan Tradisi Tong-tong Prek yang Kian Tergerus 

Kelima, Minangkabau, Sumatera Barat (1800-1870). Penjilidannya terdapat flap. Terdapat juga bingkai bergaris-garis dengan desain warna kuning dan hitam. Masih diperkirakan warna berasal dari daun yang berwarna emas.

Menurut M. Plom, kelima tipe penjilidan di atas memiliki persamaan dan perbedaan dalam hal desain, hiasan, hingga penjilidannya.

Perlu diketahui, di samping sebagai dokumentasi budaya, naskah kuno juga bisa dijadikan objek pengajaran untuk mengambil nilai-nilai dan kandungan di dalamnya. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan dalam merelevansikan nilai kebaikan yang ada di masa lampau untuk diterapkan hari ini.

Related posts